Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Abu Fida » Kemenangan Itu Bermula Dari Dua Gua Sempit

Kemenangan Itu Bermula Dari Dua Gua Sempit

Arsip

Kalender

Februari 2015
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Kita selalu bercita-cita meraih kemenangan, tapi sayang kita tak pernah mengerti persepsi menang yang sesungguhnya. Kita masih ragu untuk mempertahankan prinsip dan keyakinan yang benar ditengah hegemoni kebathilan yang dan keraguan yang menggoyahkan iman. Kita jangan pernah takut untuk dikucilkan manusia dan terpinggirkan, karena itu hanya sesaat dan yakinlah bahwa Allah SWT tidak pernah lalai terhadap hamba-hamba-Nya. Kita sangat yakin Allah SWT tidak pernah ingkar janji…walaupun kita tahu bahwa kemenangan itu bisa jadi akan lahir berabad-abad yang akan datang dan setelah silih bergantinya generasi, namun paling tidak kita telah ‘menang’ dalam mempertahankan prinsip dan keyakinan.

Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Joko Sumaryono, Lc.

Paradigma kemenangan sering kali kita definisikan secara sempit dan selalu kita ukur dengan tercapainya cita-cita dan tujuan akhir yang selalu dinanti dan diharapkan. Untuk mendefinisikan ‘menang’ secara subyektif, maka terminologinya akan selalu mengerucut bahwa kemenangan itu akan berbanding lurus dengan kemenangan kisi materil dalam hidup. Nilai kemenangan selalu disetarakan dengan sisi-sisi yang bersifat materil dan dapat dirasakan langsung. Seringkali kita merasa menang ketika kita mampu menyudutkan orang-orang yang tak sepaham dengan kita,  kita merasa menang ketika kita mampu membungkam musuh politik kita, kita merasa menang saat kita dapat semena-mena memuaskan syahwat kebinatangan kita diatas darah dan air mata manusia lainnya. Padahal kemenangan tidak selalu dapat diukur dengan standar demikian.

Persepsi ‘menang’ seperti ini sering dipahami dan diimani oleh manusia-manusia penyembah materi yang sepanjang hidupnya tidak punya tekad dan keberanian untuk mengatakan ‘tidak’ pada kebathilan dan bahkan cendrung memusuhi kebenaran yang terang benderang seperti terangnya sinar matahari. Bagi manusia jenis ini, saat obsesi-obsesi dunia mereka tidak tercapai…

Lihat pos aslinya 2.255 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

FIDA & FATIH sebelum Sekolah Dasar, tak terasa kini sudah kelas 6 dan kelas 4, Ya Allah jadikan keturunan Kami anak2 yang soleh
%d blogger menyukai ini: