Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa

Joko Sumaryono, Lc.

Kilas Balik Sejarah
Pentas sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tak pernah sepi dari teriakan dan kobaran semangat kaum muda anak bangsa ini. Dari Sabang sampai Merauke genderang perlawanan terhadap imperialisme ditabuhkan. Seolah tak peduli dengan tetesan darah dan air mata yang harus mengalir, yang penting nusantara tercinta harus segera dihantar ke gerbang kebebasan dan kemerdekaan. Perjuangan berat dan melelahkan itu pun akhirnya melabuhkan kemenangan. Tepat pada hari Jumát 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. “Merdeka” itulah satu kata yang penuh getar terucap dari lisan yang diiringi kepalan tangan penuh semangat menggelora.

Gerbang kemerdekaan dan kebebasan yang telah terbuka di depan mata, ternyata bukan perjuangan singkat. Daftar pejuang dan pahlawan nasional yang kita baca dalam literatur sejarah, adalah salah satu bukti perjalanan panjang tersebut. Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Fatahillah, serta sederetan nama lainnya telah mengukir sejarah Indonesia dengan tinta emas. Mereka telah membaktikan kiprah mereka untuk membangun republik ini. Begitu pula dengan peran yang telah disumbangkan oleh kelompok cendikiawan dan kaum terpelajar diawal abad ke-20 yang nanti pada akhirnya menjadi cikal bakal perjuangan nasional.

Tanggal 20 Mei 1908, bisa dicatat sebagai pondasi awal pergerakan mahasiswa Indonesia dalam struktur dan mekanisme organisasi modern. Sejumlah pelajar dan mahasiswa yang sedang belajar di STOVIA saat itu, merasa perlu membangun sikap kritis terhadap kondisi bangsa Indonesia yang masih terbelenggu rantai penjajahan. Keresahan mereka untuk membangkitkan kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, mendorong mereka untuk mendirikan Boedi Oetomo. Pergerakan yang mereka munculkan berkembang pesat, bahkan hanya dalam satu tahun tepatnya di akhir tahun 1909 Boedi Oetomo telah memiliki 40 cabang dengan jumlah 10.000 anggota.
Pergerakan mahasiswa Indonesia pada dekade itu ternyata tidak hanya berkembang didalam negeri saja. Di Belanda, Mohammad Hatta yang pada saat itu sedang belajar di Handelshogeschool Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeninging pada tahun 1922 dan pada akhirnya berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1925. Hatta bersama kawan-kawannya saat itu sangat intens melakukan berbagai diskusi.

Selain Boedi Oetomo dan Indische Vereeninging yang dipelopori kelompok mahasiswa dan kaum terpelajar, pergerakan bangsa ini pun juga diwarnai dengan munculnya Indische Partij yang menekankan prioritas perjuangan mereka untuk melontarkan propaganda kemerdekaan. Diwaktu yang bersamaan Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama serta Indische Sociaal Democratische Vereeninging yang berhaluan marxisme juga ikut bergelut dalam medan pergerakan dan perjuangan meraih kemerdekaan.
Lahirnya Boedi Oetomo, Indische Vereeninging, dan gerakan terorganisir lainnya pada saat itu, adalah satu episode penting permulaan sejarah Indonesia yang ditandai dengan tampilnya generasi pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai garda terdepan. Estafet perjuangan terus bergulir seperti bola salju yang terus menggelinding, semakin lama semakin membesar. Kesadaran akan persatuan dan kesatuan bangsa untuk bangkit meraih kemerdekaan terus terpatri. Perbedaan suku, bangsa dan bahasa akhirnya melebur setelah sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan.

Prototipe Pergerakan Mahasiswa
Dalam perjalanannya, romantisme pergerakan mahasiswa tidak bisa lepas dari dua segmentasi dasar perjuangan. Seyogyanya dua sisi ini menyatu dalam diri seorang mahasiswa sehingga tercipta tokoh pergerakan yang cerdas dalam tataran konsep dan idealisme, sekaligus cakap mengarahkan arus pergerakan ditengah-tengah perubahan kehidupan sosial yang bergerak sangat cepat.

Pertama, mahasiswa sebagai kelompok elit masyarakat berbasis intelektual dan wawasan yang mumpuni, terus bergerak menggali berbagai potensi kecendikiaan. Intelektual muda dengan latar belakang sains yang berbeda adalah ciri utama mereka. Segala sesuatunya harus dukur dengan standarisasi rasional. Diskusi dan tukar fikiran adalah aktivitas harian yang selalu hangat dalam setiap obrolan. Mereka terus bergerak dalam poros pergerakan intelektual dan dunia akademis yang terus berkembang. Oleh karenanya prestasi akademis harus terus dipacu. Berbagai spesialisasi bidang ilmu harus melahirkan para doktor dan tenanga ahli yang tahan uji.

Kedua, Sosok mahasiswa adalah individu yang tidak terpisahkan dari komunitas sosial kemasyarakatan. Dinamika sosial pun sudah tentu harus menjadi dinamika mereka. Sangat naif jika seorang mahasiswa tidak pernah memberikan kontribusi positif buat masyarakat disekitarnya. Apalagi jika tidak pernah berinteraksi serta tidak peduli. Seorang mahasiswa dalam tataran ideal harus menjadi aktor utama perubahan dan pergerakan sosial. Inderanya selalu peka dengan perubahan sekitar, ia selalu terpanggil untuk memberikan solusi. Bahkan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan pun mereka tidak gentar untuk meneteskan peluh dan darah mereka demi membebaskan republik ini dari belenggu penindasan dan penjajahan.

Saya kira siapapun tidak berbeda pendapat tentang dua dimensi dasar karakter pergerakan dan perjuangan mahasiswa diatas. Namun kita akan mulai berbeda pendapat ketika dihadapkan pada realita pluralisme ideologi dan kepentingan yang diusung sebuah pergerakan apapun. Begitu juga dengan pergerakan mahasiswa sepanjang sejarah bangsa ini juga tidak bisa dilepaskan dari pergolakan dan pertarungan ideologi yang diusungnya. Terkadang kepentingan pada saat-saat tertentu atau kondisi yang mengharuskan, membuat gerakan mahasiswa tidak bisa dilakukan dalam satu pola saja.
Sejarah mencatat, rentang waktu antara tahun 1920 – 1945 gerakan mahasiswa hanya terkonsentrasi pada diskusi-diskusi seputar diskursus kebangsaan seperti yang dilakukan oleh Soetomo yang mendirikan Indonesische Studie-club pada tanggal 29 Oktober 1924. Atau apa yang dicetuskan Soekarno dan beberapa rekannya di Sekolah Tinggi Teknik Bandung yang berhaluan nasionalis ketika mendirikan Algemeene Studie-club pada tanggal 11 Juli 1925.
Mari kita coba bandingkan tatkala pergerakan mahasiswa memasuki era 45-an. Sikap penjajah Belanda yang liberal akhirnya melatar belakangi perubahan kebijakan pergerakan dari kelompok studi dan kajian menjadi kekuatan politik dalam bentuk partai dengan tujuan untuk memperoleh basis massa yang lebih luas. Penjajah Belanda cukup memberikan kebebasan bergerak yang cukup pada saat itu. Situasi akhirnya berbeda ketika Jepang berkuasa. Pergerakan mahasiswa yang sudah mengarah kepada pergerakan politik di berangus oleh Jepang. Kegiatan dan aksi yang berbau politik dilarang. Seluruh organisasi pelajar dan mahasiswa dibubarkan sehingga sempat terjadi insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang berujung ketika beberapa mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.

Praktis, akibat situasi yang tidak kondusif untuk melakukan pergerakan massif dan terbuka akhirnya mayoritas pergerakan mahasiswa kembali terfokus kepada kelompok studi dan kajian strategis dengan mengambil tempat asrama-asrama mahasiswa sebagai pusat kegatan. Tercatat dalam sejarah, ada tiga asrama mahasiswa yang terkenal berperan besar melahirkan sejumlah tokoh nasional era 45-an. Tiga asrama itu adalah asrama Menteng Raya, asrama Cikini dan asrama Kebon Sirih. Barangkali nama Chairul Saleh dan Sukarni yang terkenal dalam sejarah dengan peristwa Rengasdengklok, adalah mereka yang mewakili era gerakan bawah tanah pada saat itu.

Pasca kemerdekaan spirit pergerakan mahasiswa mulai berubah haluan. Banyak aksi mahasiswa berlindung dibawah payung partai-partai politik. Persoalannya bukan berarti gerakan mahasiswa tidak boleh berafiliasi kepada ideologi atau partai tertentu. Yang menjadi masalah adalah, ketika fanatisme kelompok diangkat diatas kepentingan nasional bangsa ini. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) lebih dekat dengan PNI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan partai NU, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dekat dengan PSI atau Himpunan Mahasiswa Islam yang saat itu dekat dengan Masyumi.

Gerakan Mahasiswa dan NKK/BKK
Kontribusi gerakan mahasiswa terhadap pembangunan bangsa pasca kemerdekaan sampai tahun 1978 sangat nyata. Bahkan orde baru yang baru saja runtuh, kelahirannya di bidani oleh gerakan mahasiswa yang dikenal dengan sebutan angkatan ’66. Para aktivis mahasiswa era ini akhirnya menjadi tokoh nasional dan pemegang kebijakan pemerintahan. Beberapa nama seperti Akbar Tanjung, Cosmas Batubara dan Sofyan Wanandi adalah tokoh nasional yang mewakili angkatan 66.

Namun realitas berbeda ketika memasuki era 70-an. Orde baru yang berkuasa saat itu mulai mendapatkan kritikan dan protes mahasiswa. Konfrontasi fisik pun tak terelakkan. Orde baru yang didukung militer berusaha menjadi tameng orde baru. Mahasiswa menilai Golkar sudah mulai melakukan kecurangan. Bahkan beberapa kebijakan pemerintah sudah dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil. Privatisasi dilakukan disana sini. Imbasnya lahir gerakan ‘Mahasiswa Menggugat’ yang dipelopori Arif Budiman serta Wilopo yang membentuk Komite Anti Korupsi.

Sampai tahun 1974 berbagai peristiwa terjadi. Akibat kekecewaan terhadap pemerintah, lahirlah Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dipelopori oleh Arif Budiman dan Adnan Buyung Nasution dan puncak kekecewaan tersebut terjadi pada peristiwa Malari pada tanggal 15 Januari 1974. Mahasiswa pada saat itu harus berhadapan dengan kekuatan militer yang ditunggangi pemerintah yang berkuasa. Akhirnya nyaris pasca peristiwa tersebut blantika pergerakan mahasiswa sepi.

Akhirnya gerakan massif mahasiswa terjadi lagi pasca pemilu 1977, sampai pemerintah membentuk tim dialog pemerintah yang akan berkampanye di perguruan-perguruan tinggi. Saat itu kampus-kampus diduduki oleh militer. Puncaknya adalah dikeluarkannya SK No.0156/U/1978 tentang NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Penerapannya dilakukan secara paksa oleh pemerintah. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim.

Akibatnya, peran dan gerakan mahasiswa dalam skala intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan komunikasi politik menjadi lumpuh. Mahasiswa semakin apatis sementara rezim penguasa semakin kuat. Akhirnya pergerakan mahasiswa banyak menyusup kedalam gerakan-gerakan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat yang dianggap tidak tersentuh kekuatan refresif penguasa.

Harapan kembali muncul ketika NKK/BKK dihapuskan oleh Mendikbud Fuad Hasan diawal 90-an. Sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) yang menyatakan bahwa hanya Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang diakui sebagai organisasi intra kampus. SMPT membawahi SMF (Senat Mahasiswa Fakultas) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Pro kontra tidak sedikit terjadi karena konsep ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep NKK/BKK sebelumnya.

Ternyata gerakan perjuangan mahasiswa pasca kemerdekaan justru selalu berhadapan dengan rezim penguasa. Status quo yang begitu kuat sangat sulit diruntuhkan karena penguasa di back up oleh militer yang seharusnya netral. Ketika kita balik lembar sejarah bangsa ini, ternyata pergerakan mahasiswa kembali mencapai puncaknya ketika rezim orde baru berhasl diruntuhkan pada tanggal 22 Mei 1998 yang dikenal dengan gerakan reformasi.

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa Menurut Perspektif ‘Saya’
Saya sebenarnya tidak ingin memberi penilaian terhadap kontribusi pergerakan mahasiswa Indonesia sepanjang sejarahnya. Namun dari realita yang ada, saya terpaksa harus mengatakan bahwa pergerakan mahasiswa selalu bergerak dari pondasi yang keropos. Isu yang selalu bisa menyatukan adalah ketika mereka harus berhadapan dengan common enemy (musuh bersama). Seperti yang dilakukan gerakan mahasiswa pra kemerdekaan melawan penjajah dan tatkala mereka harus secara bersama meruntuhkan tembok orde baru yang korup.

Sayangnya, idealisme murni pergerakan mereka sangat mudah tercemari pasca aksi bersama. Terlebih ketika harus berhadapan dengan kedudukan dan janji-janji materil yang menggiurkan. Menurut saya, hal ini adalah salah satu bentuk kemunafikan pergerakan. Akibatnya, proses pembangunan peradaban akan semakin lambat menuju puncaknya. Kita perlu menemukan solusi serius kearah itu dan merupakan suatu hal yang tidak mustahil untuk dilakukan.
Ketika kita berbicara tentang reformasi pergerakan maka sebanarnya kita sedang membicarakan karakteristk dasar seorang aktivis pergerakan sejati. Dan ketika kita ingin membincangkan reformulasi gerakan maka sejujurnya kita sedang membicarakan cita-cita luhur seorang aktivis pergerakan sejati. Agar pergerakan mahasiswa selalu positif dan terarah, maka menurut saya perlu dibangun terlebih dahulu karakter dan keperibadiannya. Nilai-nilai kebaikan universal harus terbentuk terlebih dahulu. Kejujuran, kerja keras, solidaritas, kematangan emosional, kematangan spiritual, dan sebagainya harus terbina dengan baik. Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah sebuah pergerakan semu yang dihiasi dengan kepentingan-kepentingan sesaat.

Oleh karenanya, saya lebih cenderung untuk menerapkan teori pembinaan pribadi menurut perspektif Islam sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabat-sahabatnya. Hal ini dapat kita buktikan dengan keberhasilan Rasulullah saw melakukan perubahan-perubahan besar sejarah manusia yang masih kita rasakan pengaruhnya hingga hari ini. Kurun waktu yang relatif singkat dalam akumulasi masa 23 tahun ternyata begitu kokoh dan mengakar sebagai pondasi peradaban Islam hingga hari ini.

Pembinaan tiga dimensi diri yang meliputi fisik, spritualitas dan intelektualitas secara terencana dan terevaluasi adalah solusi kongkrit untuk melahirkan aktivis pergerakan mahasiswa yang maju dan modern. Ketimpangan salah satu sisi diatas justru akan melahirkan sosok aktivis mahasiswa yang berkepribadian hipokrit. Disamping itu, formulasi pergerakan pun harus jelas. Formulasi meliputi tahapan-tahapan kerja, tujuan dan target baik tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Gerakan pun harus diarahkan kepada pencapaian target membangun masyarakat madani yang beretika, berilmu dan maju. Menurut saya, jika hal itu belum mampu kita formulasikan maka gerakan apapun sifatnya akan selalu berumur pendek. Wallahu a’lam.

Golongan Putih (golput);

@ Joko Sumaryono, Lc

Menurut saya, menjalani kehidupan pada hakikatnya adalah menjalani pilihan-pilihan. Dan mustahil ada kata ‘abstain’ agar kehidupan bisa terus berlangsung secara dinamis dan berkesinambungan. Dulu, ketika kita masih kecil, setiap kali mau makan ibu kita selalu menawarkan misalnya: “kamu mau makan ikan goreng atau telur rebus?” Apa yang akan terjadi jika jawaban kita misalnya: ”saya tidak mau makan apapun! ikan tidak, telur juga tidak”. Karena bagi kita ikan banyak tulangnya sehingga kita takut, atau bagi kita telur rebus itu baunya amis dan sebagainya. Paling tidak kita pasti memlih pilihan lain selain ikan dan telur untuk dimakan agar perut kita tidak sakit karena lapar.

Dalam konteks kehidupan sosial yang makro dan plural, yang secara spesifik terkait dengan pengelolaan negara, kita semakin tidak bisa lari dari realitas bahwa memilih untuk tidak memilih sesuatu maka itu juga disebut sebagai sebuah pilihan. Dan disadari atau tidak, masing-masing pilihan tersebut akan membawa arah perubahan yang signifikan. Bisa jadi, perubahan kearah yang lebih baik atau sebaliknya. Bahkan kita tidak akan mampu keluar dari lingkaran itu dengan alasan apapun. Dan jika masing-masing pihak saling memaksa, maka yang akan terjadi adalah negara hanya akan dipimpin dari satu rezim kudeta ke rezim kudeta berikutnya, atau dari seorang diktator ke diktator lainnya.

Menurut saya, pilihan untuk golput adalah pilihan yang kurang bijaksana dan refleksi dari sikap arogansi, perfeksionis dan munafik. Kenapa demikian? Karena sikap arogan pada dasarnya adalah perwujudan dari ketidakmampuan seseorang untuk berinteraksi dengan realita. Orang yang arogan biasanya cendrung memaksakan dirinya berangkat dari idealita, dan selalu mencaci maki realita disekelilingnya. Padahal alangkah baiknya jika idealita itu terus berjalan dan dijalankan tanpa harus bertabrakan atau menabrakkan diri dengan realita.

Sedangkan sifat perfeksionis, adalah sikap ingin mengukur segala sesuatunya dengan ukuran atau standar dirinya. Kita bisa melihat karakter orang yang perfeksionis misalnya; sering menganggap orang lain tidak benar dalam melakukan sesuatu menurut standarnya, mudah menyalahkan orang lain, tidak pernah bisa menentukan pilihan dengan tepat, mudah ragu atas pilihan-pilihan yang telah diambilnya dan biasanya cendrung untuk berpindah kepada pilihan yang lain sehingga akhirnya bingung untuk memutuskan apa, dan terakhir adalah sering merasa tidak puas dengan apa yang telah dilakukan oleh orang lain atau dirinya sendiri sehingga menyebabkan orang seperti ini tidak pernah merasakan bahagia dalam hidupnya.

Sedangkan sifat munafik adalah sifat yang penuh kepalsuan dengan cara menuntut orang lain untuk selalu benar, padahal dirinya sendiri banyak melakukan kesalahan seperti yang dituntutkan kepada orang lain. Dan karakternya pun sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw seperti; selalu berbohong, mudah ingkar janji, dan selalu melanggar kepercayaan. Namun demikian, kita juga tidak bisa mengukur kemunafikan seseorang semata-mata dari sikap golput yang ia tonjolkan. Bisa jadi, hal itu merupakan kesimpulan dari proses pemikiran yang sudah dilakukannya.

Dalam bingkai kehidupan bernegara, pemilu setiap lma tahun sekali hanyalah salah satu sarana sarana untuk memilih kepemimpinan, yang dilembagakan untuk menggantikan kenabian guna melindungi agama dan mengatur dunia (Al Mawardi, Al Ahkam As Sulthoniah, halaman 3). Terkait Diskursus mengenai wajibnya imamah karena pertimbangan akal atau karena hukum agama, Al Mawardi menegaskan posisinya bahwa institusi imamah (kepemimpinan) berasal dari perintah agama melalui konsensus (ijma).

Dasar pemikiran Al Mawardi sebagai salah seorang pemegang dokumen kunci dalam evolusi pemikiran politik Islam menyimpulkan, wajib taat kepada pihak yang berkuasa, tidak peduli apakah penguasa itu baik atau jahat. Mencermati pemikiran Al Mawardi diatas, kita akan sampai pada satu kesimpulan, bahwa pengangkatan kepala negara wajib menurut hukum agama. Ikatan antara agama dan dunia atau antara agama dan kekuasaan politik menciptakan wibawa kedaulatan negara yang ditaati serta memiliki wibawa untuk melindungi kemaslahatan rakyat.

Al Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin jilid I halaman 31 menempatkan agama dan politik seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Agama adalah dasar, dan kekuasaan politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan suatu dasar tanpa penjaga akan hilang.

Menelusuri pemikiran Ghozali sebagai seorang tokoh sufi dan bukan sosok seorang politikus, kita akan memasuki sebuah paradigma yang menyimpulkan “bahwa ketertiban dunia merupakan keharusan untuk ketertiban agama. Maka agama dan kekuasaan politik merupakan hubungan simbiotik yang harus selalu berjalan seiring dan tidak harus berbenturan, baik dari sisi validitas dalil yang mendukungnya, atau dari sisi praktis ketika diterjemahkan dalam konteks perpolitikan yang bersih dan beretika.

Dalam konteks kemesiran, potensi golput bisa jadi cukup besar. Terbukti pada pemilu tahun 2004 yang lalu, hanya setengah dari sekitar empat ribu Masisir yang mendaftarkan diri sebagai peserta pemilu. Dari yang terdaftar pun nyatanya tidak semua yang pergi memilih. Bahkan dari yang pergi memilih, juga tidak sedikit yang abstain.

Menurut saya, memilih atau tidak memilih adalah hak privacy seseorang yang bebas ia gunakan. Tapi mari kita coba pahami kembali dengan baik normative value yang diajarkan oleh alquran dan sunnah yang dijabarkan dan dikembangkan oleh para ulama sepanjang perjalanan sejarah. Jangan sampai kita terjebak dengan sudut pandang parsial yang selalu mensejajarkan aktifitas politik dengan aktifitas kejahatan yang terselubung. Atau pandangan yang melihat politisi tidak lebih dari gerombolan manusia pragmatis yang selalu larak lirik mencari kepentingan pribadi atau golongan.

Dunia politik dengan segala intriknya, mestinya tidak membuat kita sebagai mahasiswa merasa phobi apalagi sampai tingkat yang lebih ekstrim; mengharamkan. Tapi justru, dunia itu harus dimasuki dengan berbekal idealisme, pengetahuan dan wawasan serta ketundukan kepada ajaran-ajaran tuhan yang selalu diletakkan diatas segala-galanya. Kita harus belajar mengaplikasikan teori yang kita dapat untuk melakukan perubahan, pencerahan, dan pembelajaran. Bukan lari dari kenyataan dan bermimpi diruang-ruang sempit berharap perubahan akan terwujud secara tiba-tiba.

Gerakan mahasiswa Indonesia pra kemerdekaan dapat kita contoh sebagai dinamika pergerakan politik yang bertujuan mewujudkan kemerdekaan. Tanggal 20 Mei 1908, bisa dicatat sebagai pondasi awal pergerakan mahasiswa Indonesia dalam struktur dan mekanisme organisasi modern. Sejumlah pelajar dan mahasiswa yang sedang belajar di STOVIA saat itu, merasa perlu membangun sikap kritis terhadap kondisi bangsa Indonesia yang masih terbelenggu rantai penjajahan. Keresahan mereka untuk membangkitkan kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, mendorong mereka untuk mendirikan Boedi Oetomo.

Pergerakan mahasiswa Indonesia pada dekade itu ternyata tidak hanya berkembang didalam negeri saja. Di Belanda, Mohammad Hatta yang pada saat itu sedang belajar di Handelshogeschool Rotterdam, mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeninging pada tahun 1922 dan pada akhirnya berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1925. Hatta bersama kawan-kawannya saat itu sangat intens melakukan berbagai diskusi untuk membincangkan strategi kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Kita, sebagai mahasiswa hari ini tidak lagi harus membicarakan bagaimana Indonesia lepas dari imperialisme. Tapi perjuangan kita lebih khusus harus diarahkan kepada usaha untuk mengisi kemerdekaan tersebut dengan idealisme dan fikiran kita pada hari ini. Belajar, berdiskusi ilmiah, melengkapi diri dengan skil, berorganisasi, dan sebagainya adalah garis perjuangan kita pada hari ini. Dan bagi saya, berpolitik praktis juga termasuk garis perjuangan mahasiswa pada hari ini. Apakah kita akan membiarkan bangsa ini terus dipimpin oleh mereka yang secara fisik sudah tidak mampu lagi, atau secara moral sudah terbukti korup?

Terkadang saya berkhayal, alangkah dinamisnya jika gerakan mahasiswa diarahkan kepada kompetisi positif yang berwibawa dan bersahaja. Semua mahasiswa memainkan peran aktifnya. Partai politik yang eksis tidak harus satu atau dua, lebih dari itu akan semakin memperkaya dinamika. Karena dengan demikian akan selalu terwujud proses dialektika politik yang sehat, kontrol politik yang beretika dan pada akhirnya mempercepat tingkat kematangan berfikir kita.

Bahkan saya sangat berharap, kawan-kawan masisir yang pada hari ini sibuk dengan aktifitas kuliah, talaqi, kursus, berorganisasi, berbisnis dan sebagainya, ketika pulang ke tanah air harus ada sebagian yang mampu menggantikan kursi bapak-bapak dewan dan tokoh-tokoh pemimpin yang sudah tidak sanggup lagi duduk berlama-lama untuk membincangkan persoalan rakyat, sudah kehabisan ide kreatif untuk membangun masyarakat, bahkan mereka juga seharusnya sudah berfikir untuk melakukan regenerasi kepemimpinan kepada kaum muda yang lebih cerdas, sehat dan kreatif agar proses pembangunan bangsa bisa bergulir cepat.

Dinamika masisir yang sarat dengan aktifitas yang progresif diharapkan mampu saling bersinergi satu sama lain. Sikap klaim kebenaran sepihak, atau menuding pihak lain, menutup komunikasi dan silaturahmi, persaingan yang tidak sehat, berfikir sempit dan hipokrit, dan menutup rapat kebebasan berdinamika bagi orang lain sudah seharusnya kita karantinakan agar kehidupan masyarakat mahasiswa di Mesir mampu mencerminkan prototype masyarakat yang agamis, demokratis, egaliter dan cendikia.

Kehidupan akan terus bergulir ketika jarum waktu dengan pasti mengantarkan setiap anak manusia melewati fase-fase perjalanan panjang dari generasi ke generasi. Boleh jadi, cita-cita besar yang kita canangkan hari ini baru akan dinikmati oleh satu, dua bahkan tiga generasi yang akan datang. Semoga satu fase kehidupan kita di muka bumi ini bisa mewariskan investasi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir! Wallahu a’lam

Ketika Cinta Harus Diekspresikan…!

Ketika Cinta Harus Diekspresikan…!

@ Joko Sumaryono

 

Suatu hari, seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Khubaib RA berada dalam tawanan kaum musyrikin Qurays. Abu Sofyan yang saat itu masih musyrik sempat menguji Khubaib dengan sebuah pertanyaan. “Wahai Khubaib, apakah engkau bersedia jika nabimu yang bernama Muhammad dipenggal lehernya untuk menggantikan posisimu dan engkau akan kami bebaskan untuk kembali kepada keluargamu?”. Dengan lantang dan berani Khubaib menjawab: “Demi Allah, aku tidak rela jika  Rasulullah SAW disakiti dan berada dalam posisiku seperti saat ini, sedang aku duduk bercengkerama bersama keluargaku”.

Sungguh menakjubkan! Ekspresi cinta yang diungkapkan Khubaib RA terhadap Rasulullah SAW telah menggetarkan relung perasaan Abu Sofyan pada hari itu. Kemudian dengan lirih Abu Sofyan berucap: “Sungguh aku belum pernah melihat diantara manusia seseorang mencintai sahabatnya seperti ekspresi cinta sahabat Muhammad kepada Muhammad”. Subhanallah.

Ekspresi cinta yang telah diungkapkan Khubaib bukanlah ekspresi cinta buta, atau taklid, atau karena fanatisme tak beralasan. Ekspresi yang lahir adalah buah dari cinta yang dibangun dengan keimanan dan keikhlasan yang sesungguhnya. Cinta yang telah dibangun dengan pondasi yang sangat kokoh dalam sekolah kehidupan yang ia jalani bersama Rasulullah saw. Baginya, yang berharga dalam hidup ini bukanlah kemewahan, pangkat dan jabatan, bahkan nyawanya sekalipun. Tapi hal yang lebih berharga bagi dirinya adalah keselamatan Rasulullah saw dan eksistensi risalah dakwah yang sedang ia perjuangkan.

Adakah yang lebih berharga bagi seseorang di dunia ini selain diri serta nyawanya? Dan apakah setiap orang mampu menyerahkan yang paling berharga yang ia miliki untuk orang lain? Jika pun ia terpaksa menyerahkannya, apakah ia mampu memberikannya dengan penuh keikhlasan dan kecintaan? Khubaib dan para sahabat-sahabat generasi awal telah menjawabnya dalam berbagai mauqif yang tercatat dalam sejarah emas perjalanan dakwah ini.      

Empat belas abad pun telah berlalu begitu cepat sejak Rasulullah mendakwahkan risalah Islam ini. Jatuh bangun peradaban Islam juga telah kita saksikan bersama dalam pentas sejarah yang terus bergulir. Namun ada satu pertanyaan yang terus mengusik alam bawah sadar kita, mengapa kwalitas keimanan dan militansi kita pada hari ini sangat jauh dibandingkan  generasi awal pioneer-pioneer dakwah ini? Bukankah jumlah kita pada hari ini jauh lebih banyak dibandingkan jumlah sahabat terdahulu? Bukankah fasilitas yang kita miliki pada hari ini jauh lebih baik dari apa yang dimiliki Rasulullah dan para sahabat? Tapi mengapa tetap saja kita tidak mampu untuk memimpin peradaban pada hari ini?

Saya teringat dengan sebuah ungkapan hikmah yang diucapkan oleh Imam Syafii dalam salah satu bait syairnya ia mengatakan al muhibbu liman yuhibbu muthi’un (orang yang mencintai seseorang akan selalu taat dan patuh kepada orang yang dicintainya). Bahkan Rasulullah juga dengan tegas mengatakan bahwa tidak sempurna iman seorang hamba sampai ia mampu mencintai Allah dan Rasul melebihi dari cintanya kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Umar bin Khattab ٌRA adalah salah seorang sahabat yang telah membuktikan hal itu. Inilah yang barangkali membedakan kita dengan generasi awal dakwah ini. Kwalitas cinta lah yang telah membedakan kita dengan mereka. Kwalitas tersebut juga pada akhirnya yang membedakan ekspresi cinta yang diungkapkan para sahabat dengan ekspresi cinta kita pada hari ini.

Adalah sebuah keniscayaan ketika Allah swt mengabadikan pujian-Nya kepada generasi ini di dalam al-Qur’an. Bahkan Rasulullah pun memberikan bintang penghargaan kepada mereka dengan gelar Khairul Qurun Qarni…(sebaik-baik masa adalah masaku, kemudian setelahnya dan setelahnya…!). Cinta yang dibarengi pengorbanan di jalan jihad, suka dan duka, adalah memori indah para sahabat bersama sang uswah. Ketulusan cinta dan pengorbanan inilah yang telah merubah wajah dunia hingga hari ini.

Lalu mengapa kita begitu penting untuk mengekspresikan cinta kita kepada baginda Nabi SAW? Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat-sahabatnya: “Tahukah kalian siapakah hamba Allah yang paling mulia?” sahabat kemudian menjawab: “Para Malaikat ya Rasulullah, dan para nabi, merekalah yang paling mulia”. Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Ya, mereka mulia tapiu ada yang lebih mulia”. Para sahabat terdiam lalu berkata: “Adakah kami yang mulia itu Ya Rasulullah?”. Rasulullah SAW kemudian berkata: “Tentulah kalian mulia, kalian dekat denganku, kalian membantu perjuanganku, tapi bukan kalian yang aku maksudkan..” Rasulullah SAW lalu menundukkan wajahnya…Baginda meneteskan airmata sehingga membasahi pipi dan janggutnya kemudian ia berkata: “Wahai sahabatku, mereka adalah manusia-manusia yang lahir jauh setelah wafatnya aku, mereka sangat mencintai Allah dan tahukah kalian mereka tak pernah melihatku, mereka tidak hidup dekat denganku seperti kalian, tapi mereka sangat rindu kepadaku dan saksikanlah wahai sahabatku bahwa aku sangat rindu kepada mereka…merekalah umatku”.

Namun amat sangat disayangkan, kerinduan baginda Rasul SAW kepada kita justru telah kita nodai sendiri pada hari ini. Mayoritas umatnya sudah banyak yang tidak kenal dengan baginda nabi SAW, kepribadiannya, sepak terjang perjuangannya, dan pengorbanan dakwah yang telah ia wariskan berpuluh-puluh generasi sampai hari ini.

Pada hari ini, kita merasa cukup mencintai baginda Nabi dengan mengadakan peringatan hari kelahirannya dengan berbagai acara resmi bahkan sampai upacara kenegaraan. Atau sebagian besar kita justru bangga sudah sempat mengabadikan foto dimakam beliau, atau sebagian kita ukiran nama Beliau sebagai hiasan dan pajangan yang dibuat diatas batu pualam berhiaskan manikam dan sebagainya. Sungguh, kita telah salah dalam mengekspresikan cinta kita.

Mayoritas kita pada hari ini tak mampu mengekspresikan cinta yang sesungguhnya. Semua cinta yang diungkapkan terlalu formalitas bahkan terkesan penuh basa basi. kita sudah tidak lagi tahu hakikat cinta yang seharusnya diekspresikan dengan penuh keikhlasan dan ketundukan. Bahkan loyalitas pun bisa mengalahkan loyalitas penuh kepadanya karena alasan kedudukan atau profesi. Bahkan ketika keagungan namanya dicabik-cabik oleh pers Barat, karikaturnya di tampilkan dengan tendensi hinaan, risalahnya ditafsirkan secara rasialis oleh orang-orang yang hatinya berpenyakit masih banyak diantara kita masih bersikap acuh seolah-olah semua itu adalah hal biasa dan tidak merasa tersinggung.

Namun demikian, juga sangat tidak bijak saat Rasulullah SAW dihina lalu kita membalasnya dengan tindakan balas dendam dan kekerasan, karena hal itu tidak serta merta akan membuat persoalan berhenti sampai disitu saja. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bahwa kejahatan yang dibalas dengan kebaikan adalah sarana terbaik untuk mengajarkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama cinta kasih yang visi misinya adalah memberi rahmat kepada alam dan seisinya.

Kemenangan dan kejayaan peradaban kaum muslimin sepanjang sejarah selalu berbanding lurus dengan komitmen iman dan amal yang berkesinambungan.  Komitmen iman dan amal tersebut tidak bisa dipisahkan dengan pemahaman dan pengenalan yang komprehensif sejarah hidup dan perjuangan dakwah Rasulullah saw. Pembelajaran sejarah perlu ditingkatkan lebih dari hanya sekedar menghafal urutan peristiwa saja. Akan tetapi, lebih dari itu adalah pembelajaran nilai dan pelajaran sejarah dari setiap peristiwa tersebut untuk dianalisa dan dikembangkan menjadi sebuah tesis dan kesimpulan.

Disamping itu, membangun kesadaran kolektif untuk menghidupkan sunnah dalam pengertian yang lebih komprehensif, lebih luas dan tidak skeptis juga merupakan salah satu unsur terpenting wujud ekspresi cinta yang sesungguhnya. Kesadaran tersebut harus dibentuk dan dikembangkan dari komponen terkecil tatanan masyarakat sosial, dalam hal ini adalah peran institusi keluarga atau rumah tangga. Orientasi yang dibangun dalam rumah tangga adalah menciptakan generasi yang faham dan mengerti tentang hakikat cinta dan perjuangan Rasulullah SAW.

Institusi sekolah pun, tak kalah penting memegang peranan untuk mendidik dan membangun makna cinta ini. Sistem pendidikan yang selama ini telah kita lalui perlu ditinjau kembali kelayakannya. Karena kenyataanya, out put yang dihasilkan tidak memiliki kompetensi yang mumpuni secara akademik dan moral. Sangat perlu dikembangkan sebuah metode baru membangun karakter generasi muda saat ini dengan karakter iman dan semangat jihad sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah kepada generasi muda para sahabat dizamannya.

Ketika cinta harus diekspresikan, ketika loyalitas harus memilih, dan ketika kesadaran bangkit untuk berbenah diri, maka tidak ada kata lain selain menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh tauladan terbaik, mengikuti sunnahnya, berkorban untuk membelanya serta yang terpenting lagi adalah meneruskan estafeta dakwahnya dalam suka maupun duka.

Wallahu a’lam

Muhammad

 

Kebangkitan Itu Bermula Dari Lingkaran-lingkaran Kecil

Kebangkitan Itu Bermula Dari Lingkaran-lingkaran Kecil

Joko Sumaryono Ar Riyawy

Keberadaan sekelompok kaum muslimin yang selalu Tsabat menjalankan din-Nya secara sempurna dan tidak meyimpang dari manhaj yang telah digariskan, adalah salah satu sunnatullah yang memberikan kesempurnaan

terhadap keseimbangan jagad raya ciptaan Allah.

Jika Thâifah ini tidak ada dan tidak bersenyawa dengan alam disekitarnya,

maka yang akan terjadi adalah kegoncangan dahsyat

kehidupan di alam ini secara keseluruhan.

Oleh karena itu eksistensi sebuah gerakan dakwah yang rabbâniyah

mutlak terus dilakukan agar keseimbangan alam ini tetap terjaga

(Muhammad Ahmad ar Râsyid)

Seorang mukmin yang shâdiq dengan rabb-Nya, selalu merasakan kegelisahan yang teramat sangat melihat kebathilan begitu pongah berkeliaran disekitarnya, tirani zhalim mencabik-cabik kehormatan dien-Nya dan para ahli ibadah hanya mampu beruzlah dari kenyataan serta sibuk menambah amal dan kesalehan pribadi.

Walaupun demikian, ia tidak hanya sibuk dengan kegelisahan-kegelisahan dirinya dan menyesali zaman. Ia sadar, itu semua akan berakhir jika genderang dakwah terus ditabuh agar seisi alam mendengarnya. Ia juga sangat yakin bahwa kebenaran itu akan selalu mengalahkan kebathilan suatu saat nanti betapapun kuat dan kokohnya kebathilan itu menancapkan kukunya.

Nah, sekarang kita perlu kembali mengulang pertanyaan ini dalam alam fikiran kita; dakwah seperti apakah yang mampu kiranya untuk mengantarkan umat ini menuju kehidupan yang bertamadun sesuai dengan tuntunan-Nya sehingga ekosistem alam ini kembali seimbang? Bukankah lembaga-lembaga yang berlebel dakwah sudah begitu menjamur dipersada bumi ini? Bukankah berbagai pelatihan dai yang menghabiskan dana yang tidak sedikit terus dilakukan? Bukankah tokoh-tokoh orator dakwah sudah banyak menghiasi mimbar-mimbar dan rekaman ceramah mereka mencapai jutaan copy? Tapi kondisi umat juga masih stagnan bahkan terus mengalami kemerosotan dan dekadensi.

Sudah saatnya kita harus terus memikirkan format dan manuver dakwah kedepan agar mampu bersinergi dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta realita umat ini. Saat ini, kehidupan kita sudah dikelilingi oleh kebodohan, kehinaan, kelemahan serta perpecahan yang tak kunjung usai. Kapankah kita akan kembali menjadi umat yang disegani dan memiliki izzah sebagai khairu ummah? Kapankah kekuatan umat ini yang sempat menguasai dua pertiga dunia akan kembali memimpin peradaban ini dengan segudang khazanah pengetahuan dan kesalehannya? Dan kapankah kita kembali melihat umat yang besar ini kembali tersusun rapi dalam shaf-shaf yang menyejukkan hati?

Semua kegelisahan itu akan mampu kita jawab dengan kembali mengokohkan hubungan vertikal kita kepada Allah dan hubungan kita secara horizontal kepada sesama manusia. Semua ini tentu butuh proses dan sarana yang bisa mengantarkannya. Proses tersebut butuh partisipasi seluruh umat ini dalam sebuah bingkai amal kolektif dan ia tidak akan mampu dikerjakan oleh individu-individu yang terpisah sekuat apapun individu tersebut.

PKS (Partai Keadilan Sejahtera) sebagai sebuah partai yang sangat fenomenal diabad ini, lebih dari hanya sebuah gerakan politik an sich. Targetnya tidak terbatas mencapai jumlah kursi di parlemen atau jumlah menteri di kabinet. Ia juga bukan sebuah partai yang pragmatis dan hipokrit karena manhajnya sangat jelas dan gerakan amalnya sangat nyata menampilkan kehidupan islami yang bersahaja dari kader dan simpatisannya.

Cita-citanya yang tertinggi adalah terciptanya ekosistem kehidupan yang sejalan dengan manhaj robbany dengan selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada umat pada semua sisi kehidupan dan semua level masyarakat. Dan PKS juga sangat sadar bahwa kebangkitan umat ini akan mampu digulirkan dengan pembinaan para kadernya secara berkesinambungan dan sistematis sehingga dalam jangka waktu tertentu mampu melahirkan al fard al muslim as shâlih wal muslih (Pribadi muslim yang shaleh dan mampu memberikan perbaikan disekitarnya).

PKS dalam usianya sebagai partai politik yang masih terhitung sangat yunior dibanding parpol lainnya ditanah air, ternyata mampu mewujudkan sebuah pembelajaran politik Islam yang ideal pada era ini. Hal ini didukung karena PKS adalah partai kader yang menjadikan dakwah sebagai panglimanya serta pembinaan dan tarbiyah sebagai mesin produksinya. Maka, tidaklah terlalu berlebihan jika kita menggantungkan harapan yang besar kepada PKS untuk menjadi pelopor kebangkitan umat ini.

Dalam lingkup mikro di Mesir, kita juga sama-sama bisa melihat dan menilai kiprah positif PKS dalam memberikan yang terbaik buat dinamika masisir. Walaupun ia terpisah jauh dari induknya secara institusi di tanah air, geliat PKS di Mesir pun seirama dengan dinamika dan semangat partai ini yang ada ditanah air. Perbedaan tempat, cuaca dan kultur tidak membuat para kadernya yang berada di Mesir stagnan dan pasif. Bahkan pada beberapa sisi, kader PKS di Mesir punya nilai plus yang tidak dimiliki oleh kader lainnya di tanah air.

Walaupun demikian, seluruh kader PKS dimanapun mereka berada tetap disatukan dengan satu tekad yang sangat dimengerti oleh para kadernya yaitu; Allah swt dijadikan sebagai tujuan, Rasulullah saw sebagai tauladan, al-Quran sebagai pedoman hidup, jihad sebagai jalan perjuangan dan syahid di jalan Allah sebagai cita-cita tertinggi.

Kemenangan PKS di Mesir dalam dua kali PEMILU tahun 1999 dan 2003, merupakan bukti bahwa partai ini telah memainkan peranan yang sangat penting dan telah mewarnai dinamika masisir dalam segala sisi. Namun futuhat tersebut tidak membuat tokoh-tokoh serta para kadernya tidur nyenyak menikmati kemenangan. Justru mereka sadar bahwa tanggung jawab semakin banyak, aspirasi konstituen harus terus dicermati dan dipenuhi sehingga kerja-kerja besar harus terus digulirkan.

Mereka harus terus merapikan dan mengoptimalkan kembali ‘lingkaran-lingkaran kecil’ yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan tumbuh besarnya partai ini. Karena lingkaran-lingkaran kecil itulah yang menjadi cikal bakal kebangkitan umat yang menjadi platform partai besar ini. Dari lingkaran kecil ini juga telah lahir jundi-jundi dakwah brilian yang modernis dan komit dengan amal islami. Pencapaian kader harus terus dilakukan sehingga partai yang siap berkhidmah kepada semua golongan ini tetap hadir memberikan kesejukan.

Dalam perjalanan dakwah, cobaan dan tantangan adalah bagian dari dakwah itu sendiri yang tidak bisa dipisahkan. Tantangan itulah nantinya yang akan menguji para kadernya apakah bisa terus tsabat, atau akan larut dan roboh juga dengan semua itu. Oleh karena itu, dinamika positif yang telah diwarnai PKS ditengah-tengah masisir telah berhasil memberikan sumbangan berharga buat pengembangan sumber daya manusia (SDM) ditengah hujan kritik dan hujatan yang tidak setuju dengan apa yang telah dilakukan PKS.

Menurut hemat saya, PKS dengan program pembinaan dan pemberdayaan kadernya telah berhasil menciptakan sebuah iklim ilmiah dan amaliah yang progresif. Satu standar yang dapat dijadikan tolak ukurnya adalah, prestasi akademis yang diraih para kadernya di semua jenjang pendidikan yang ada di Mesir. Sebagaimana dimaklumi, berprestasi secara akademis adalah langkah awal untuk merubah segalanya. Mencapai prestasi akademis saja tanpa kesibukan lain, barangkali sangat mudah. Akan tetapi jika prestasi tersebut diraih ditengah-tengah kesibukan agenda-agenda tarbiyah dan pembinaan yang cukup padat serta aksi sosial lainnya, maka ini merupakan prestasi yang produktif.

Dapat kita simpulkan kembali bahwa ‘lingkaran-lingkaran kecil’ itulah yang mampu menjadi batu bata yang akan membangun peradaban ini. ‘Lingkaran-lingkaran kecil’ mingguan itu juga yang akan selalu melahirkan generasi-generasi yang memiliki hubungan kuat dengan rabb-Nya serta memiliki kepedulian dengan sesama. Saya juga yakin dari ‘lingkaran kecil’ itu akan bangkit kembali peradaban umat ini. Wallahu a’lam

Menyoroti Lika-liku Ekonomi Masisir

Menyoroti Lika-liku Ekonomi Masisir

Joko Sumaryono,Lc.

 

           

Pendahuluan

Memperbincangkan seluk-beluk dan lika-liku kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) adalah perbincangan yang sangat menarik. Daya tarik perbincangan tersebut bersumber dari perjalanan kehidupan masisir yang semakin hari semakin dinamis, sehingga ada saja hal yang baru yang semula hanya isu ternyata pada akhirnya memang menjadi sebuah kenyataan yang menghebohkan. Itulah kehidupan masisir yang senantiasa bergerak menuju sebuah perubahan yang signifikan.

            Diantara sekian banyak fenomena masisir yang ingin penulis angkat dalam tulisan sederhana ini adalah menyoroti perjalanan dan lika-liku ekonomi masisir berdasarkan pengamatan kaca mata sederhana penulis. Suatu hal yang perlu digaris bawahi dalam pembicaraan ini adalah, kita mencoba melakukan pembacaan terhadap kondisi riil ekonomi teman-teman mahasiswa yang sedang belajar di bumi Kinanah ini. Pembacaan tersebut barangkali akan bermanfaat buat kita karena kita adalah bagian dari mereka dan tentu saja mereka juga adalah bagian dari kita.

            Secara kesat mata, penulis bisa merasakan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup signifikan kehidupan ekonomi masisir yang penulis amati sejak awal tahun 1999 sampai di awal 2007 ini. Barangkali pandangan subyektif ini juga tidak bisa sekaligus dijadikan sebagai sebuah kesimpulan yang integral. Walaupun demikian, seiring petumbuhan populasi masisir yang semakin tahun semakin meningkat ternyata juga menyisakan sekian banyak ‘PR’ yang belum terjawab dan butuh perhatian seksama dari seluruh elemen masyarakat Indonesia di Mesir.

 

Ketika Harus Memilih

            Secara aksiomatik, setiap masisir punya satu idealisme dan orientasi ketika pertama kali menginjakkan kaki mereka di bumi Kinanah ini. Idealisme dan orientasi itu terakumulasi dalam sebuah cita-cita ‘bagaimana saya bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebanyak-banyaknya dari negeri yang kaya dengan ilmu pengetahuan dan para ulama itu’. Itulah satu-satunya pilihan yang terekam dalam setiap otak kecil kita, sehingga sangat wajar jika pada saat itu semangat dan idealisme yang kita bawa mampu kita pertahankan dengan utuh.

            Namun ternyata, seiring perjalanan waktu idealisme dan orientasi itu bisa sedikit demi sedikit terkikis jika tidak dijaga dengan baik. Pengikisan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang beragam dan kompleks.  Salah satu faktor yang mungkin dapat kita amati adalah, kesenjangan antara kebutuhan yang harus dipenuhi untuk bisa mencapai target-target pencapaian yang diinginkan dengan keterbatasan finansial yang dimiliki. Faktor ini sebenarnya juga sangat nisbi, sebab ternyata cukup banyak orang yang sukses dalam kondisi yang sangat terbatas sekalipun. Bahkan peperangan yang dijalani oleh Rasulullah saw dengan para sahabat pun selalu berakhir dengan kemenangan walaupun dengan perbandingan jumlah yang tidak seimbang.

            Oleh karena itu, yang paling urgen dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya adalah bagaimana setiap individu bisa membangun sebuah motivasi dalam dirinya. Dan sebaik-baik motivasi adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah swt yang mampu melahirkan kekuatan supra natural sehingga bisa mengalahkan semua kekurangan dan keterbatasan yang ada. Oleh karena itu, ketika kita harus dihadapkan kepada sebuah pilihan yang sangat sulit dalam tataran dunia akademis  kita di bumi para anbiya’ ini, maka satu jawaban pasti yang harus kita ucapkan adalah ‘Saya harus bisa belajar dan menyelesaikan studi saya dalam kondisi apapun’. Inilah pilihan yang harus tetap menempati urutan awal dalam fikiran dan perasaan kita.

 

Menjaga Keseimbangan Dua Pilihan

            Diantara kendala yang paling sering dihadapi oleh sebagian besar masisir dalam menapaki hari-hari dibumi Kinanah ini adalah kendala finansial yang tidak seimbang dengan kebutuhan harian yang semakin hari semakin tinggi. Diantara kebutuhan harian yang mengalami kenaikan drastis misalnya adalah sewa rumah. Khusus untuk kawasan H-10 misalnya, harga sewa flat rata-rata mengalami kenaikan sekitar 50 sampai 75 % dari harga semula. Daerah Qatameah dan Tajammu’ yang sebelumnya menjadi solusi alternatif masisir akhir-akhir ini juga mengalami perubahan harga yang cukup signifikan. Dari kenaikan sewa flat saja sudah cukup membuat masisir harus berfikir keras untuk mencari solusi alternatif mengatasi persoalan tersebut.

            Disamping kenaikan sewa flat, harga kebutuhan pokok harian pun mengalami kenaikan. Padahal dulu, murahnya harga kebutuhan pokok di Mesir menjadi suatu kebanggaan masisir. Sebab, dibanding harga kebutuhan pokok di negara-negara Arab atau timur tengah lainnya ternyata Mesir adalah salah satu negara tujuan mahasiswa Indonesia yang menjanjikan biaya hidup murah. Sebenarnya, dibanding negara-negara Arab dan Timur Tengah lainnya Mesir tetap menduduki peringkat pertama biaya hidup yang murah. Tapi kenaikan harga sebagiain besar kebutuhan pokok tersebut juga membuat masisir harus memutar otak dalam mengatur keuangan.

            Pengaturan keuangan yang sulit sebenarnya terjadi karena biaya kebutuhan yang harus dikeluarkan dengan pemasukan tidak seimbang. Sebagai contoh, pemasukan si Fulan setiap bulannya hanya bersumber dari bea siswa al Azhar yang hanya berjumlah 165 LE. Padahal untuk membayar sewa flat dan uang makan saja sudah mencapai angka 140 atau 150 LE. Saldo perbulan berarti hanya tinggal 15 atau 25 LE saja. Padahal biaya tersebut masih harus menutupi kebutuhan transportasi dan kebutuhan harian lainnya. Dalam kondisi seperti ini, ia harus memikirkan solusi lain yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut. Maka diantara solusi tercepat yang biasa digunakan masisir adalah dengan meminjam uang kepada yang lain untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Dan budaya hutang piutang dikalangan masisir sebenarnya adalah hal yang biasa.

            Dalam kondisi demikian, hanya ada dua solusi yang bisa diambil oleh masisir untuk menyelesaikan dan merapikan kondisi keuangannya. Yang pertama adalah, mengirimkan ‘proposal’ kepada orang tua dengan menyampaikan rincian kebutuhan perbulan dengan harapan ‘proposal’ tersebut  bisa dipahami orang tua dan persoalan di Mesir pun bisa diselesaikan dengan cepat. Solusi yang pertama ini juga didukung dengan adanya beberapa jasa pelayanan transfer uang secara cepat dari Indonesia ke Mesir yang dicetuskan juga oleh beberapa orang masisir yang bisa membaca peluang bisnis dengan baik.

            Sedangkan solusi yang kedua adalah, menghasilkan uang sendiri. Bagaimana caranya? Dalam teori ekonomi dikenal dengan Four Quadrant Financial Freedom. Ada empat cara bagaimana orang bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Pertama, kita kenal dengan istilah employee. Orang jenis ini  adalah mereka yang bekerja sebagai karyawan atau pekerja bagi orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah pegawai negeri, militer, karyawan perusahaan, buruh dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang terikat dengan instansi atau perusahaan dan sejenisnya. Yang kedua adalah self employee. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan menggunakan keahlian yang mereka miliki. Yang bisa kita contohkan dalam kategori ini adalah dokter, penyanyi, artis dan sebagainya. Dalam banyak hal mereka lebih bersifat independen dan tidak tergantung dengan instansi atau pihak lain. Yang ketiga adalah bussines. Mereka adalah orang-orang yang memiliki usaha dengan sistem yang permanen, sehingga tanpa kehadiran mereka pun usaha dan bisnis tetap jalan dengan menjalani sistem yang sudah ditetapkan. Sedangkan yang keempat adalah Investor. Mereka adalah orang-orang yang memiliki passive income. Maksudnya adalah, penghasilan yang mereka dapatkan tidak tergantung apakah dia bekerja atau tidak namun penghasilan tetap datang karena modal usaha yang mereka tanamkam pada beberapa perusahaan misalnya.

            Dari empat cara mendapatkan uang diatas, maka kita bisa memetakan bahwa sebagian besar masisir bisa kita kategorikan dalam tataran sederhana kepada tiga kelompok, yaitu kelompok employee, business, dan investor. Sedangkan untuk self employee bisa dikatakan hampir tidak ada walaupun ada masisir yang mewakili kelompok ini, tapi barangkali sangat minim sekali. Sebab yang tergabung dalam kelompok ini adalah mereka yang menjual skill dan keahlian. Sedangkan untuk pengusaha, pekerja dan penanam saham sudah sangat meluas di kalangan masisir akhir-akhir ini.

            Ketika seorang masisir harus dihadapkan untuk menjalani dua pilihan ini (belajar dan menghasilkan uang), maka yang paling ideal adalah kemampuan untuk bisa menyeimbangkan dan memberikan porsi waktu secara proporsional. Menjaga keseimbangan tersebut sangat penting diperhatikan oleh setiap masisir yang menerjunkan dirinya ke dunia kerja ataupun bisnis disamping dunia akademis yang sedang digelutinya. Ia harus bisa menjadikan lulus kuliah tepat pada waktunya sebagai prioritas nomor satu. Sedangkan kerja atau bisnis yang ia jalani hanya dijadikan sebagai penopang dan pendukung studi saja. Sebab jika porsi kerja dan bisnis lebih besar ketimbang porsi studi maka dikhawatirkan studi yang ia geluti akan terbengkalai sehingga tidak bisa diselesaikan tepat waktu.

            Oleh karena itu, seorang masisir harus cerdas dalam memilih kerja dan usaha yang akan ia lakukan. Sebelum ia memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal itu, standar yang harus ia jadikan patokan adalah kerja dan  usaha yang tidak menggangu jam kuliah atau jadwal belajar. Atau minimal mencari kerjaan yang memilki shif kerja yang jelas. Dinegara-negara Eropa dan Amerika, mahasiswa Indonesia yang belajar disana pun tidak sedikit yang bekerja sambil kuliah. Mereka kebanyakan mengambil kerja part time sehingga tidak mengurangi jadwal belajar mereka di kampus atau pun dirumah. Dalam konteks ke-Mesir-an, gerak mahasiswa sebenarnya lebih sempit dibanding teman-teman yang belajar di Eropa dan Amerika. Ketika kita memasuki Mesir, visa di paspor kita sudah ditulis dengan kata-kata work is not permitted (tidak diizinkan bekerja). Maka kerja dan bisnis yang sering digeluti lebih bersifat interen sesama mahasiswa Indonesia atau negara-negara Asia Tenggara lainnya yang kebetulan sedang belajar di bumi Kinanah ini.

           

Geliat Perekonomian Masisir

            Menurut hemat penulis, ada tiga klasifikasi masisir dilihat dari sumber pemasukan ekonomi. Pertama, kelompok mahasiswa yang sudah mendapat jaminan ekonomi seratus persen dari tanah air baik yang beralas dari orang tua, lembaga dan yayasan bea siswa ataupun yang semisalnya. Tanpa harus bekerja dan berusaha untuk menghasilkan uang pun mereka sudah bisa mengatur kebutuhan keuangan tanpa kendala berarti. Bahkan banyak juga diantara kelompok ini yang masih mendapatkan bea siswa dari lembaga-lembaga bea siswa yang ada di Mesir.

            Kedua, kelompok mahasiswa yang hanya mengandalkan bea siswa dari lembaga-lembaga yang ada di Mesir, terlepas apakah bea siswa itu mencukupi atau tidak. Disamping itu, mereka tetap mendapatkan suntikan dana dari orang tua atau lembaga yang ada di Indonesia. Perbedaannya dengan kelompok pertama adalah, suntikan tesebut tidak bersifat rutin dan permanen atau lebih tepat bisa dikatakan lebih bersifat insidentil.

            Ketiga, Kelompok mahasiswa yang sama sekali tidak mendapatkan jaminan atau kiriman dari tanah air. Kebanyakan dari mereka sudah bertekad dari Indonesia untuk hidup mandiri. Diantara kelompok ini ada yang sudah mendapatkan bea siswa dari lembaga-lembaga bea siswa di Mesir, dan tidak sedikit juga dari mereka yang sama sekali belum mendapatkan bea siswa. Mereka harus survive untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

            Dari tiga tipologi masisir diatas, dapat kita tebak bahwa tipologi kedua dan ketiga lebih banyak mendominasi dunia kerja dan dunia bisnis di Mesir. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit juga dari tipologi pertama yang aktif mengikuti geliat usaha dan bisnis walaupun hanya bersifat sebagai investor atau musahim.

            Dinamika perekonomian yang sedang berkembang akhir-akhir ini bisa dikatakan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan. Barangkali hal ini juga sangat dipengaruhi oleh paradigma masisir tentang wirausaha dan entrepreneur. Penulis masih ingat ketika Aa Gym dengan konsep manajemen qalbu dan konsep entrepreneur yang ia tawarkan pada pelatihan dan seminar tahun 2003 yang lalu cukup membuka wacana masisir akan pentingnya membangun sebuah kekuatan ekonomi yang berbasis keislaman dan syari’ah.  Pasca Aa Gym, para tamu dari Indonesia yang sempat datang ke Mesir dan memiliki basis pengetahuan ekonomi dan wira usaha juga selalu dimanfaatkan masisir untuk menambah ilmu dan wawasan seputar dunia usaha dan sejenisnya

Mengintip Dapur Usaha Masisir

        Mahasiswa Indonesia di Mesir sepanjang sejarah dikenal sebagai sosok mahasiswa yang penuh kreatifitas. Kreatifitas itu bisa dibuktikan dengan prestasi yang diraih baik dalam dunia akademis ataupun berbagai event dan aktifitas diluar kampus. Kritis, cerdas, berani dan solider adalah diantara sifat-sifat yang identik dengan masisir. Barangkali disamping sistem al Azhar yang sangat ketat serta kondisi alam dan kultur masyarakat Mesir yang sedemikian rupa, membaur dalam kepribadian masisir yang pada akhirnya menumbuhkan sikap berani untuk survive dalam berbagai persoalan.

            Kreatifitas masisir dalam dunia usaha dan bisnis dapat kita buktikan dengan munculnya para ‘pengusaha’ dalam berbagai bidang. Dalam tulisan ini, penulis belum mampu mengumpulkan data yang valid seputar dunia usaha apa saja yang digeluti oleh masisir akhir-akhir ini. Dari data yang penulis olah, rata-rata dunia usaha yang digeluti oleh  mayoritas masisir adalah perdagangan dan jasa. Sebab rasanya belum ada masisir yang melakukan agro bisnis (pertanian) kecuali teman-teman masisir yang sempat menjual kangkung ataupun serai yang ada di bu’uts, atau memproduksi barang-barang tertentu (industri) dalam skala besar.  Tapi usaha-usaha yang bersifat home industry ternyata ikut juga meramaikan dunia usaha di Mesir.

            Perdagangan yang digeluti oleh masisir pun sangat beragam, mulai dari perdagangan yang sifatnya berskala kecil, menengah dan bahkan ada masisir yang sudah membuka perdagangan antara Indonesia dan Mesir dengan mengirimkan beberapa jenis barang di Mesir ke Indonesia atau sebaliknya mengirim barang dari Indonesia ke Mesir. Namun perdagangan jenis terakhir ini sering mengalami kendala terkhusus yang terkait dengan persoalan pajak dan bea cukai serta izin usaha.

            Diantara usaha kecil yang dapat kita lihat secara kesat mata dilingkungan masisir adalah usaha restauran, laundry, tiket dan travel, rental mobil, penjahitan pakaian, penjualan bahan-bahan makanan khas indonesia, snack dan katering, warnet dan interlokal, multi level marketing, jasa pangkas rambut, jasa transfer, dan sebagainya. Semua usaha itu ternyata mampu memberikan dinamika tersendiri dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dikalangan masisir. Bahkan ada diantara beberapa kandidat master dan doktor di al-Azhar ternyata tidak hanya piawai dalam membalik-balik kitab turats, mereka juga lihai untuk merubah junaih menjadi junaihat.

            Di penghujung tulisan ini penulis ingin mengingatkan kita kembali untuk bisa menggunakan fiqih prioritas dan fiqih muwazanah dalam bersikap dan beraktifitas. Kita jangan terjebak dengan pasir-pasir kecil yang seharusnya kita masukkan kedalam ember kita setelah batu-batu yang besar. Artinya, kita harus tetap memprioritaskan target-target utama kita sebelum mewujudkan target yang sifatnya sekunder. Disamping itu,walaupun kita terpaksa untuk berusaha menutupi kebutuhan harian disela-sela belajar kita, maka hal itu harus tetap di bingkai dengan landasan syar’i dan hukum setempat yang legal.

            Akhirnya, semoga seluruh cita dan asa seluruh masisir yang dibangun karena keikhlasan dan kesederhanaan senantiasa diberi kekuatan oleh Allah swt, sehingga pada akhirnya nanti, kepiawaian masisir dalam mengolah dan memaparkan turats berbanding lurus dengan kelihaian mereka dalam mengolah peluang hingga menghasilkan dinar yang menjadi salah satu modal seorang thalibul ‘ilmi. Wallahu a’lam    

%d blogger menyukai ini: