Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Umi Fida

Category Archives: Umi Fida

Muslimah Pasca Ramadhan

Muslimah Pasca Ramadhan

 Rusnah Abdurrahman Ar Riyawy

 

            Ramadhan 1426 H telah berlalu, tiada yang tahu diantara kita apakah Ramadhan 1427 H nanti akan bertemu dengan kita kembali ataukah kedatangannya kemarin adalah yang terakhir dalam hidup kita. Sungguh disetiap kepergiannya membuat setiap hati kita terasa sedih. Tapi apakah cukup kesedihan kita tersebut dapat membangkitkan semangat kita untuk selalu istiqomah  dalam hal positif  apapun yang pernah kita lakukan selama satu bulan penuh itu?

            Ramadhan adalah bulan yang hampir seluruh umat muslim mencintainya, kecintaan yang telah melahirkan banyak kebaikan di dalamnya. Diseluruh pelosok dunia Islam, setiap kedatangannya selalu disambut dengan berbagai ekspresi cinta. Namun sayang kebanyakan kita hanya mampu mencintainya sesaat saja. Ketika ianya menjelma cinta kita begitu menggebu, namun kecintaan itu hilang pada saat ia telah berlalu dari hadapan kita?

            Kecintaan kepada sesuatu, membuat kita termotivasi untuk selalu berbuat kebaikan terhadap objek cinta kita. Dan cinta yang diekspresikan karena Allah selalu berharap ganjaran dari Allah Swt, terlebih lagi ketika kita sangat mengharapkan keredhaan dari-Nya atas apa yang telah kita kerjakan. Hal inilah yang kita temukan pada bulan penuh berkah itu. akan tetapi apakah amalan-amalan kebaikan sesaat yang di sukai oleh Allah Swt?

            Akhwati fillah….setiap kita tentunya telah mengetahui bahwa hal yang sangat di sukai oleh Allah swt adalah amalan kebaikan yang kita lakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Ladang amal kebaikan bukan hanya pada saat Ramadhan menjelang, akan tetapi ladang kebaikan harus ada di setiap masa kehidupan kita sebagai muslimah yang diharapkan oleh setiap umat yang mendambakan ketentraman jiwa.

            Harapan ganjaran yang berlipat ganda pada bulan Ramadhan adalah salah satu motivasi kita untuk mengamalkan kebajikan, kebajikan inilah yang menumbuhkan rasa cinta kita kepada Ramadhan, namun yang perlu kita perhatikan adalah bahwa kebaikan yang hakiki akan tetap selalu berdampingan dengan rasa cinta, itulah cinta…!!

           Dalam putaran kehidupan didunia, kita sebagai manusia adalah makhluk yang banyak diberi kelebihan oleh sang Pencipta, yang paling menonjol diantaranya ialah akal dan pikiran, ini adalah anugerah diantara sekian banyak anugerah lainnya yang tidak bisa di bayar dengan apapun. Dengan akal dan fikiran manusia bisa mebangun dunia dan peradaban yang berbagai macam sebagai mana yang dapat kita nikmati dan rasakan dalam kehidupan kita.

           Begitu juga dengan keindahan dan ketentraman jiwa, semuanya bisa tercipta adalah dari akal dan pikiran yang telah dianugerahkan-Nya. Banyaknya anugerah yang di berikan pada kita, kenikmatan yang kita teguk, ketentraman yang kita rasakan, keindahan yang kita lihat, apakah pantas bagi kita untuk melupakan “Sang Pemberi” semua itu?… amat merugi bagi siapa saja yang melupakan “sang Pemberi” itu…!! dan sudah sepantasnya bagi kita seorang muslimah ‘harus’ terhindar dari hal demikian.

           Oleh karenanya momen Ramadhan yang di sajikan oleh Allah swt adalah salah satu ladang amal kebaikan yang pada hakikatnya dapat melatih kita untuk tetap menjadi seorang hamba Allah dan bukan hamba dunia seisinya. Maka harus ada kesinambungan nilai-nilai tersebut setelah Ramadhan berlalu yang tercermin dalam setiap tutur kata, sikap, dan perbuatan seorang muslimah.            Ada beberapa nilai ataupun amaliah Ramadhan yang seharusnya tetap kita jaga untuk kesinambungan amalan kita pasca Ramadhan diantaranya:

*      Muraqobatullah (Pengawasan Allah)

            Kita sebagai seorang muslimah khususnya harus senantiasa merasa dalam pengawasan Allah Swt, karena hal ini dapat membantu diri kita untuk tetap berpegang teguh di jalan Allah dan memotivasi kita agar selalu  berbuat hanya untuk-Nya, serta dapat membangkitkan ghirah kita dalam melakukan apapun demi mencapai keredhaan-Nya.

            Puasa telah mendidik kita untuk selalu dalam muraqabatullah. Jika kita perhatikan secara seksama, puasa menuntut kita untuk jujur dan mengikhlaskan semua amal karena Allah. Siapapun tidak akan pernah tahu apakah kita betul-betul berpuasa atau tidak, selaras apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam hadits qudsi bahwa as shoum li wa ana ajzi bih.

            Alangkah indahnya jika kita tetap mempertahankan hal tersebut pasca Ramadhan. Allah sangat menyukai amalan hambanya yang dilakukan atas dasar ikhlas. Disamping itu muraqabatullah adalah senjata bagi seorang mukmin untuk terhindar dari hal-hal tercela yang merugikan dirinya dan orang lain.

 

*      Amanah Terhadap Nikmat Allah swt

            Amanah merupakan salah satu ciri dan sifat seorang mukmin, disamping disyari’atkannya amanah kepada sesama makhluk, terlebih dahulu kita sebagai seorang muslimah harus menjaga amanah yang telah di berikan oleh Allah kepada kita, tentunya dengan semampu kita. Amanah merupakan refleksi dari rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

            Dan adapun aktualisasi dari kesyukuran terhadap segala yang diberikan Allah kepada kita baik itu berupa kelebihan harta, kepandaian, kekuasaan, maupun kecantikan, jikalau kita renungkan semua itu pada hakikatnya adalah hanya titipan Allah sementara yang sepatutnya kita pergunakan hanya untuk beribadah kepada Allah semata dan memberikan yang terbaik buat sesama.

 

*      Menyambung Silaturrahim

            Tidak akan berdiri sebuah bangunan kokoh menjulang tanpa ada kesatuan dari unsur bahan-bahan suatu bangunan itu. Begitulah perumpamaan diri kita, sebelumnya perlu kita sadari sedari dini bahwa sebagai seorang mukmin kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup ini, yaitu menegakkan kalimat ‘La Ilaha Illa-Allah’, hanya Allah satu-satunya tujuan kita.

            Akan tetapi sesuatu yang sangat berarti, yang selalu menjadi asa dan harapan kita untuk mendapatkannya, tentunya memerlukan pengorbanan dan disana akan banyak cobaan dan rintangan yang menghalang. Demikian juga halnya kita sebagai seorang muslimah, kita tidak akan bisa berdiri sendiri untuk memajukan diri dan agama ini tanpa adanya jalinan ukhuwah yang erat antara sesama kita.

            Perlu kita cermati bahwa eratnya jalinan persaudaraan tidak akan terbina tanpa kita mau menjaga nilai-nilai kehambaan dalam diri kita dan bermu’amalah sesuai dengan tuntunan agama kita, namun jika kita mampu menjaganya, ‘yakinlah’…insya Allah kita mampu membangun diri lebih maju untuk  kejayaan Islam di muka bumi ini dengan kalimat La Ilaha Illa-Allah. begitulah Ukhuwah Islamiyyah..

            Ramadhan adalah madrasah ukhuwah yang paling ideal. Rasulullah sebagai qudwah kita adalah seorang yang sangat pemurah terhadap sesama dan lebih sangat pemurah disaat-saat Ramadhan. Rasulullah ingin mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa memberikan yang terbaik kepada yang lain, sehingga dengan demikian rabithah ukhuwah dan silaturahim akan senantiasa terjaga.

 

*      Selalu Bersama Al Quran 

                  Jika kita renungkan kembali apa yang telah kita biasakan selama bulan suci Ramadhan, dengan semangat tinggi kita membaca ayat suci Al Quran, hal ini kita lakukan dengan ringan hati pada saat-saat itu, namun apa yang terjadi setelah Ramadhan berlalu? Ternyata berbagai kesibukan telah menyita waktu kita, keseharian kita sibuk dengan kuliah, organisasi, mengurus rumah tangga dan sebagainya sehingga tanpa kita sadari semua itu dapat merebut perhatian kita dari Al Quran.

            Seharusnya membaca Al Quran adalah menjadi sebuah kebutuhan yang utama bagi kita seorang muslimah Ad-da’iyah tanpa mengenyampingkan kewajiban-kewajiban yang lainnya. Karena dengannya kita bisa menumbuhkan motivasi dan semangat apalagi ketika kita dalam kondisi futur. Ketika Ramadhan kita bisa mengkhatamkan Al Quran bahkan lebih dari sekali, lantas kenapa kita sering berat hanya untuk sekedar membaca satu atau dua halaman Al Qur’an setelah kita menyelesaikan shalat?

            Ketangguhan seorang pejuang dijalan Allah tidak pernah lepas dari fenomena Al Quran, maka sebagai muslimah dan murabbiyah generasi Rabbani sudah sepantasnya kita hidupkan Al Quran dalam ruh kita.

    

*      Menahan Nafsu

            Nafsu merupakan fitrah yang tidak bisa dipisahkan dari hakikat manusia, manusia bukanlah malaikat yang tanpa nafsu, sebagai mana yang kita ketahui nafsu mengarah pada keburukan, dalam hal ini Allah swt berfirman: ”sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan” (QS.Yusuf:53).

            Akan tetapi, bagi kita seorang muslimah jika nafsu diarahkan sesuai tuntutan Al-Quran dan sunnah maka ketenangan jiwa yang hakiki akan selalu mendampingi kita. Jika kita melihat saat-saat Ramadhan, kita selalu bisa menahan diri dari pada hal-hal yang bersifat negatif, baik menjaga pandangan, menghindari ghibah, mencela, dan banyak lagi hal-hal lain yang bisa kita hindari dalam bulan Ramadhan, yang merupakan tuntunan nafsu. Ini menunjukan bahwa amal ibadah yang berorientasi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menggapai redha-Nya dapat membantu kita agar terjaga dari segala hal yang tidak sesuai dengan norma agama kita.

            Dan hal ini adalah pengaruh dari pada kesanggupan kita menahan nafsu. sungguh nafsu yang ada dijiwa kita akan mendapatkan kenikmatan yang maha luas andaikan ia selalu terjaga. ukhty…marilah kita melangkah bersama, membimbing nafsu kita dengan hati dan jiwa yang bersih, agar jiwa dan raga kita tetap tenang di jalan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari sifat Ittiba’ul Hawa yang nantinya akan merusak kehidupan kita.

            Masih banyak tersisa hikmah-hikmah Puasa yang harus tetap kita jaga kontinuitasnya pasca Ramadhan. Janganlah kita terjebak menjadi ‘abdan ramadhanian tapi kita harus selalu berusaha untuk menjadi ‘abdan rabbanian. Dan sebaik-baik seorang mukmin adalah amalannya hari ini lebih baik dari masa yang telah berlalu. Wallahu a’lam

 

       

Iklan

Membangun Cinta & Kesetiaan

Membangun Cinta & Kesetiaan

Rusnah Abdurrahman, Lc

Terma cinta selalu menjadi pembicaraan menarik dalam berbagai kesempatan. Bermacam penafsiran dan teori seputar definisi cinta pun lahir sejak manusia pertama hingga detik ini. Siapa saja tentu berhak mendefinisikan cinta sesuai dengan pemikiran dan perasaannya.

Romeo dalam legenda yang sangat akrab ditelinga kita, rela mengakhiri hidupnya ketika sang kekasih Juliet meninggal setelah jatuh sakit ketika cinta mereka dipisahkan karena perbedaan kasta. Berbeda dengan Qais, lelaki ini tidak sampai mengakhiri hidupnya dengan tragis, tapi ia kehilangan kendali akalnya hingga gila ketika cintanya harus kandas ditengah jalan bersama Laila. Masih banyak kisah-kisah tragis lain yang tercatat dalam sejarah manusia hanya karena satu kata; cinta!

Tapi sungguh naif jika cinta harus dimaknai serendah itu. Cinta itu sangat sakral dan agung. Dalam cinta ada makna kasih sayang, loyalitas, kesetiaan dan pengorbanan. Dan satu hal yang perlu dicatat, cinta yang hakiki selalu berpihak kepada nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan rasionalitas. Oleh karena itu cinta harus dibangun dalam frame yang sejalan dengan fitrah manusia sebagai hamba Allah yang menempatkan seluruh obsesi cinta hanya karena-Nya.

Bagi sebagian orang, istilah cinta karena Allah adalah satu hal yang sangat klise. Padahal inilah makna cinta yang seseungguhnya. Jika kita memahami dengan benar konsep manusia secara utuh, maka kita baru akan sadar akan keagungan cinta karena Allah ketimbang cinta picisan yang selalu berakhir tragis. Cinta karena Allah standarnya sudah sangat jelas. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits; bahwa cinta dan kasih sayang dalam koridor ketaatan kepada Allah itulah cinta sebenarnya, dan ketika cinta harus mengorbankan loyalitas kepada Allah maka berhati-hatilah karena kita akan terjebak kepada cinta picisan yang murahan.

Kata orang cinta itu banyak macamnya; cinta kepada diri sendiri, kepada orang tua, kepada istri atau suami, kepada anak dan sebagainya. Tapi menurut saya itu semua adalah objek cinta. Cinta itu hanya satu macam, yaitu ketika cinta itu selalu didasari karena Allah swt. Karena cinta seperti ini akan selalu menjamin kesetiaan atau katakanlah yang namanya loyalitas. Cinta jenis ini tidak akan pernah lapuk karena hujan atau lekang karena panas. Kesetiaan dan loyalitasnya pun lebih terjamin.

Berbicara seputar loyalitas dan kesetiaan dalam skala mikro di biduk KSMR kita tercinta, rasanya kita perlu kembali memaknai cinta dan kasih sayang ini agar tidak salah persepsi. Persepsi yang sama akan selalu melahirkan visi dan misi yang serupa pula. Tapi jangan lantas dimaknai bahwa dengan cara itu kita akan memberangus pluralisme yang merupakan sunah kehidupan. Pluralisme ibarat warna dalam kehidupan. Hidup tanpa warna tentu akan membuat kita bosan dan jenuh. Sebuah lukisan tidak akan indah tanpa kombinasi warna yang berbeda, tapi keserasian warna juga pada akahirnya membuat sebuah lukisan indah dipandang mata.

KSMR kita tercinta ibarat miniatur kehidupan kita di Riau nanti. Disini kita berkumpul dari berbagai daerah membentuk sebuah ikatan primordial yang namanya komunitas mahasiswa Riau. Disini juga kita belajar bersama dan saling membina ukhuwah. Banyak kisah yang akan kita ceritakan untuk generasi akan datang tentang pahit manisnya kebersamaan di KSMR. Hampir sepersepuluh fase umur, kita habiskan disini. Tentu sangat disayangkan jika fase yang cukup panjang itu tidak kita abadikan dalam sebuah memoar yang didalamnya bertuliskan segudang prestasi dalam makna yang lebih luas.

Kesuksesan di kampung halaman nanti selalu diukur dengan kesuksesan kita di bumi kinanah ini walaupun itu sangat nisbi. Sebab sebuah kesuksesan tidak terbatas kepada kesuksesan studi. Kesuksesan studi harus selalu diimbangi dengan kesuksesan sosial. Rasulullah menyatakan : Khairun nâs anfa’uhum linnâs (sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia lain). Dalam sebuah hadits Rasulullah juga menegaskan : Man lam yahtam biamril mukmin falaisa minhum (Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum mukmin maka ia tidak termasuk golongan mereka).

Sebagai sebuah ikatan emosional kedaerahan, KSMR adalah tempat berkumpulnya para intelektual muda calon pemimpin daerah masa depan. Mereka adalah kaum terpelajar yang sangat berbeda dengan masyarakat awam dari segala sisi, baik dari cara berfikir atau bersikap dan berprilaku. Oleh karena itu wadah KSMR sangat potensial untuk mengoptimalisasikan sumber daya ini agar bisa diformulasikan sebagai sebuah kekuatan reform atau ishlah. Namun ini bukan pekerjaan mudah. Perbedaan latar belakang kita yang berada di KSMR meruapakan sebuah catatan penting. Sebab membangun loyalitas dalam pluralisme perlu sebuah kedewasaan sikap dan fikiran.

Secara akademik, kita bisa dikatakan bersifat homogen. Walaupun demikian, universitas Al Azhar sebagai lembaga yang menyatukan kita, tidak menjamin akan menyatukan cara pandang dan pemikiran. Saya rasa itu sangat alami.Sebab perbedaan pandangan ulama dalam ilmu pengetahuan termasuk khazanah peradaban Islam yang telah diwariskan kepada kita. Jika kita cermati manhaj Al Azhar maka akan kita temukan kelebihan Al Azhar sebagai sebuah jâmi’ah yang mengakomodir berbagai pendapat dalam sebuah permasalahan. Seolah Al Azhar ingin mengajarkan kepada kita kedewasaan dalam berfikir.

Sebagaimana yang telah disinggung diatas, kesetiaan dan loyalitas akan lebih terjamin jika didasari dengan cinta dan ketulusan. Cinta dan ketulusan ini pun tidak akan pernah kokoh tanpa ribâth (ikatan) yang kuat. Paradigma ini akan berbeda dalam pandangan kaum materialis yang selalu menghubungkan antara loyalitas dan kepentingan apa yang bisa ia dapat.

Pada tataran kekeluargaan yang kita namakan KSMR, barangkali kita perlu lebih memperluas makna sehingga kita tidak terjebak dengan loyalitas buta kedaerahan sehingga mengorbankan hal-hal yang prinsip yang seharusnya jadi tolok ukur utama. Maksudnya adalah, kita semua tahu bahwa anggota KSMR itu sangat unik. Keunikan ini dilatar belakangi oleh pluralitas suku yang ada didalamnya.

Propinsi Riau dengan letak geografisnya yang sangat strategis menyebabkan daerah ini menjadi tempat alternatif kaum perantau untuk mengadu nasib. Hal ini sudah berlangsung cukup lama bahkan sejak dahulu kala. Percampuran ras dan suku tak dapat dielakkan karena proses asimiliasi dan perkawinan silang. Ras Jawa, Batak, Minang, China dan sebagainya akhirnya membaur menjadi komunitas baru yang punya keturunan sampai saat ini. Itulah potret kita hari ini. Jika salah seorang diantara kita ditanya apakah anda orang Riau asli atau bukan, tentu akan sangat sulit menjawabnya. Porsentase asli Riau pun tidak seberapa.

Mari kita kembali melihat kedalam tubuh KSMR kita di Kairo. Beberapa tahun belakangan ini sering terjadi kesalah pahaman yang dipicu oleh status keanggotaan seorang anggota. Yang sering terjadi adalah antara KSMR dan KMM. Karena memang teman-teman yang berlatar belakang suku minang dan kebetulan berdomisili di Riau sangat banyak. Kesalah pahaman sebetulnya tidak perlu terjadi jika masing-masing anggota bisa membawa diri secara proporsional dalam berinteraksi dan memahami bahwa pada dasarnya ikatan akidah adalah ikatan tertinggi dan kuat ketimbang ikatan primordial dan kesukuan.

Saat ini, Kairo seolah sudah terkotak-kotakkan oleh kekeluargaan-kekeluargaan, sehingga jika kita tidak pandai-pandai berimprovisasi dalam bergaul maka kita hanya akan bergaul dengan sesama teman yang berasal dari satu daerah. Idealnya, kita bisa membina hubungan yang kuat dengan sesama teman dari satu daerah dan sekaligus bergaul dengan teman-teman yang tidak sedaerah.

Jika kita ingin memformat pola hubungan antara kenggotaan ganda semisal antara KSMR dan KMM sebagaimana kita singgung diatas, sebenarnya sudah tercapai beberapa kesepakatan-kesepakatan dua belah pihak beberapa waktu yang lalu. Dalam nota kesepakatan itu, telah dihasilkan poin-poin yang cukup bijaksana bagi kedua belah pihak. Ini barangkali yang bisa diusahakan oleh pengurus. Faktor penentu utama sebenarnya adalah tergantung anggota yang bersangkutan.

Sungguh naif jika terjadi perpecahan hanya karena ribut permasalahan status keanggotaan. Padahal 14 abad yang lalu Islam berhasil mempersatukan antara Aus dan Khazraj yang telah bertikai selama ratusan tahun di Madinah. Akankah setelah kita yakin bahwa Islam sebagai sebuah risalah ‘âlamiah (universal) akan mudah pecah disebabkan permaslahan keanggotaan?

Memang cukup berat merasionalisasikan makna ukhuwah pada tataran realita. Karena tidak semua kita berpijak pada pemahaman yang sama tentang konsep tersebut. Oleh karena itu, saya termasuk yang sepakat jika dibuat aturan main yang jelas seputar keanggotaan ini. Hanya saja mungkin dalam pelaksanaannya tidak usah terlalu kaku. Dan sekaligus saya ingin menghimbau kepada seluruh teman-teman agar memberikan loyalitas kita secara proporsional kepada kekeluargaan kita tercinta ini.

Mari kita bangun KSMR kita dengan cinta dan kesetiaan, cinta dan kesetiaan dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai kita korbankan nilai-nilai prinsipil hanya karena solidaritas buta yang tidak berakar dan berpucuk. Loyalitas penuh hanya kita peruntukkan kepada Allah dan Rasul-Nya serta ketaatan akan aturan-aturan-Nya. Wallahu a’lam

%d blogger menyukai ini: