Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Tazkirah » Haji Dan Spirit al-Tajarrud

Haji Dan Spirit al-Tajarrud

Arsip

Kalender

September 2012
S S R K J S M
« Mei   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Joko Sumaryono, Lc

Memaksimalkan al-Tajarrud

Secara substansi, seluruh ibadah mahdah berorientasi kepada totalitas penghambaan kepada Allah Swt. Totalitas tersebut sangat erat kaitannya dengan niat yang tersirat didalam hati dan yang terucap oleh lisan. Oleh karenanya, niat sangat menentukan nilai aktifitas seorang muslim pada semua dimensi kehidupannya. Kwalitas ibadahpun pada akhirnya berbanding lurus dengan ketulusan dan kebersihan niat. Semakin niatnya hanya menempati ruang yang sangat pribadi antara dirinyay dan Tuhannya, maka secara ril terbukti saat aktualisasi ketundukan dan penyerahan diri yang tanpa batas.

Ibadah yang didasari keikhlasan akan terlepas dari sekat-sekat kepentingan, perasaan ingin dipuji, keinginan untuk menggapai popularitas dan lebih naïf lagi jika ibadah tersebut hanya dijadikan simbol formalitas yang menandakan perubahan strata sosial dirinya dalam pandangan manusia dan bukan mengharapkan pahala dari Allah. Terkait hal tersebut, ibadah haji termasuk ibadah yang sangat rentan untuk dijadikan sebagai lambang kebesaran nama, tingginya strata kemapanan hidup bahkan pongahnya kekuasaan. Hal itu dikarenakan ibadah ini adalah ibadah yang menuntut pelakunya untuk mempersiapkan fisik, mental, keimanan dan keyakinan dan tak luput adalah kemampuan finansial yang semakin tahun semakin meningkat tinggi seiring meningkatnya minat dan permintaan umat islam seluruh dunia untuk menunaikannya.

Jika seorang muslim benar-benar memahami fiqih haji dan maqasid serta hikmah yang terkandung didalamnya, maka ia akan menemukan kesimpulan mendasar bahwa ritual haji yang ia lakukan sejak ihram di miqat hingga thawaf wada’ pada hakikatnya adalah visualisasi perjalanan manusia kembali kepada zat yang maha kuasa, yaitu Allah swt. Ingatlah bahwa ibadah haji bukan perjalanan wisata dan pelepas kewajiban saja. Haji adalah perjalanan menuju Allah yang dengannya jiwa tersucikan, spritualitas diri membumbung tinggi, keterikatan hati dengan ketaatan dan ketundukan semakin membuat siapapun yang melakukannya dengan sempurna maka ia akan kembali menjelma seperti seorang bayi tanpa dosa.

Jika kita telisik lebih dalam, keseluruhan manasik haji mengajarkan manusia untuk melepaskan seluruh identitas, jabatan, kedudukan, kekuasaan, kesombongan, sifat ego, untuk melebur menjadi seorang manusia yang benar-benar lemah dan tanpa kuasa dihadapan Allah swt. Haji adalah benar-benar melepaskan diri dari kehidupan dunia, keluar dari seluruh ikatan-ikatan dan label duniawi, meleburkan semua keinginan-keinginan nafsu dan bisikan hati untuk siap menerima kehendak Allah dan tuntutan-Nya secara totalitas.

Setiap individu muslim harus benar-benar mengetahui dan menghayati makna dan tujuan ibadah haji secara integral dan komperehensif. Pelajaran dan hikmah haji tidak akan mampu diketahui dan dirasakan jika makna dan tujuan ibadah tersebut hanya diketahui secara parsial dan terpisah. Beberapa hikmah berikut diharapkan dapat mengingatkan kembali pelajaran dan hikmah dari setiap manasik yang dilakukan:

Ihram

Kain putih yang hanya terdiri dari beberapa potong sebagai penutup tubuh tanpa dijahit adalah simbol persatuan dan kesatuan seluruh jenis umat manusia dengan segala perbedaannya. Itulah simbol persamaan dan kesetaraan. Tidak ada perbedaan strata antara seorang jenderal dengan seorang kopral, antara seorang direktur dengan karyawan biasa, sudah tidak terlihat lagi perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, baik presiden dan rakyat biasa pun semuanya dihadapan Allah adalah sama.       

Disamping itu, ihram juga simbol totalitas penyerahan diri kepada Allah swt. Dua potong kain ihram tanpa dijahit itu adalah perumpamaan bahwa tidak ada yang mampu dibanggakan oleh manusia jika dihadapkan dengan kekuasaan dan kekayaan milik Allah swt. Oleh karena itu, seharusnya manusia benar-benar melepaskan seluruh pakaian kesombongannya, keangkuhannya, nafsu dan syahwat yang membinasakan untuk tunduk sujud melantunkan talbiyah yang merupakan lafaz kesaksian seorang hamba untuk selalu taat memenuhi suruhan-Nya dan melepaskan semua ikatan-ikatan duniawi guna mampu melaksanakan semua suruhan-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Thawaf

Mengelilingi ka’bah dengan thawaf sebanyak tujuh kali adalah terjemahan dari ketundukan manusia akan kebesaran Allah Swt. Ka’bah adalah baitullah dan tempat pertama yang dijadikan manusia sebagai tempat ibadah menyembah Allah Swt. Ka’bah adalah lambang kesucian dan kiblat seluruh umat islam sedunia saat melaksanakan shalat.

Jika kita telaah hikmah thawaf ini melalui teori dan hukum alam yang telah diteliti dan disimpulkan oleh para ilmuwan, maka kita akan menemukan sebuah kesimpulan bahwa dalam hukum alam materi, sesuatu yang lebih kecil akan selalu mengitari sesuatu yang lebih besar. Bulan berputar mengelilingi bola bumi, bumi berputar mengitari matahari, kemudian matahari berputar mengeliling galaxy, dan seterusnya galaxy yang lebih kecil berputar mengelilingi galaxy yang lebih besar.

Thawaf juga dapat diterjemahkan sebagai simbol ketergantungan seorang manusia kepada Allah dengan seluruh perasaan, perkataan dan perbuatannya. Saat thawaf, seorang muslim melakukannya dengan ketundukan hati, kesadaran akal dan dilakukan secara tanpa paksaan oleh seluruh anggota tubuhnya.

Putaran yang mengelilingi satu titik, yaitu ka’bah adalah perumpamaan bahwa seluruh orientasi kehidupan manusia pada hakikatnya adalah perjalanan menuju Allah Swt. Sebagai makhluk yang lemah, manusia menyadari bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Sa’i antara bukit Shafa dan Marwa

Saat menunaikan sa’i dengan berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa seakan-akan revisualisasi kisah perjalanan keluarga bapak para nabi, yaitu Ibrahim Alaihissalam dan keluarganya yang patut diteladani oleh generasi hari ini. Kisah dan profil perjuangan yang maha agung yang mengajarkan kepada kita arti sebuah ketundukan dan pengorbanan serta usaha dan kerja keras tanpa batas. Profil penyerahan diri yang dilakukan secara totalitas kepada perintah Allah tanpa harus memaksakannya sesuai dengan pemikiran dan logika manusia biasa yang sangat lemah dan terbatas.

Sa’i juga mengajarkan urgensi sebuah kerja, usaha, dan sikap optimis dalam mewujudkan impian dan cita-cita. Seorang muslim tidak layak bermalas-malasan, berpangku tangan dan berangan-angan saja. Prasyarat sebuah kejayaan selalu ditandai dengan totalitas usaha yang tak kenal lelah dan putus asa.

Wukuf di Arafah

Secara kesat mata, wukuf di Arafah adalah prosesi pelepasan seluruh ikatan keduniaan yang melekat pada diri seorang hamba dan mengosongkan hati dan seluruh perasaannya hanya untuk satu tujuan, yaitu berzikir dan menghayati kebesaran dan keagungan Allah Swt. Perjalanan ratusan bahkan ribuan mil dari seluruh penjuru dunia hingga titik puncak saat berada di Arafah adalah simbol pertemuan dan pengenalan Allah lebih dekat.

Kesusahan, kelelahan dan rintangan yang sangat beraneka ragam dalam perjalanan haji, kembali menyadarkan manusia akan hakikat sebuah ubudiyah dan pertemuan dengan Allah Swt. Manusia semakin akan sadar bahwa dirinya sebenarnya tidak memiliki apa-apa dan sangat hina dengan segala kotoran dan dosa-dosanya ditengah-tengah manusia lainnya saat menadahkan tangan berdoa, berzikir dan bersimpuh dengan tetes air mata penyesalan yang mendalam.

Wukuf di Arafah juga mengingatkan kembali kepada setiap individu muslim bahwa ikatan persaudaraan diantara mereka pada dasarnya diikat oleh kesamaan akidah dan ubudiyah. Ikatan persaudaraan ini sangat agung dimata Allah, karena Allah yang telah mempertemukan hati setiap mukmin dalam naungan cinta-Nya.

Pertemuan jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia di Padang Arafah adalah satu-satunya konferensi terbesar peradaban manusia di muka bumi. Seyogyanya, pertemuan besar tersebut dapat menghasilkan keputusan-keputusan besar untuk masa depan umat yang pernah memimpin dunia tersebut selama berabad-abad. Akan tetapi realitanya tidak demikian, umat Islam masih terseok-seok dengan persoalan-persoalan kebodohan, kemiskinan, dekadensi moral, kesyirikan baik disengaja atau tidak dan sekian banyak persoalan yang tak mampu mereka selesaikan sendiri.

Momen Arafah adalah momen sangat penting bagi umat ini untuk memperbarui janjinya dihadapan Allah Swt. Kesempatan untuk saling menyelesaikan pertikaian dan perselisihan diantara sesama saudara seakidah. Saatnya umat ini mulai berfikir dan bergerak untuk segera menggantikan hegemoni kapitalisme dan westernisasi yang menjajah. Itu semua akan mampu dilakukan, jika umat ini kembali meluruskan niat untuk segera menata kembali hubungannya secara vertikal kepada Allah Swt dan hubungan dengan sesama manusia secara horizontal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

FIDA & FATIH sebelum Sekolah Dasar, tak terasa kini sudah kelas 6 dan kelas 4, Ya Allah jadikan keturunan Kami anak2 yang soleh
%d blogger menyukai ini: