Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini » Menelaah Akar Terorisme; Antara  Agama Dan Kepentingan Politik

Menelaah Akar Terorisme; Antara  Agama Dan Kepentingan Politik

Arsip

Kalender

Januari 2015
S S R K J S M
« Sep   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

 Joko Sumaryono, Lc

Sepanjang sejarah Islam, hubungan antara ketinggian nilai-nilai luhur agama dengan prilaku masyarakatnya terukur dengan fakta bahwa keberagamaan umat Islam diberbagai penjuru dunia tampak secara kesat mata dalam karakter kepribadian dan produk budaya mereka sehari-hari. Umat Islam di Eropa telah menyumbangkan produk ilmu pengetahuan dan budaya yang sangat tinggi yang ikut membangun cikal bakal kemajuan Eropa yang kita saksikan pada hari ini. Sentuhan Islam di Kawasan Afrika dan Timur Tengah pun hingga hari ini masih dapat kita rasakan betapa ajaran Islam telah benar-benar memberikan kontribusi besar kemajuan dan kehebatan negara-negara yang berada di kawasan ini. Eksistensi Islam juga semakin kuat di wilayah Asia Tenggara selama berabad-abad lamanya bahkan semakin bias mewarnai percaturan global dunia pada saat ini.

Berbicara aksi teror dan kelompok-kelompok yang muncul sebagai ikon teror, setidaknya sepanjang abad 20 kita tidak mendengar adanya aksi teror yang dihubungkan dengan doktrin atau pemahaman akan doktrin agama yang diperankan oleh kelompok-kelompok baik yang mengatasnamakan Islam atau agama lainnya didunia.  Justru yang menghebohkan dunia dengan segala bentuk aksi terornya sepanjang abad 20 ini adalah aksi-aksi yang dijalankan oleh berbagai kelompok dengan berbagai macam ideologi yang berbeda dan cendrung bermuatan politik.

Sebagai contoh, kelompok teroris yang eksis di Jerman Barat yang dikenal dengan Faksi Pasukan Merah atau masyhur dengan sebutan Baader-Meinhof yang dalam bahasa Jerman disebut Rote Armee Fraktion. Kelompok ini adalah organisasi teroris sayap kiri Jerman Barat yang paling aktif  dan terkemuka pasca perang dunia. Mereka mendeskripsikan diri sebagai “Gerilya Urban”. Faksi ini eksis di Jerman rentang 1970-an hingga akhir 1998. Mereka melakukan banyak Kejahatan, terutama pada musim gugur 1977, yang membawa ke krisis nasional yang dikenal sebagai “Musim Gugur Jerman” (German Autumn). Faksi ini bertanggung jawab atas 34 pembunuhan pejabat dan orang-orang penting serta banyak menyebabkan luka berat dan ringan bagi banyak orang selama 30 tahun keberadaannya. Faksi ini banyak dihubungkan dengan organisasi-organisasi teroris Jerman lainnya seperti J2M dan SPK, dan pada tahun 1980-an kelompok ini juga membangun jaringan dengan kelompok sayap kiri Italia, Brigade Merah; dengan kelompok sayap kiri Belgia, CCC; kelompok sayap kiri Palestina, PFLP; dan kelompok sayap kiri Perancis, Action Directe; serta juga IRA dan PLO.

Tak hanya di Jerman, di Italia pun selalu diwarnai aksi-aksi teror yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang menamakan diri mereka dalam bahasa Italia dengan Brigate Rosse. Kelompok ini eksis sekitar tahun 1970-an. Italia dibuat rusuh dengan ulah mereka selama bertahun-tahun lamanya. Diantara kejahatan yang mereka lakukan adalah penyanderaan dan pembunuhan Mantan Perdana Menteri Italia, Aldo Moro pada tahun 1978. Kelompok yang berideologi Marxisme-Leninisme ini ingin mendirikan negara revolusioner melalui peperangan dan punya target besar untuk mengeluarkan Italia dari NATO.

Berpindah ke Asia, kita juga membaca sejarah bahwa di Jepang dahulu pernah berkembang sebuah kelompok teror yang dikenal dengan Tentara Merah Jepang atau Japanese Red Army. Kelompok ini didirikan oleh seorang mantan agen intelijen perempuan di Jepang yang bernama Fusako Shigenobu. Fusako, dikenal sebagai ‘Ratu Teror Merah’ serta ‘Teroris Perempuan Paling Ditakuti’. Organisasi teror ini berkembang sejak tahun 1970 sampai tahun 2000. Kelompok ini berideologi komunis dan bercita-cita memperjuangkan kesejahteraan kaum proletar yang terpinggir dan berniat menumbangkan kekaisaran Jepang dengan tujuan menabuh genderang dimulainya gerakan revolusi berskala internasional.

Aksi terorisme juga pernah dilakukan kelompok kiri Palestina sekitar tahun 1970-an. Mereka melakukan pembajakan pesawat dan menculik tokoh-tokoh penting. Di Mesir juga ternyata sempat muncul sebuah kelompok yang didirikan dan dipimpin oleh Mahmud Nuruddin yang mereka beri nama Organisasi Nasionalis Nashiriyah. Kelompk ini melakukan aksi pembunuhan dan penculikan diplomat asing di kota Cairo. Namun organisasi yang dipimpin Mahmud Nuruddin ini kemudian berhasil diberangus setelah Mahmud Nuruddin ditangkap dan dipenjara seumur hidup.

Menarik untuk dicermati bahwa dalam rentang waktu tersebut, yaitu sekitar 40 tahun aksi teror merambah dunia, tidak satupun aksi teror yang dituduhkan kepada Islam atau kelompok-kelompok Islam atau organisasi-organisasi pergerakan Islam lainnya. Padahal Islam yang dianut dan diamalkan pada era tersebut tidak berbeda dengan Islam yang dianut pada hari ini. Organisasi dan pergerakan Islam yang berkembang pada era tersebut adalah organisasi yang sama ada pada hari ini. Hal ini menunjukkan sebuah indikasi kepada kita bahwa dogma Islam dan ajarannya jauh dari nilai-nilai kekerasan dan aksi teror sebagaimana yang disematkan kepada Islam dan organisasi-organisasi dakwah dan pergerakan Islam pada hari ini.

Perlu dicatat bahwa akar terorisme sebenarnya sangat erat hubungannya dengan iklim politik yang sedang berlangsung. Kedikatatoran dan sikap politik yang skeptis dan arogan ternyata berpeluang melahirkan gerakan ‘balas dendam’ atas kesewenang-wenangan, penindasan, perbudakan dan semua bentuk pemaksaan dan ketidakadilan. Kondisi sulit ini secara merata hampir menimpa seluruh negara yang memiliki basis Islam mayoritas. Namun demikian, hanya segelintir kelompok Islam saja yang kemudian terpengaruh untuk melakukan aksi balas dendam ‘teror’ sebagai bentuk ketidakpuasan.

Terorisme bukanlah embrio yang lahir dari rahim agama atau teks-teks agama sebagaimana yang diekspos media. Bahkan di era 70-an terorisme lahir dari rahim ideologi marxisme dan nasionalisme. Terorisme justru lahir sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan, kesewenang-wenangan yang diperankan oleh para penguasa otoriter dan diktator. Situasi ini memaksa para pemuda khususnya, dan masyarakat umum dalam berbagai level untuk melakukan perlawanan dalam berbagai bentuk. Dalam prakteknya, perlawanan ini bisa saja berubah dari aksi damai sampai kepada aksi dengan menggunakan berbagai bentuk kekerasan. Dan sangat perlu dicatat bahwa dalam kelompok manapun dan apapun ideologi yang dianut, biasanya memiliki spirit dan ideologi pemikiran yang dijadikan landasan gerak dan juang. Jadi tidak benar jika dogma agama (baca;islam) saja sebagai salah satu penyebab terjerumusnya orang-orang yang menganut faham kekerasan untuk melakukan balas dendam atau untuk memperjuangkan sebuah perubahan.

Agama (islam),adalah agama yang sakral dan suci dari bias terorisme. Islam dengan seluruh ajaran luhurnya adalah agama yang membangun, bukan menghancurkan. Islam adalah agama yang ramah dan menghormati, bukan menghabisi kelompok lain. Islam adalah agama kasih sayang dan cinta kasih, bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun. Tidak benar jika seorang muslim menjalankan ajaran Islamnya dengan secara sempurna lalu ia berubah wujud menjadi seorang teroris yang menakutkan. Tidak benar jika Islam diperjuangkan dalam setiap dimensi kehidupan, penganutnya serta merta di cap sebagai ‘Islam Politik’ yang pada akhirnya dengan mudah akan dikelompokkan kepada kelompok teroris yang harus diberangus.

Munculnya aksi terorisme seharusnya menjadi tanggung jawab tokoh-tokoh politik yang ‘gagal’ menjalankan amanah sebagai pengemban amanat rakyat. Kepercayaan rakyat dimanipulasi untuk melanggengkan kekuasaan dan memperkaya diri sendiri, kroni dan kerabat dekat. Kekuasaan dijadikan sebagai alat untuk menutup rapat pintu kebebasan berpendapat dan berkumpul, disamping kekuasaan juga sering dijadikan tameng untuk menutupi semua kejahatan-kejahatan politik yang dilakukan. Kekuasaan yang otoriter cendrung digunakan untuk membangun dinasti kekuasaan yang mengakar dan diwaktu yang sama mematikan peran kelompok-kelompok lain yang berseberangan baik secara pemikiran dan politik apalagi jika politik tersebut mengatasnamakan entitas Islam.

Rezim penguasa yang tiran biasanya dengan sangat mudah untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya dengan melemparkan isu terorisme, isu separatisme, isu Islam garis keras dan sekian banyak ikon negatif lainnya yang disandingkan dengan Islam. Dalam tradisi masyarakat Islam, kita selalu menyaksikan fakta  bahwa saat ajaran Islam difahami dengan baik dan benar serta diamalkan secara integral dan komprehensif, maka secara otomatis hal tersebut akan merubah tatanan dan cara berfikir masyrakatnya kepada sebuah pemikiran maju dan konstruktif. Pemikiran ini dalam prakteknya akan melahirkan gerakan ‘politik’ dalam pengertiannya yang luas, yaitu semangat untuk membangun dan melakukan perubahan-perubahan besar menuju kehidupan yang lebih baik. Apakah spirit ini kemudian dengan mudah diklaim sebagai embrio akan lahirnya bayi yang bernama “Terorisme” ? dan apakah pemikiran ini termasuk yang harus diberangus dan tidak diperbolehkan untuk berkembang karena dapat mengancam stabilitas? Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: