Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini

Category Archives: Opini

Menelaah Akar Terorisme; Antara  Agama Dan Kepentingan Politik

 Joko Sumaryono, Lc

Sepanjang sejarah Islam, hubungan antara ketinggian nilai-nilai luhur agama dengan prilaku masyarakatnya terukur dengan fakta bahwa keberagamaan umat Islam diberbagai penjuru dunia tampak secara kesat mata dalam karakter kepribadian dan produk budaya mereka sehari-hari. Umat Islam di Eropa telah menyumbangkan produk ilmu pengetahuan dan budaya yang sangat tinggi yang ikut membangun cikal bakal kemajuan Eropa yang kita saksikan pada hari ini. Sentuhan Islam di Kawasan Afrika dan Timur Tengah pun hingga hari ini masih dapat kita rasakan betapa ajaran Islam telah benar-benar memberikan kontribusi besar kemajuan dan kehebatan negara-negara yang berada di kawasan ini. Eksistensi Islam juga semakin kuat di wilayah Asia Tenggara selama berabad-abad lamanya bahkan semakin bias mewarnai percaturan global dunia pada saat ini.

Berbicara aksi teror dan kelompok-kelompok yang muncul sebagai ikon teror, setidaknya sepanjang abad 20 kita tidak mendengar adanya aksi teror yang dihubungkan dengan doktrin atau pemahaman akan doktrin agama yang diperankan oleh kelompok-kelompok baik yang mengatasnamakan Islam atau agama lainnya didunia.  Justru yang menghebohkan dunia dengan segala bentuk aksi terornya sepanjang abad 20 ini adalah aksi-aksi yang dijalankan oleh berbagai kelompok dengan berbagai macam ideologi yang berbeda dan cendrung bermuatan politik.

Sebagai contoh, kelompok teroris yang eksis di Jerman Barat yang dikenal dengan Faksi Pasukan Merah atau masyhur dengan sebutan Baader-Meinhof yang dalam bahasa Jerman disebut Rote Armee Fraktion. Kelompok ini adalah organisasi teroris sayap kiri Jerman Barat yang paling aktif  dan terkemuka pasca perang dunia. Mereka mendeskripsikan diri sebagai “Gerilya Urban”. Faksi ini eksis di Jerman rentang 1970-an hingga akhir 1998. Mereka melakukan banyak Kejahatan, terutama pada musim gugur 1977, yang membawa ke krisis nasional yang dikenal sebagai “Musim Gugur Jerman” (German Autumn). Faksi ini bertanggung jawab atas 34 pembunuhan pejabat dan orang-orang penting serta banyak menyebabkan luka berat dan ringan bagi banyak orang selama 30 tahun keberadaannya. Faksi ini banyak dihubungkan dengan organisasi-organisasi teroris Jerman lainnya seperti J2M dan SPK, dan pada tahun 1980-an kelompok ini juga membangun jaringan dengan kelompok sayap kiri Italia, Brigade Merah; dengan kelompok sayap kiri Belgia, CCC; kelompok sayap kiri Palestina, PFLP; dan kelompok sayap kiri Perancis, Action Directe; serta juga IRA dan PLO.

Tak hanya di Jerman, di Italia pun selalu diwarnai aksi-aksi teror yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang menamakan diri mereka dalam bahasa Italia dengan Brigate Rosse. Kelompok ini eksis sekitar tahun 1970-an. Italia dibuat rusuh dengan ulah mereka selama bertahun-tahun lamanya. Diantara kejahatan yang mereka lakukan adalah penyanderaan dan pembunuhan Mantan Perdana Menteri Italia, Aldo Moro pada tahun 1978. Kelompok yang berideologi Marxisme-Leninisme ini ingin mendirikan negara revolusioner melalui peperangan dan punya target besar untuk mengeluarkan Italia dari NATO.

Berpindah ke Asia, kita juga membaca sejarah bahwa di Jepang dahulu pernah berkembang sebuah kelompok teror yang dikenal dengan Tentara Merah Jepang atau Japanese Red Army. Kelompok ini didirikan oleh seorang mantan agen intelijen perempuan di Jepang yang bernama Fusako Shigenobu. Fusako, dikenal sebagai ‘Ratu Teror Merah’ serta ‘Teroris Perempuan Paling Ditakuti’. Organisasi teror ini berkembang sejak tahun 1970 sampai tahun 2000. Kelompok ini berideologi komunis dan bercita-cita memperjuangkan kesejahteraan kaum proletar yang terpinggir dan berniat menumbangkan kekaisaran Jepang dengan tujuan menabuh genderang dimulainya gerakan revolusi berskala internasional.

Aksi terorisme juga pernah dilakukan kelompok kiri Palestina sekitar tahun 1970-an. Mereka melakukan pembajakan pesawat dan menculik tokoh-tokoh penting. Di Mesir juga ternyata sempat muncul sebuah kelompok yang didirikan dan dipimpin oleh Mahmud Nuruddin yang mereka beri nama Organisasi Nasionalis Nashiriyah. Kelompk ini melakukan aksi pembunuhan dan penculikan diplomat asing di kota Cairo. Namun organisasi yang dipimpin Mahmud Nuruddin ini kemudian berhasil diberangus setelah Mahmud Nuruddin ditangkap dan dipenjara seumur hidup.

Menarik untuk dicermati bahwa dalam rentang waktu tersebut, yaitu sekitar 40 tahun aksi teror merambah dunia, tidak satupun aksi teror yang dituduhkan kepada Islam atau kelompok-kelompok Islam atau organisasi-organisasi pergerakan Islam lainnya. Padahal Islam yang dianut dan diamalkan pada era tersebut tidak berbeda dengan Islam yang dianut pada hari ini. Organisasi dan pergerakan Islam yang berkembang pada era tersebut adalah organisasi yang sama ada pada hari ini. Hal ini menunjukkan sebuah indikasi kepada kita bahwa dogma Islam dan ajarannya jauh dari nilai-nilai kekerasan dan aksi teror sebagaimana yang disematkan kepada Islam dan organisasi-organisasi dakwah dan pergerakan Islam pada hari ini.

Perlu dicatat bahwa akar terorisme sebenarnya sangat erat hubungannya dengan iklim politik yang sedang berlangsung. Kedikatatoran dan sikap politik yang skeptis dan arogan ternyata berpeluang melahirkan gerakan ‘balas dendam’ atas kesewenang-wenangan, penindasan, perbudakan dan semua bentuk pemaksaan dan ketidakadilan. Kondisi sulit ini secara merata hampir menimpa seluruh negara yang memiliki basis Islam mayoritas. Namun demikian, hanya segelintir kelompok Islam saja yang kemudian terpengaruh untuk melakukan aksi balas dendam ‘teror’ sebagai bentuk ketidakpuasan.

Terorisme bukanlah embrio yang lahir dari rahim agama atau teks-teks agama sebagaimana yang diekspos media. Bahkan di era 70-an terorisme lahir dari rahim ideologi marxisme dan nasionalisme. Terorisme justru lahir sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan, kesewenang-wenangan yang diperankan oleh para penguasa otoriter dan diktator. Situasi ini memaksa para pemuda khususnya, dan masyarakat umum dalam berbagai level untuk melakukan perlawanan dalam berbagai bentuk. Dalam prakteknya, perlawanan ini bisa saja berubah dari aksi damai sampai kepada aksi dengan menggunakan berbagai bentuk kekerasan. Dan sangat perlu dicatat bahwa dalam kelompok manapun dan apapun ideologi yang dianut, biasanya memiliki spirit dan ideologi pemikiran yang dijadikan landasan gerak dan juang. Jadi tidak benar jika dogma agama (baca;islam) saja sebagai salah satu penyebab terjerumusnya orang-orang yang menganut faham kekerasan untuk melakukan balas dendam atau untuk memperjuangkan sebuah perubahan.

Agama (islam),adalah agama yang sakral dan suci dari bias terorisme. Islam dengan seluruh ajaran luhurnya adalah agama yang membangun, bukan menghancurkan. Islam adalah agama yang ramah dan menghormati, bukan menghabisi kelompok lain. Islam adalah agama kasih sayang dan cinta kasih, bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun. Tidak benar jika seorang muslim menjalankan ajaran Islamnya dengan secara sempurna lalu ia berubah wujud menjadi seorang teroris yang menakutkan. Tidak benar jika Islam diperjuangkan dalam setiap dimensi kehidupan, penganutnya serta merta di cap sebagai ‘Islam Politik’ yang pada akhirnya dengan mudah akan dikelompokkan kepada kelompok teroris yang harus diberangus.

Munculnya aksi terorisme seharusnya menjadi tanggung jawab tokoh-tokoh politik yang ‘gagal’ menjalankan amanah sebagai pengemban amanat rakyat. Kepercayaan rakyat dimanipulasi untuk melanggengkan kekuasaan dan memperkaya diri sendiri, kroni dan kerabat dekat. Kekuasaan dijadikan sebagai alat untuk menutup rapat pintu kebebasan berpendapat dan berkumpul, disamping kekuasaan juga sering dijadikan tameng untuk menutupi semua kejahatan-kejahatan politik yang dilakukan. Kekuasaan yang otoriter cendrung digunakan untuk membangun dinasti kekuasaan yang mengakar dan diwaktu yang sama mematikan peran kelompok-kelompok lain yang berseberangan baik secara pemikiran dan politik apalagi jika politik tersebut mengatasnamakan entitas Islam.

Rezim penguasa yang tiran biasanya dengan sangat mudah untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya dengan melemparkan isu terorisme, isu separatisme, isu Islam garis keras dan sekian banyak ikon negatif lainnya yang disandingkan dengan Islam. Dalam tradisi masyarakat Islam, kita selalu menyaksikan fakta  bahwa saat ajaran Islam difahami dengan baik dan benar serta diamalkan secara integral dan komprehensif, maka secara otomatis hal tersebut akan merubah tatanan dan cara berfikir masyrakatnya kepada sebuah pemikiran maju dan konstruktif. Pemikiran ini dalam prakteknya akan melahirkan gerakan ‘politik’ dalam pengertiannya yang luas, yaitu semangat untuk membangun dan melakukan perubahan-perubahan besar menuju kehidupan yang lebih baik. Apakah spirit ini kemudian dengan mudah diklaim sebagai embrio akan lahirnya bayi yang bernama “Terorisme” ? dan apakah pemikiran ini termasuk yang harus diberangus dan tidak diperbolehkan untuk berkembang karena dapat mengancam stabilitas? Wallahu a’lam.

Iklan

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa

Joko Sumaryono, Lc.

Kilas Balik Sejarah
Pentas sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tak pernah sepi dari teriakan dan kobaran semangat kaum muda anak bangsa ini. Dari Sabang sampai Merauke genderang perlawanan terhadap imperialisme ditabuhkan. Seolah tak peduli dengan tetesan darah dan air mata yang harus mengalir, yang penting nusantara tercinta harus segera dihantar ke gerbang kebebasan dan kemerdekaan. Perjuangan berat dan melelahkan itu pun akhirnya melabuhkan kemenangan. Tepat pada hari Jumát 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. “Merdeka” itulah satu kata yang penuh getar terucap dari lisan yang diiringi kepalan tangan penuh semangat menggelora.

Gerbang kemerdekaan dan kebebasan yang telah terbuka di depan mata, ternyata bukan perjuangan singkat. Daftar pejuang dan pahlawan nasional yang kita baca dalam literatur sejarah, adalah salah satu bukti perjalanan panjang tersebut. Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Fatahillah, serta sederetan nama lainnya telah mengukir sejarah Indonesia dengan tinta emas. Mereka telah membaktikan kiprah mereka untuk membangun republik ini. Begitu pula dengan peran yang telah disumbangkan oleh kelompok cendikiawan dan kaum terpelajar diawal abad ke-20 yang nanti pada akhirnya menjadi cikal bakal perjuangan nasional.

Tanggal 20 Mei 1908, bisa dicatat sebagai pondasi awal pergerakan mahasiswa Indonesia dalam struktur dan mekanisme organisasi modern. Sejumlah pelajar dan mahasiswa yang sedang belajar di STOVIA saat itu, merasa perlu membangun sikap kritis terhadap kondisi bangsa Indonesia yang masih terbelenggu rantai penjajahan. Keresahan mereka untuk membangkitkan kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, mendorong mereka untuk mendirikan Boedi Oetomo. Pergerakan yang mereka munculkan berkembang pesat, bahkan hanya dalam satu tahun tepatnya di akhir tahun 1909 Boedi Oetomo telah memiliki 40 cabang dengan jumlah 10.000 anggota.
Pergerakan mahasiswa Indonesia pada dekade itu ternyata tidak hanya berkembang didalam negeri saja. Di Belanda, Mohammad Hatta yang pada saat itu sedang belajar di Handelshogeschool Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeninging pada tahun 1922 dan pada akhirnya berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1925. Hatta bersama kawan-kawannya saat itu sangat intens melakukan berbagai diskusi.

Selain Boedi Oetomo dan Indische Vereeninging yang dipelopori kelompok mahasiswa dan kaum terpelajar, pergerakan bangsa ini pun juga diwarnai dengan munculnya Indische Partij yang menekankan prioritas perjuangan mereka untuk melontarkan propaganda kemerdekaan. Diwaktu yang bersamaan Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama serta Indische Sociaal Democratische Vereeninging yang berhaluan marxisme juga ikut bergelut dalam medan pergerakan dan perjuangan meraih kemerdekaan.
Lahirnya Boedi Oetomo, Indische Vereeninging, dan gerakan terorganisir lainnya pada saat itu, adalah satu episode penting permulaan sejarah Indonesia yang ditandai dengan tampilnya generasi pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai garda terdepan. Estafet perjuangan terus bergulir seperti bola salju yang terus menggelinding, semakin lama semakin membesar. Kesadaran akan persatuan dan kesatuan bangsa untuk bangkit meraih kemerdekaan terus terpatri. Perbedaan suku, bangsa dan bahasa akhirnya melebur setelah sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan.

Prototipe Pergerakan Mahasiswa
Dalam perjalanannya, romantisme pergerakan mahasiswa tidak bisa lepas dari dua segmentasi dasar perjuangan. Seyogyanya dua sisi ini menyatu dalam diri seorang mahasiswa sehingga tercipta tokoh pergerakan yang cerdas dalam tataran konsep dan idealisme, sekaligus cakap mengarahkan arus pergerakan ditengah-tengah perubahan kehidupan sosial yang bergerak sangat cepat.

Pertama, mahasiswa sebagai kelompok elit masyarakat berbasis intelektual dan wawasan yang mumpuni, terus bergerak menggali berbagai potensi kecendikiaan. Intelektual muda dengan latar belakang sains yang berbeda adalah ciri utama mereka. Segala sesuatunya harus dukur dengan standarisasi rasional. Diskusi dan tukar fikiran adalah aktivitas harian yang selalu hangat dalam setiap obrolan. Mereka terus bergerak dalam poros pergerakan intelektual dan dunia akademis yang terus berkembang. Oleh karenanya prestasi akademis harus terus dipacu. Berbagai spesialisasi bidang ilmu harus melahirkan para doktor dan tenanga ahli yang tahan uji.

Kedua, Sosok mahasiswa adalah individu yang tidak terpisahkan dari komunitas sosial kemasyarakatan. Dinamika sosial pun sudah tentu harus menjadi dinamika mereka. Sangat naif jika seorang mahasiswa tidak pernah memberikan kontribusi positif buat masyarakat disekitarnya. Apalagi jika tidak pernah berinteraksi serta tidak peduli. Seorang mahasiswa dalam tataran ideal harus menjadi aktor utama perubahan dan pergerakan sosial. Inderanya selalu peka dengan perubahan sekitar, ia selalu terpanggil untuk memberikan solusi. Bahkan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan pun mereka tidak gentar untuk meneteskan peluh dan darah mereka demi membebaskan republik ini dari belenggu penindasan dan penjajahan.

Saya kira siapapun tidak berbeda pendapat tentang dua dimensi dasar karakter pergerakan dan perjuangan mahasiswa diatas. Namun kita akan mulai berbeda pendapat ketika dihadapkan pada realita pluralisme ideologi dan kepentingan yang diusung sebuah pergerakan apapun. Begitu juga dengan pergerakan mahasiswa sepanjang sejarah bangsa ini juga tidak bisa dilepaskan dari pergolakan dan pertarungan ideologi yang diusungnya. Terkadang kepentingan pada saat-saat tertentu atau kondisi yang mengharuskan, membuat gerakan mahasiswa tidak bisa dilakukan dalam satu pola saja.
Sejarah mencatat, rentang waktu antara tahun 1920 – 1945 gerakan mahasiswa hanya terkonsentrasi pada diskusi-diskusi seputar diskursus kebangsaan seperti yang dilakukan oleh Soetomo yang mendirikan Indonesische Studie-club pada tanggal 29 Oktober 1924. Atau apa yang dicetuskan Soekarno dan beberapa rekannya di Sekolah Tinggi Teknik Bandung yang berhaluan nasionalis ketika mendirikan Algemeene Studie-club pada tanggal 11 Juli 1925.
Mari kita coba bandingkan tatkala pergerakan mahasiswa memasuki era 45-an. Sikap penjajah Belanda yang liberal akhirnya melatar belakangi perubahan kebijakan pergerakan dari kelompok studi dan kajian menjadi kekuatan politik dalam bentuk partai dengan tujuan untuk memperoleh basis massa yang lebih luas. Penjajah Belanda cukup memberikan kebebasan bergerak yang cukup pada saat itu. Situasi akhirnya berbeda ketika Jepang berkuasa. Pergerakan mahasiswa yang sudah mengarah kepada pergerakan politik di berangus oleh Jepang. Kegiatan dan aksi yang berbau politik dilarang. Seluruh organisasi pelajar dan mahasiswa dibubarkan sehingga sempat terjadi insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang berujung ketika beberapa mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.

Praktis, akibat situasi yang tidak kondusif untuk melakukan pergerakan massif dan terbuka akhirnya mayoritas pergerakan mahasiswa kembali terfokus kepada kelompok studi dan kajian strategis dengan mengambil tempat asrama-asrama mahasiswa sebagai pusat kegatan. Tercatat dalam sejarah, ada tiga asrama mahasiswa yang terkenal berperan besar melahirkan sejumlah tokoh nasional era 45-an. Tiga asrama itu adalah asrama Menteng Raya, asrama Cikini dan asrama Kebon Sirih. Barangkali nama Chairul Saleh dan Sukarni yang terkenal dalam sejarah dengan peristwa Rengasdengklok, adalah mereka yang mewakili era gerakan bawah tanah pada saat itu.

Pasca kemerdekaan spirit pergerakan mahasiswa mulai berubah haluan. Banyak aksi mahasiswa berlindung dibawah payung partai-partai politik. Persoalannya bukan berarti gerakan mahasiswa tidak boleh berafiliasi kepada ideologi atau partai tertentu. Yang menjadi masalah adalah, ketika fanatisme kelompok diangkat diatas kepentingan nasional bangsa ini. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) lebih dekat dengan PNI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan partai NU, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dekat dengan PSI atau Himpunan Mahasiswa Islam yang saat itu dekat dengan Masyumi.

Gerakan Mahasiswa dan NKK/BKK
Kontribusi gerakan mahasiswa terhadap pembangunan bangsa pasca kemerdekaan sampai tahun 1978 sangat nyata. Bahkan orde baru yang baru saja runtuh, kelahirannya di bidani oleh gerakan mahasiswa yang dikenal dengan sebutan angkatan ’66. Para aktivis mahasiswa era ini akhirnya menjadi tokoh nasional dan pemegang kebijakan pemerintahan. Beberapa nama seperti Akbar Tanjung, Cosmas Batubara dan Sofyan Wanandi adalah tokoh nasional yang mewakili angkatan 66.

Namun realitas berbeda ketika memasuki era 70-an. Orde baru yang berkuasa saat itu mulai mendapatkan kritikan dan protes mahasiswa. Konfrontasi fisik pun tak terelakkan. Orde baru yang didukung militer berusaha menjadi tameng orde baru. Mahasiswa menilai Golkar sudah mulai melakukan kecurangan. Bahkan beberapa kebijakan pemerintah sudah dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil. Privatisasi dilakukan disana sini. Imbasnya lahir gerakan ‘Mahasiswa Menggugat’ yang dipelopori Arif Budiman serta Wilopo yang membentuk Komite Anti Korupsi.

Sampai tahun 1974 berbagai peristiwa terjadi. Akibat kekecewaan terhadap pemerintah, lahirlah Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dipelopori oleh Arif Budiman dan Adnan Buyung Nasution dan puncak kekecewaan tersebut terjadi pada peristiwa Malari pada tanggal 15 Januari 1974. Mahasiswa pada saat itu harus berhadapan dengan kekuatan militer yang ditunggangi pemerintah yang berkuasa. Akhirnya nyaris pasca peristiwa tersebut blantika pergerakan mahasiswa sepi.

Akhirnya gerakan massif mahasiswa terjadi lagi pasca pemilu 1977, sampai pemerintah membentuk tim dialog pemerintah yang akan berkampanye di perguruan-perguruan tinggi. Saat itu kampus-kampus diduduki oleh militer. Puncaknya adalah dikeluarkannya SK No.0156/U/1978 tentang NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Penerapannya dilakukan secara paksa oleh pemerintah. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim.

Akibatnya, peran dan gerakan mahasiswa dalam skala intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan komunikasi politik menjadi lumpuh. Mahasiswa semakin apatis sementara rezim penguasa semakin kuat. Akhirnya pergerakan mahasiswa banyak menyusup kedalam gerakan-gerakan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat yang dianggap tidak tersentuh kekuatan refresif penguasa.

Harapan kembali muncul ketika NKK/BKK dihapuskan oleh Mendikbud Fuad Hasan diawal 90-an. Sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) yang menyatakan bahwa hanya Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang diakui sebagai organisasi intra kampus. SMPT membawahi SMF (Senat Mahasiswa Fakultas) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Pro kontra tidak sedikit terjadi karena konsep ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep NKK/BKK sebelumnya.

Ternyata gerakan perjuangan mahasiswa pasca kemerdekaan justru selalu berhadapan dengan rezim penguasa. Status quo yang begitu kuat sangat sulit diruntuhkan karena penguasa di back up oleh militer yang seharusnya netral. Ketika kita balik lembar sejarah bangsa ini, ternyata pergerakan mahasiswa kembali mencapai puncaknya ketika rezim orde baru berhasl diruntuhkan pada tanggal 22 Mei 1998 yang dikenal dengan gerakan reformasi.

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa Menurut Perspektif ‘Saya’
Saya sebenarnya tidak ingin memberi penilaian terhadap kontribusi pergerakan mahasiswa Indonesia sepanjang sejarahnya. Namun dari realita yang ada, saya terpaksa harus mengatakan bahwa pergerakan mahasiswa selalu bergerak dari pondasi yang keropos. Isu yang selalu bisa menyatukan adalah ketika mereka harus berhadapan dengan common enemy (musuh bersama). Seperti yang dilakukan gerakan mahasiswa pra kemerdekaan melawan penjajah dan tatkala mereka harus secara bersama meruntuhkan tembok orde baru yang korup.

Sayangnya, idealisme murni pergerakan mereka sangat mudah tercemari pasca aksi bersama. Terlebih ketika harus berhadapan dengan kedudukan dan janji-janji materil yang menggiurkan. Menurut saya, hal ini adalah salah satu bentuk kemunafikan pergerakan. Akibatnya, proses pembangunan peradaban akan semakin lambat menuju puncaknya. Kita perlu menemukan solusi serius kearah itu dan merupakan suatu hal yang tidak mustahil untuk dilakukan.
Ketika kita berbicara tentang reformasi pergerakan maka sebanarnya kita sedang membicarakan karakteristk dasar seorang aktivis pergerakan sejati. Dan ketika kita ingin membincangkan reformulasi gerakan maka sejujurnya kita sedang membicarakan cita-cita luhur seorang aktivis pergerakan sejati. Agar pergerakan mahasiswa selalu positif dan terarah, maka menurut saya perlu dibangun terlebih dahulu karakter dan keperibadiannya. Nilai-nilai kebaikan universal harus terbentuk terlebih dahulu. Kejujuran, kerja keras, solidaritas, kematangan emosional, kematangan spiritual, dan sebagainya harus terbina dengan baik. Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah sebuah pergerakan semu yang dihiasi dengan kepentingan-kepentingan sesaat.

Oleh karenanya, saya lebih cenderung untuk menerapkan teori pembinaan pribadi menurut perspektif Islam sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabat-sahabatnya. Hal ini dapat kita buktikan dengan keberhasilan Rasulullah saw melakukan perubahan-perubahan besar sejarah manusia yang masih kita rasakan pengaruhnya hingga hari ini. Kurun waktu yang relatif singkat dalam akumulasi masa 23 tahun ternyata begitu kokoh dan mengakar sebagai pondasi peradaban Islam hingga hari ini.

Pembinaan tiga dimensi diri yang meliputi fisik, spritualitas dan intelektualitas secara terencana dan terevaluasi adalah solusi kongkrit untuk melahirkan aktivis pergerakan mahasiswa yang maju dan modern. Ketimpangan salah satu sisi diatas justru akan melahirkan sosok aktivis mahasiswa yang berkepribadian hipokrit. Disamping itu, formulasi pergerakan pun harus jelas. Formulasi meliputi tahapan-tahapan kerja, tujuan dan target baik tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Gerakan pun harus diarahkan kepada pencapaian target membangun masyarakat madani yang beretika, berilmu dan maju. Menurut saya, jika hal itu belum mampu kita formulasikan maka gerakan apapun sifatnya akan selalu berumur pendek. Wallahu a’lam.

Menyoroti Lika-liku Ekonomi Masisir

Menyoroti Lika-liku Ekonomi Masisir

Joko Sumaryono,Lc.

 

           

Pendahuluan

Memperbincangkan seluk-beluk dan lika-liku kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) adalah perbincangan yang sangat menarik. Daya tarik perbincangan tersebut bersumber dari perjalanan kehidupan masisir yang semakin hari semakin dinamis, sehingga ada saja hal yang baru yang semula hanya isu ternyata pada akhirnya memang menjadi sebuah kenyataan yang menghebohkan. Itulah kehidupan masisir yang senantiasa bergerak menuju sebuah perubahan yang signifikan.

            Diantara sekian banyak fenomena masisir yang ingin penulis angkat dalam tulisan sederhana ini adalah menyoroti perjalanan dan lika-liku ekonomi masisir berdasarkan pengamatan kaca mata sederhana penulis. Suatu hal yang perlu digaris bawahi dalam pembicaraan ini adalah, kita mencoba melakukan pembacaan terhadap kondisi riil ekonomi teman-teman mahasiswa yang sedang belajar di bumi Kinanah ini. Pembacaan tersebut barangkali akan bermanfaat buat kita karena kita adalah bagian dari mereka dan tentu saja mereka juga adalah bagian dari kita.

            Secara kesat mata, penulis bisa merasakan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup signifikan kehidupan ekonomi masisir yang penulis amati sejak awal tahun 1999 sampai di awal 2007 ini. Barangkali pandangan subyektif ini juga tidak bisa sekaligus dijadikan sebagai sebuah kesimpulan yang integral. Walaupun demikian, seiring petumbuhan populasi masisir yang semakin tahun semakin meningkat ternyata juga menyisakan sekian banyak ‘PR’ yang belum terjawab dan butuh perhatian seksama dari seluruh elemen masyarakat Indonesia di Mesir.

 

Ketika Harus Memilih

            Secara aksiomatik, setiap masisir punya satu idealisme dan orientasi ketika pertama kali menginjakkan kaki mereka di bumi Kinanah ini. Idealisme dan orientasi itu terakumulasi dalam sebuah cita-cita ‘bagaimana saya bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebanyak-banyaknya dari negeri yang kaya dengan ilmu pengetahuan dan para ulama itu’. Itulah satu-satunya pilihan yang terekam dalam setiap otak kecil kita, sehingga sangat wajar jika pada saat itu semangat dan idealisme yang kita bawa mampu kita pertahankan dengan utuh.

            Namun ternyata, seiring perjalanan waktu idealisme dan orientasi itu bisa sedikit demi sedikit terkikis jika tidak dijaga dengan baik. Pengikisan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang beragam dan kompleks.  Salah satu faktor yang mungkin dapat kita amati adalah, kesenjangan antara kebutuhan yang harus dipenuhi untuk bisa mencapai target-target pencapaian yang diinginkan dengan keterbatasan finansial yang dimiliki. Faktor ini sebenarnya juga sangat nisbi, sebab ternyata cukup banyak orang yang sukses dalam kondisi yang sangat terbatas sekalipun. Bahkan peperangan yang dijalani oleh Rasulullah saw dengan para sahabat pun selalu berakhir dengan kemenangan walaupun dengan perbandingan jumlah yang tidak seimbang.

            Oleh karena itu, yang paling urgen dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya adalah bagaimana setiap individu bisa membangun sebuah motivasi dalam dirinya. Dan sebaik-baik motivasi adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah swt yang mampu melahirkan kekuatan supra natural sehingga bisa mengalahkan semua kekurangan dan keterbatasan yang ada. Oleh karena itu, ketika kita harus dihadapkan kepada sebuah pilihan yang sangat sulit dalam tataran dunia akademis  kita di bumi para anbiya’ ini, maka satu jawaban pasti yang harus kita ucapkan adalah ‘Saya harus bisa belajar dan menyelesaikan studi saya dalam kondisi apapun’. Inilah pilihan yang harus tetap menempati urutan awal dalam fikiran dan perasaan kita.

 

Menjaga Keseimbangan Dua Pilihan

            Diantara kendala yang paling sering dihadapi oleh sebagian besar masisir dalam menapaki hari-hari dibumi Kinanah ini adalah kendala finansial yang tidak seimbang dengan kebutuhan harian yang semakin hari semakin tinggi. Diantara kebutuhan harian yang mengalami kenaikan drastis misalnya adalah sewa rumah. Khusus untuk kawasan H-10 misalnya, harga sewa flat rata-rata mengalami kenaikan sekitar 50 sampai 75 % dari harga semula. Daerah Qatameah dan Tajammu’ yang sebelumnya menjadi solusi alternatif masisir akhir-akhir ini juga mengalami perubahan harga yang cukup signifikan. Dari kenaikan sewa flat saja sudah cukup membuat masisir harus berfikir keras untuk mencari solusi alternatif mengatasi persoalan tersebut.

            Disamping kenaikan sewa flat, harga kebutuhan pokok harian pun mengalami kenaikan. Padahal dulu, murahnya harga kebutuhan pokok di Mesir menjadi suatu kebanggaan masisir. Sebab, dibanding harga kebutuhan pokok di negara-negara Arab atau timur tengah lainnya ternyata Mesir adalah salah satu negara tujuan mahasiswa Indonesia yang menjanjikan biaya hidup murah. Sebenarnya, dibanding negara-negara Arab dan Timur Tengah lainnya Mesir tetap menduduki peringkat pertama biaya hidup yang murah. Tapi kenaikan harga sebagiain besar kebutuhan pokok tersebut juga membuat masisir harus memutar otak dalam mengatur keuangan.

            Pengaturan keuangan yang sulit sebenarnya terjadi karena biaya kebutuhan yang harus dikeluarkan dengan pemasukan tidak seimbang. Sebagai contoh, pemasukan si Fulan setiap bulannya hanya bersumber dari bea siswa al Azhar yang hanya berjumlah 165 LE. Padahal untuk membayar sewa flat dan uang makan saja sudah mencapai angka 140 atau 150 LE. Saldo perbulan berarti hanya tinggal 15 atau 25 LE saja. Padahal biaya tersebut masih harus menutupi kebutuhan transportasi dan kebutuhan harian lainnya. Dalam kondisi seperti ini, ia harus memikirkan solusi lain yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut. Maka diantara solusi tercepat yang biasa digunakan masisir adalah dengan meminjam uang kepada yang lain untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Dan budaya hutang piutang dikalangan masisir sebenarnya adalah hal yang biasa.

            Dalam kondisi demikian, hanya ada dua solusi yang bisa diambil oleh masisir untuk menyelesaikan dan merapikan kondisi keuangannya. Yang pertama adalah, mengirimkan ‘proposal’ kepada orang tua dengan menyampaikan rincian kebutuhan perbulan dengan harapan ‘proposal’ tersebut  bisa dipahami orang tua dan persoalan di Mesir pun bisa diselesaikan dengan cepat. Solusi yang pertama ini juga didukung dengan adanya beberapa jasa pelayanan transfer uang secara cepat dari Indonesia ke Mesir yang dicetuskan juga oleh beberapa orang masisir yang bisa membaca peluang bisnis dengan baik.

            Sedangkan solusi yang kedua adalah, menghasilkan uang sendiri. Bagaimana caranya? Dalam teori ekonomi dikenal dengan Four Quadrant Financial Freedom. Ada empat cara bagaimana orang bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Pertama, kita kenal dengan istilah employee. Orang jenis ini  adalah mereka yang bekerja sebagai karyawan atau pekerja bagi orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah pegawai negeri, militer, karyawan perusahaan, buruh dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang terikat dengan instansi atau perusahaan dan sejenisnya. Yang kedua adalah self employee. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan menggunakan keahlian yang mereka miliki. Yang bisa kita contohkan dalam kategori ini adalah dokter, penyanyi, artis dan sebagainya. Dalam banyak hal mereka lebih bersifat independen dan tidak tergantung dengan instansi atau pihak lain. Yang ketiga adalah bussines. Mereka adalah orang-orang yang memiliki usaha dengan sistem yang permanen, sehingga tanpa kehadiran mereka pun usaha dan bisnis tetap jalan dengan menjalani sistem yang sudah ditetapkan. Sedangkan yang keempat adalah Investor. Mereka adalah orang-orang yang memiliki passive income. Maksudnya adalah, penghasilan yang mereka dapatkan tidak tergantung apakah dia bekerja atau tidak namun penghasilan tetap datang karena modal usaha yang mereka tanamkam pada beberapa perusahaan misalnya.

            Dari empat cara mendapatkan uang diatas, maka kita bisa memetakan bahwa sebagian besar masisir bisa kita kategorikan dalam tataran sederhana kepada tiga kelompok, yaitu kelompok employee, business, dan investor. Sedangkan untuk self employee bisa dikatakan hampir tidak ada walaupun ada masisir yang mewakili kelompok ini, tapi barangkali sangat minim sekali. Sebab yang tergabung dalam kelompok ini adalah mereka yang menjual skill dan keahlian. Sedangkan untuk pengusaha, pekerja dan penanam saham sudah sangat meluas di kalangan masisir akhir-akhir ini.

            Ketika seorang masisir harus dihadapkan untuk menjalani dua pilihan ini (belajar dan menghasilkan uang), maka yang paling ideal adalah kemampuan untuk bisa menyeimbangkan dan memberikan porsi waktu secara proporsional. Menjaga keseimbangan tersebut sangat penting diperhatikan oleh setiap masisir yang menerjunkan dirinya ke dunia kerja ataupun bisnis disamping dunia akademis yang sedang digelutinya. Ia harus bisa menjadikan lulus kuliah tepat pada waktunya sebagai prioritas nomor satu. Sedangkan kerja atau bisnis yang ia jalani hanya dijadikan sebagai penopang dan pendukung studi saja. Sebab jika porsi kerja dan bisnis lebih besar ketimbang porsi studi maka dikhawatirkan studi yang ia geluti akan terbengkalai sehingga tidak bisa diselesaikan tepat waktu.

            Oleh karena itu, seorang masisir harus cerdas dalam memilih kerja dan usaha yang akan ia lakukan. Sebelum ia memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal itu, standar yang harus ia jadikan patokan adalah kerja dan  usaha yang tidak menggangu jam kuliah atau jadwal belajar. Atau minimal mencari kerjaan yang memilki shif kerja yang jelas. Dinegara-negara Eropa dan Amerika, mahasiswa Indonesia yang belajar disana pun tidak sedikit yang bekerja sambil kuliah. Mereka kebanyakan mengambil kerja part time sehingga tidak mengurangi jadwal belajar mereka di kampus atau pun dirumah. Dalam konteks ke-Mesir-an, gerak mahasiswa sebenarnya lebih sempit dibanding teman-teman yang belajar di Eropa dan Amerika. Ketika kita memasuki Mesir, visa di paspor kita sudah ditulis dengan kata-kata work is not permitted (tidak diizinkan bekerja). Maka kerja dan bisnis yang sering digeluti lebih bersifat interen sesama mahasiswa Indonesia atau negara-negara Asia Tenggara lainnya yang kebetulan sedang belajar di bumi Kinanah ini.

           

Geliat Perekonomian Masisir

            Menurut hemat penulis, ada tiga klasifikasi masisir dilihat dari sumber pemasukan ekonomi. Pertama, kelompok mahasiswa yang sudah mendapat jaminan ekonomi seratus persen dari tanah air baik yang beralas dari orang tua, lembaga dan yayasan bea siswa ataupun yang semisalnya. Tanpa harus bekerja dan berusaha untuk menghasilkan uang pun mereka sudah bisa mengatur kebutuhan keuangan tanpa kendala berarti. Bahkan banyak juga diantara kelompok ini yang masih mendapatkan bea siswa dari lembaga-lembaga bea siswa yang ada di Mesir.

            Kedua, kelompok mahasiswa yang hanya mengandalkan bea siswa dari lembaga-lembaga yang ada di Mesir, terlepas apakah bea siswa itu mencukupi atau tidak. Disamping itu, mereka tetap mendapatkan suntikan dana dari orang tua atau lembaga yang ada di Indonesia. Perbedaannya dengan kelompok pertama adalah, suntikan tesebut tidak bersifat rutin dan permanen atau lebih tepat bisa dikatakan lebih bersifat insidentil.

            Ketiga, Kelompok mahasiswa yang sama sekali tidak mendapatkan jaminan atau kiriman dari tanah air. Kebanyakan dari mereka sudah bertekad dari Indonesia untuk hidup mandiri. Diantara kelompok ini ada yang sudah mendapatkan bea siswa dari lembaga-lembaga bea siswa di Mesir, dan tidak sedikit juga dari mereka yang sama sekali belum mendapatkan bea siswa. Mereka harus survive untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

            Dari tiga tipologi masisir diatas, dapat kita tebak bahwa tipologi kedua dan ketiga lebih banyak mendominasi dunia kerja dan dunia bisnis di Mesir. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit juga dari tipologi pertama yang aktif mengikuti geliat usaha dan bisnis walaupun hanya bersifat sebagai investor atau musahim.

            Dinamika perekonomian yang sedang berkembang akhir-akhir ini bisa dikatakan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan. Barangkali hal ini juga sangat dipengaruhi oleh paradigma masisir tentang wirausaha dan entrepreneur. Penulis masih ingat ketika Aa Gym dengan konsep manajemen qalbu dan konsep entrepreneur yang ia tawarkan pada pelatihan dan seminar tahun 2003 yang lalu cukup membuka wacana masisir akan pentingnya membangun sebuah kekuatan ekonomi yang berbasis keislaman dan syari’ah.  Pasca Aa Gym, para tamu dari Indonesia yang sempat datang ke Mesir dan memiliki basis pengetahuan ekonomi dan wira usaha juga selalu dimanfaatkan masisir untuk menambah ilmu dan wawasan seputar dunia usaha dan sejenisnya

Mengintip Dapur Usaha Masisir

        Mahasiswa Indonesia di Mesir sepanjang sejarah dikenal sebagai sosok mahasiswa yang penuh kreatifitas. Kreatifitas itu bisa dibuktikan dengan prestasi yang diraih baik dalam dunia akademis ataupun berbagai event dan aktifitas diluar kampus. Kritis, cerdas, berani dan solider adalah diantara sifat-sifat yang identik dengan masisir. Barangkali disamping sistem al Azhar yang sangat ketat serta kondisi alam dan kultur masyarakat Mesir yang sedemikian rupa, membaur dalam kepribadian masisir yang pada akhirnya menumbuhkan sikap berani untuk survive dalam berbagai persoalan.

            Kreatifitas masisir dalam dunia usaha dan bisnis dapat kita buktikan dengan munculnya para ‘pengusaha’ dalam berbagai bidang. Dalam tulisan ini, penulis belum mampu mengumpulkan data yang valid seputar dunia usaha apa saja yang digeluti oleh masisir akhir-akhir ini. Dari data yang penulis olah, rata-rata dunia usaha yang digeluti oleh  mayoritas masisir adalah perdagangan dan jasa. Sebab rasanya belum ada masisir yang melakukan agro bisnis (pertanian) kecuali teman-teman masisir yang sempat menjual kangkung ataupun serai yang ada di bu’uts, atau memproduksi barang-barang tertentu (industri) dalam skala besar.  Tapi usaha-usaha yang bersifat home industry ternyata ikut juga meramaikan dunia usaha di Mesir.

            Perdagangan yang digeluti oleh masisir pun sangat beragam, mulai dari perdagangan yang sifatnya berskala kecil, menengah dan bahkan ada masisir yang sudah membuka perdagangan antara Indonesia dan Mesir dengan mengirimkan beberapa jenis barang di Mesir ke Indonesia atau sebaliknya mengirim barang dari Indonesia ke Mesir. Namun perdagangan jenis terakhir ini sering mengalami kendala terkhusus yang terkait dengan persoalan pajak dan bea cukai serta izin usaha.

            Diantara usaha kecil yang dapat kita lihat secara kesat mata dilingkungan masisir adalah usaha restauran, laundry, tiket dan travel, rental mobil, penjahitan pakaian, penjualan bahan-bahan makanan khas indonesia, snack dan katering, warnet dan interlokal, multi level marketing, jasa pangkas rambut, jasa transfer, dan sebagainya. Semua usaha itu ternyata mampu memberikan dinamika tersendiri dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dikalangan masisir. Bahkan ada diantara beberapa kandidat master dan doktor di al-Azhar ternyata tidak hanya piawai dalam membalik-balik kitab turats, mereka juga lihai untuk merubah junaih menjadi junaihat.

            Di penghujung tulisan ini penulis ingin mengingatkan kita kembali untuk bisa menggunakan fiqih prioritas dan fiqih muwazanah dalam bersikap dan beraktifitas. Kita jangan terjebak dengan pasir-pasir kecil yang seharusnya kita masukkan kedalam ember kita setelah batu-batu yang besar. Artinya, kita harus tetap memprioritaskan target-target utama kita sebelum mewujudkan target yang sifatnya sekunder. Disamping itu,walaupun kita terpaksa untuk berusaha menutupi kebutuhan harian disela-sela belajar kita, maka hal itu harus tetap di bingkai dengan landasan syar’i dan hukum setempat yang legal.

            Akhirnya, semoga seluruh cita dan asa seluruh masisir yang dibangun karena keikhlasan dan kesederhanaan senantiasa diberi kekuatan oleh Allah swt, sehingga pada akhirnya nanti, kepiawaian masisir dalam mengolah dan memaparkan turats berbanding lurus dengan kelihaian mereka dalam mengolah peluang hingga menghasilkan dinar yang menjadi salah satu modal seorang thalibul ‘ilmi. Wallahu a’lam    

Menjadi Seorang Entrepreneur Sukses …Meretas Kebangkitan Ekonomi

Menjadi Seorang Entrepreneur Sukses

Meretas Kebangkitan Ekonomi

@ Joko Sumaryono, Lc.

PengantarLihat »

Allah Swt. Menciptakan manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna diantara sekian makhluk Allah yang terdapat dilangit dan dibumi. “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. al-Tin: 4). Perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk lain terletak pada akal, disamping perbedaan-perbedaan anatomi dan fisik tentunya. Dengan akal manusia bisa berfikir, dan karena akal pula Allah memberikan taklif dan tanggung jawab untuk menjadi khalifah di permukaan bumi.

Secara mendasar, manusia memiliki dua misi penting dalam hidupnya. Pertama, mengabdikan diri kepada Allah swt dengan menjalankan seluruh taklif ibadah. “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk mengabdi kepada-Ku” (QS. al-Zariyat: 56). Misi ini mengantarkan manusia untuk menjadikan seluruh orientasi hidupnya menuju Allah Swt . Kedua, Manusia diberikan Allah sebuah amanah besar untuk memakmurkan bumi dan menjadi khalifah disana. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,”Aku hendak menjadikan khalifah dibumi” (QS. al-Baqarah: 30). Misi kedua ini mengharuskan manusia untuk mengerahkan seluruh potensi akalnya membangun peradaban dan kemajuan disetiap lini kehidupan.

Dalam tulisan sederhana ini, penulis mencoba mengajak kita semua untuk melihat realitas yang ada disekitar kita, yaitu kemunduran dan keterbelakangan kita secara ekonomi dalam konteks percaturan ekonomi global. Dunia kompetisi dan persaingan yang begitu hebat telah melanda dunia saat ini. Kita tahu, bahwa stabilitas sebuah negara atau peradaban dapat diukur salah satunya dengan sejauh mana stabilitas ekonomi bisa eksis didalamnya.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, realitas perekonomian kita sungguh memprihatinkan. Mari kita coba merenungi fakta berikut ini. Dalam skala internasional, Indonesia adalah negara penghasil timah urutan pertama didunia, urutan ke-3 penghasil batu bara, urutan ke-4 penghasil tembaga, urutan ke-5 penghasil nikel, urutan ke-7 penghasil emas, penghasil 80 % minyak bumi di Asia Tenggara dan bahkan penghasil 35 % gas alam cair di dunia. Akan tetapi ironisnya hutang luar negeri Indonesia saat ini hampir 150 milyar $ atau sama dengan 1380 triliun. Sementara hutang dalam negeri kita saat ini sebesar 650 triliun. Maka total hutang bangsa kita sekitar 2.030 triliun.

Pada sisi lain, saat ini jumlah penganggur sudah mencapai 45,2 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.650.000 orang penganggur terdidik lulusan perguruan tinggi. Dari jumlah penganggur terbuka, 65,71% boleh dikatakan penganggur terdidik yang berpendidikan. Data Sakernas empat tahun terakhir (BPS 1997-2000) menunjukkan bahwa jumlah penganggur lulusan setiap jenjang pendidikan meningkat dari 4 juta orang pada tahun 1997 menjadi 6 juta pada tahun 2000. Jumlah penganggur lulusan sekolah menengah terus meningkat dari 2,1 juta orang pada tahun 1997 menjadi 2,5 juta orang pada tahun 2000. Peningkatan jumlah penganggur ini juga terjadi pada perguruan tinggi, tidak kurang dari 250 ribu penganggur lulusan sarjana setiap tahunnya, 120 ribu lulusan Diploma III, dan 60 ribu lulusan diploma I dan II. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana kita bisa keluar segera dari realitas tersebut, meretas kembali kebangkitan ekonomi kita. Maka diantara solusi yang bisa kita lakukan saat ini adalah, mengembangkan sikap dan semangat entrepreneur atau semangat wirausaha yang mandiri dan independen. Menjalani hidup dengan semangat usaha dan kerja keras yang luar biasa, menciptakan lapangan kerja sendiri dan menghilangkan paradigma berfikir untuk menjadi orang ’gajian’. Sebeb mental seperti ini seperti sebuah virus yang bisa mematikan kreatifitas dan kemandirian.

Mengenal Entrepreneur

Menurut Taufik Bahaudin. seorang konsultan manajemen dalam ruang lingkup Manajemen sumberdaya manusia dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, seorang wirausahawan adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang diidealkan. Perbedaan seorang wiraswastawan dengan seorang wirausahawan adalah, wirausahawan cenderung bermain dengan resiko dan tantangan. Artinya, wirausahawan lebih bermain dengan cara memanfaatkan peluang-peluang tersebut. Sedangkan wiraswastawan lebih cenderung kepada seseorang yang memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk membuka suatu usaha tertentu. Seorang wirausahawan bisa jadi merupakan wiraswastawan, namun wiraswastawan belum tentu wirausaha. Wirausahawan mungkin adalah seorang manajer yang mengelola suatu perusahaan yang bukan miliknya. Namun wiraswastawan adalah seseorang yang memiliki sebuah usaha sendiri.

David Moors dalam bukunya The Enterprising, mengungkapkan bahwa ciri-ciri wirausaha adalah mengenai personality dan pelaku wirausaha itu sendiri, disamping lingkungan yang mendukungnya, juga tugas-tugas yang diemban oleh seorang wirausaha dan karir yang bisa dicapainya. Lebih lanjut katanya, ‘The act of enterpreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experiences’. Personality atau kepribadian seorang wirausaha adalah sikap yang didapatkannya sejak masa kecil. Yaitu sikap merdeka, bebas dan percaya diri. Ketiga sikap ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan kedua orang tua dimana peran ibu yang begitu penuh dedikasi terhadap perkembangan anaknya sangat berpengaruh.

Dalam dunia moderen, kewirausahaan/enterpreneurship baru muncul di akhir tahun tujuh puluhan dan berkembang serta mulai diajarkan di kampus-kampus Amerika, Eropa, Jepang, Korea dan Australia. Perkembangannya sangat pesat sekali. Bahkan di Amerika perkembangan dinamis bakat kewirausahaan, Amerika Serikat mampu mewujudkan lebih dari 15 juta pekerjaan dalam tempo 7 tahun. Sementara di Indonesia, Sebagian besar dari kita belum memi­liki jiwa wiraswasta secara nyata. Jiwa ambtenaar masih me­warnai dan menghantui tingkah laku serta kebiasaan kita.

Mengapa demikian ? Banyak faktor yang menyebabkan­nya. Mulai dari lingkungan keluarga sampai pada kebiasaan kerja atau praktek-praktek yang terjadi di masyarakat memang kurang mendukung tumbuhnya jiwa wiraswasta di kalangan masyarakat kita.

Nilai-nilai yang diyakini masyarakat kita pada hakekatnya merupakan warisan sejarah kolonial. Struktur masyarakat me­mang kurang memberi peluang kepada pribumi bangsa kita untuk bisa menempa, mengembangkan atau memiliki jiwa wiraswasta yang baik. Struktur masyarakat pada masa kolonial sengaja diatur agar kita tidak bisa maju. Kesempatan untuk berkembang dibatasi. Pendidikan sangat dibatasi, hanya orang-orang tertentu saja yang memperoléh peluang untuk rnengenyam kemudahan pendidikan dengan baik.

Kegiatan dan lapangan kerja dibatasi pula. Paling tinggi kita bisa bekerja sebagai pegawai negeri di kantor-kantor pemerintahan, ini pun terbatas bagi orang-orang kaya dan keturunan bangsawan. Sebagian terbesar rakyat justru bekerja sebagai buruh dan petani kecil. Kegiatan di sektor ekonomi, perdagangan dan sektor bisnis lainnya diserahkan pada orang-orang Eropa dan golongan non pribumi. Sektor-sektor inilah yang sebenarnya mampu menempa kewiraswastaan kita. Tetapi justru kita kurang diberi kesempatan di bidang ini. Paling-paling satu dua saja.

Budaya Yang Salah

Masyarakat kita sering mencemooh dan memandang sebelah mata bila ada yang berprofesi sebagai wirausaha, terlebih bila ia berpendidikan tinggi, S2 apalagi S3. Yang sering terlontar adalah: ”Percuma sekolah tinggi dan jauh-juah kalau akhirnya hanya berprofesi sebagai pengusaha dan pedagang”.

Ini tidak terlalu mengherankan karena stigma berpikir masyarakat kita yang sudah sedemikian terpola: “Setelah lulus sekolah lalu cari kerja!”. Sangat jarang yang berpikir, setelah lulus kuliah bagaimana menciptakan pekerjaan. Sehingga sering manusia dalam katagori ini, dibilang orang gila, nggak waras, bodoh dan sederetan kecaman lain. Barulah setelah berhasil, semua orang akan mendekat. Bukankah semua usaha yang dilakukan para entrepreneur sukses pada awalnya dianggap gila hingga ia berhasil?

Masyarakat kita masih sangat nyaman menikmati hidup dengan rizki di jatah alias ”gajian” ketimbang mengolah otaknya untuk survive dengan merambah dunia usaha yang mandiri. Lebih menikmati menjadi birokrat, pejabat ketimbang menjadi seorang wirausahawan. Padahal,diperkirakan pada tahun 2020 nanti, kekuasaan dan dominasi akan bergeser secara perlahan dari birokrasi menjadi kewirausahawan. Maka boleh jadi nanti Bill Gates dipilih sebagai orang paling berkuasa di Inggris.

Bahkan diperkirakan selama 25 tahun kedepan, individu birokrat akan bersikap defensive, mencari cara untuk mempertahankan status keamanan yang sudah ada dari standar hidup mereka, sedangkan individu yang berjiwa wirausaha akan bersikap ofensif, mencari cara memperbesar kesempatan mereka, kemampuan mereka dan kualitas hidup mereka yang meningkat.

Bagaimana Melahirkan Sikap Wirausaha?

Beberapa pakar mengatakan, secara umum jiwa dan kepriba­dian seseorang itu paling tidak di pengaruhi oleh dua hal, yaitu bakat dan lingkungan. Mengingat besarnya proporsi kedua faktor yang cukup membingungkan yaitu 50%:50%, maka agaknya hal ini perlu dikaji lebih lanjut. Apalagi ketika dikaitkan dengan dimasukkannya pendidikan kewirausahaan di dalam kurikulum pendidikan.

John Kao Salah satu pengajar kreativitas dan kewirausahaan di Harvard Business School menganggap bahwa pendidikan kewirausahaan ini cukup penting. Karena pendidikan ternyata mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang sebesar 5O%. Dari institusi pendidikan juga telah banyak lahir konsep-konsep mengenai bagaimana menjadi wirausahawan yang baik. Disamping pendidikan, lingkungan dan budaya ternyata juga memiliki peran penting terhadap paradigma berfikir seseorang tentang dunia wirausaha. Sebagai contoh, etnis China dimanapun berada selalu memilih bisnis ketimbang menjadi birokrat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena budaya tersebut sudah in dalam paradigma mereka.

Motivasi dan Disiplin Diri

Walau demikian, tetap masih ada dilema mengenai faktor terbesar yang membentuk jiwa kewirausahaan. Apakah memang jiwa kewirausahaan itu bisa dibentuk dari lingkungan sekitar atau tergantung pada bakat yang ada pada diri seseorang tersebut.

Meskipun belum tentu bisa dibenarkan, tetapi ada sedikit pemikiran yang perlu disikapi. Dari sekian banyak buku-buku yang menulis dan membahas tentang wirausaha, ternyata para ahli tersebut merasa masih ada satu hal yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi wirausahawan yang sukses, yaitu motivasi dan disiplin diri. Motivasi dan disiplin diri mendapatkan proporsi yang besar untuk membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati, selain faktor bakat dan faktor lingkungan. Artinya, belum tentu seseorang yang memiliki bakat wirausaha dapat menjadi seorang wirausahawan sejati. Seseorang yang telah banyak mengikuti kursus-kursus, pelatihan-pelatihan maupun kuliah yang membahas mengenai cara mengelola suatu bisnis atau apapun, tetap memerlukan motivasi dan disiplin diri dalam menjalankan usahanya. Motivasi dan disiplin diri merupakan faktor penting, selain faktor bakat dan lingkungan, dalam membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati.

Pendidikan dan pengalaman memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan jiwa kewirausahaan. Dengan memiliki banyak pengalaman dan mengikuti banyak pelatihan maupun kursus yang sifatnya pendidikan, maka seseorang barulah lengkap dapat menuju jalur kesuksesan untuk menjadi seorang wirausahawan sejati. Bagaimanpun pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru yang terbaik” masih menjadi relevan dalam hal kewirausahaan. Karena buku-buku yang membahas kewirausahaan di dunia bisnis ternyata tidak terlepas dari pembahasan atas pengalaman beberapa praktisi yang berkecimpung di dalam dunia kewirausahaan.

Belajar teori wirausaha persis sama dengan belajar teori berenang. Sehebat apapun teori berenang seseorang jika ia belum terjun kedalam air, maka ia bukanlah perenang sejati dan belum dikatakan sebagai seorang perenang. Nah, seorang wirausahawan seperti itu juga. Teori yang sudah ia pelajari harus diaplikasikan dalam bentuk usaha nyata sebagai seorang wirausahawan. Jika sudah demikian maka ia telah berubah wujud menjadi wirausahawan sejati. Wallahu a’lam.


Siap Memimpin dan Siap Dipimpin

                             Siap Memimpin dan Siap Dipimpin

   Joko Sumaryono, Lc

 

Disebuah tempat bernama Mu’tah yang terletak 80 km dari Amman ibu kota Yordania, terjadi peristiwa besar dalam sejarah Islam. Betapa tidak, tiga orang sahabat Rasulullah gugur dalam pertempuran tersebut yang bertepatan pada tahun 8H/629 M..Uniknya, peristiwa ini memberikan kita pelajaran berharga tentang makna kepemimpinan ‘qiyadah’ dalam Islam. Zaid bin Haritsah gugur, lalu panji Islam dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib. Pertempuran yang tidak seimbang, dengan jumlah kaum muslimin 3000 dan pasukan Byzantium sebanyak 300.000 (3:10) juga mengantarkan Ja’far kepada syahadah. Posisinya lalu digantikan oleh Abdullah bin Rawahah hingga ia juga syahid sebelum pertempuran usai.

            Namun, perjuangan tidak berarti harus berhenti disitu saja. Khalid bin Walid seorang sahabat Rasulullah yang sangat dikenal piawai dalam strategi perang ditunjuk sebagai ‘qaid’ walaupun baginya pertempuran ini adalah pertempuran pertama yang ia ikuti setelah memeluk Islam. Akhirnya Khalid mampu memukul mundur pasukan Romawi dengan taktik yang ia lakukan tanpa menambah jumlah sahabat yang gugur.

            Penggalan kisah perang Mu’tah, menggambarkan pentingnya regenerasi kepemimpinan hingga bisa menopang perjalanan dakwah kedepan. Tanpa adanya regenerasi maka akan terjadi krisis kepemimpinan, padahal estafet perjalanan dakwah harus terus dilanjutkan. Dalam konteks kekinian, akan lebih ideal jika kita membahasakan seluruh aktifitas kita baik pada tataran individu ataupun kolektif dalam satu bingkai kata ‘dakwah’. Dakwah bukan  dalam pengertiannya yang sempit sebagaimana yang sering kita pahami, tapi lebih luas dari itu adalah akumulusi dari segala bentuk usaha yang dilakukan untuk sebuah proses Islahul Ummah. Jika paradigma ini sudah sama-sama difahami, maka akan sangat mudah untuk membangun sebuah tim kerja yang solid sebagaimana yang kita saksikan dalam perang Mu’tah di atas.

Pergantian pucuk kepemimpinan dalam sebuah komunitas sekecil apapun adalah sunnatullah yang selalu dilalui manusia disepanjang sejarah. Hal ini berangkat dari kebutuhan manusia untuk selalu hidup berdampingan dengan jenisnya yang sering diistilahkan dengan Zoon Politicon (makhluk sosial). Kehidupan berkelompok bagi manusia yang hidup pada zaman pra-sejarah bahkan dibutuhkan sebagai usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka dari berbagai ancaman. Lalu apakah realitas kehidupan modern yang melingkupi manusia saat ini, mampu membuatnya melepaskan diri dari orang lain? Dalam beberapa hal manusia memang sudah mampu untuk tidak membutuhkan orang lain, namun itu tidak mutlak. Ada sisi lain yang menempatkan posisi seorang manusia pada titik lemah dan dia membutuhkan orang lain misalnya perasaan ingin dicintai dan mencintai.

Dalam kerangka hidup berkelompok ini, Islam memiliki konsep yang sangat relevan dengan kebutuhan dan fitrah manusia. Dalam konteks yang lebih ekstrim lagi, Islam mengatakan bahwa setiap individu muslim adalah seorang pemimpin. Makna pemimpin disini lebih spesifik pada tataran individual. Ketika individu-individu ini bertemu dalam sebuah ekosistem yang mana didalamnya terdapat rangkaian kehidupan, maka ia harus meleburkan ke-aku-annya untuk tunduk dan taat kepada seorang pemimpin dalam tataran kolektif yang tidak bertentangan tentunya dengan nilai-nilai syar’i.

Bagi seorang muslim dimanapun dia berada ia mampu menjadi perekat. Karena ia begitu sadar bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi individu lainnya. Karena karakter pribadi muslim adalah seorang pemimpin, maka ia siap untuk memimpin dan siap untuk dipimpin. Nah jika nilai ini sudah mampu kita aplikasikan maka sebuah komunitas atau katakanlah sebuah organisasi akan mampu berjalan dengan solid. Wallahu a’lam    

                          

%d blogger menyukai ini: