Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini » Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa

Arsip

Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Jan   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Joko Sumaryono, Lc.

Kilas Balik Sejarah
Pentas sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tak pernah sepi dari teriakan dan kobaran semangat kaum muda anak bangsa ini. Dari Sabang sampai Merauke genderang perlawanan terhadap imperialisme ditabuhkan. Seolah tak peduli dengan tetesan darah dan air mata yang harus mengalir, yang penting nusantara tercinta harus segera dihantar ke gerbang kebebasan dan kemerdekaan. Perjuangan berat dan melelahkan itu pun akhirnya melabuhkan kemenangan. Tepat pada hari Jumát 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. “Merdeka” itulah satu kata yang penuh getar terucap dari lisan yang diiringi kepalan tangan penuh semangat menggelora.

Gerbang kemerdekaan dan kebebasan yang telah terbuka di depan mata, ternyata bukan perjuangan singkat. Daftar pejuang dan pahlawan nasional yang kita baca dalam literatur sejarah, adalah salah satu bukti perjalanan panjang tersebut. Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Fatahillah, serta sederetan nama lainnya telah mengukir sejarah Indonesia dengan tinta emas. Mereka telah membaktikan kiprah mereka untuk membangun republik ini. Begitu pula dengan peran yang telah disumbangkan oleh kelompok cendikiawan dan kaum terpelajar diawal abad ke-20 yang nanti pada akhirnya menjadi cikal bakal perjuangan nasional.

Tanggal 20 Mei 1908, bisa dicatat sebagai pondasi awal pergerakan mahasiswa Indonesia dalam struktur dan mekanisme organisasi modern. Sejumlah pelajar dan mahasiswa yang sedang belajar di STOVIA saat itu, merasa perlu membangun sikap kritis terhadap kondisi bangsa Indonesia yang masih terbelenggu rantai penjajahan. Keresahan mereka untuk membangkitkan kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, mendorong mereka untuk mendirikan Boedi Oetomo. Pergerakan yang mereka munculkan berkembang pesat, bahkan hanya dalam satu tahun tepatnya di akhir tahun 1909 Boedi Oetomo telah memiliki 40 cabang dengan jumlah 10.000 anggota.
Pergerakan mahasiswa Indonesia pada dekade itu ternyata tidak hanya berkembang didalam negeri saja. Di Belanda, Mohammad Hatta yang pada saat itu sedang belajar di Handelshogeschool Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeninging pada tahun 1922 dan pada akhirnya berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1925. Hatta bersama kawan-kawannya saat itu sangat intens melakukan berbagai diskusi.

Selain Boedi Oetomo dan Indische Vereeninging yang dipelopori kelompok mahasiswa dan kaum terpelajar, pergerakan bangsa ini pun juga diwarnai dengan munculnya Indische Partij yang menekankan prioritas perjuangan mereka untuk melontarkan propaganda kemerdekaan. Diwaktu yang bersamaan Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama serta Indische Sociaal Democratische Vereeninging yang berhaluan marxisme juga ikut bergelut dalam medan pergerakan dan perjuangan meraih kemerdekaan.
Lahirnya Boedi Oetomo, Indische Vereeninging, dan gerakan terorganisir lainnya pada saat itu, adalah satu episode penting permulaan sejarah Indonesia yang ditandai dengan tampilnya generasi pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai garda terdepan. Estafet perjuangan terus bergulir seperti bola salju yang terus menggelinding, semakin lama semakin membesar. Kesadaran akan persatuan dan kesatuan bangsa untuk bangkit meraih kemerdekaan terus terpatri. Perbedaan suku, bangsa dan bahasa akhirnya melebur setelah sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan.

Prototipe Pergerakan Mahasiswa
Dalam perjalanannya, romantisme pergerakan mahasiswa tidak bisa lepas dari dua segmentasi dasar perjuangan. Seyogyanya dua sisi ini menyatu dalam diri seorang mahasiswa sehingga tercipta tokoh pergerakan yang cerdas dalam tataran konsep dan idealisme, sekaligus cakap mengarahkan arus pergerakan ditengah-tengah perubahan kehidupan sosial yang bergerak sangat cepat.

Pertama, mahasiswa sebagai kelompok elit masyarakat berbasis intelektual dan wawasan yang mumpuni, terus bergerak menggali berbagai potensi kecendikiaan. Intelektual muda dengan latar belakang sains yang berbeda adalah ciri utama mereka. Segala sesuatunya harus dukur dengan standarisasi rasional. Diskusi dan tukar fikiran adalah aktivitas harian yang selalu hangat dalam setiap obrolan. Mereka terus bergerak dalam poros pergerakan intelektual dan dunia akademis yang terus berkembang. Oleh karenanya prestasi akademis harus terus dipacu. Berbagai spesialisasi bidang ilmu harus melahirkan para doktor dan tenanga ahli yang tahan uji.

Kedua, Sosok mahasiswa adalah individu yang tidak terpisahkan dari komunitas sosial kemasyarakatan. Dinamika sosial pun sudah tentu harus menjadi dinamika mereka. Sangat naif jika seorang mahasiswa tidak pernah memberikan kontribusi positif buat masyarakat disekitarnya. Apalagi jika tidak pernah berinteraksi serta tidak peduli. Seorang mahasiswa dalam tataran ideal harus menjadi aktor utama perubahan dan pergerakan sosial. Inderanya selalu peka dengan perubahan sekitar, ia selalu terpanggil untuk memberikan solusi. Bahkan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan pun mereka tidak gentar untuk meneteskan peluh dan darah mereka demi membebaskan republik ini dari belenggu penindasan dan penjajahan.

Saya kira siapapun tidak berbeda pendapat tentang dua dimensi dasar karakter pergerakan dan perjuangan mahasiswa diatas. Namun kita akan mulai berbeda pendapat ketika dihadapkan pada realita pluralisme ideologi dan kepentingan yang diusung sebuah pergerakan apapun. Begitu juga dengan pergerakan mahasiswa sepanjang sejarah bangsa ini juga tidak bisa dilepaskan dari pergolakan dan pertarungan ideologi yang diusungnya. Terkadang kepentingan pada saat-saat tertentu atau kondisi yang mengharuskan, membuat gerakan mahasiswa tidak bisa dilakukan dalam satu pola saja.
Sejarah mencatat, rentang waktu antara tahun 1920 – 1945 gerakan mahasiswa hanya terkonsentrasi pada diskusi-diskusi seputar diskursus kebangsaan seperti yang dilakukan oleh Soetomo yang mendirikan Indonesische Studie-club pada tanggal 29 Oktober 1924. Atau apa yang dicetuskan Soekarno dan beberapa rekannya di Sekolah Tinggi Teknik Bandung yang berhaluan nasionalis ketika mendirikan Algemeene Studie-club pada tanggal 11 Juli 1925.
Mari kita coba bandingkan tatkala pergerakan mahasiswa memasuki era 45-an. Sikap penjajah Belanda yang liberal akhirnya melatar belakangi perubahan kebijakan pergerakan dari kelompok studi dan kajian menjadi kekuatan politik dalam bentuk partai dengan tujuan untuk memperoleh basis massa yang lebih luas. Penjajah Belanda cukup memberikan kebebasan bergerak yang cukup pada saat itu. Situasi akhirnya berbeda ketika Jepang berkuasa. Pergerakan mahasiswa yang sudah mengarah kepada pergerakan politik di berangus oleh Jepang. Kegiatan dan aksi yang berbau politik dilarang. Seluruh organisasi pelajar dan mahasiswa dibubarkan sehingga sempat terjadi insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang berujung ketika beberapa mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.

Praktis, akibat situasi yang tidak kondusif untuk melakukan pergerakan massif dan terbuka akhirnya mayoritas pergerakan mahasiswa kembali terfokus kepada kelompok studi dan kajian strategis dengan mengambil tempat asrama-asrama mahasiswa sebagai pusat kegatan. Tercatat dalam sejarah, ada tiga asrama mahasiswa yang terkenal berperan besar melahirkan sejumlah tokoh nasional era 45-an. Tiga asrama itu adalah asrama Menteng Raya, asrama Cikini dan asrama Kebon Sirih. Barangkali nama Chairul Saleh dan Sukarni yang terkenal dalam sejarah dengan peristwa Rengasdengklok, adalah mereka yang mewakili era gerakan bawah tanah pada saat itu.

Pasca kemerdekaan spirit pergerakan mahasiswa mulai berubah haluan. Banyak aksi mahasiswa berlindung dibawah payung partai-partai politik. Persoalannya bukan berarti gerakan mahasiswa tidak boleh berafiliasi kepada ideologi atau partai tertentu. Yang menjadi masalah adalah, ketika fanatisme kelompok diangkat diatas kepentingan nasional bangsa ini. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) lebih dekat dengan PNI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan partai NU, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dekat dengan PSI atau Himpunan Mahasiswa Islam yang saat itu dekat dengan Masyumi.

Gerakan Mahasiswa dan NKK/BKK
Kontribusi gerakan mahasiswa terhadap pembangunan bangsa pasca kemerdekaan sampai tahun 1978 sangat nyata. Bahkan orde baru yang baru saja runtuh, kelahirannya di bidani oleh gerakan mahasiswa yang dikenal dengan sebutan angkatan ’66. Para aktivis mahasiswa era ini akhirnya menjadi tokoh nasional dan pemegang kebijakan pemerintahan. Beberapa nama seperti Akbar Tanjung, Cosmas Batubara dan Sofyan Wanandi adalah tokoh nasional yang mewakili angkatan 66.

Namun realitas berbeda ketika memasuki era 70-an. Orde baru yang berkuasa saat itu mulai mendapatkan kritikan dan protes mahasiswa. Konfrontasi fisik pun tak terelakkan. Orde baru yang didukung militer berusaha menjadi tameng orde baru. Mahasiswa menilai Golkar sudah mulai melakukan kecurangan. Bahkan beberapa kebijakan pemerintah sudah dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil. Privatisasi dilakukan disana sini. Imbasnya lahir gerakan ‘Mahasiswa Menggugat’ yang dipelopori Arif Budiman serta Wilopo yang membentuk Komite Anti Korupsi.

Sampai tahun 1974 berbagai peristiwa terjadi. Akibat kekecewaan terhadap pemerintah, lahirlah Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dipelopori oleh Arif Budiman dan Adnan Buyung Nasution dan puncak kekecewaan tersebut terjadi pada peristiwa Malari pada tanggal 15 Januari 1974. Mahasiswa pada saat itu harus berhadapan dengan kekuatan militer yang ditunggangi pemerintah yang berkuasa. Akhirnya nyaris pasca peristiwa tersebut blantika pergerakan mahasiswa sepi.

Akhirnya gerakan massif mahasiswa terjadi lagi pasca pemilu 1977, sampai pemerintah membentuk tim dialog pemerintah yang akan berkampanye di perguruan-perguruan tinggi. Saat itu kampus-kampus diduduki oleh militer. Puncaknya adalah dikeluarkannya SK No.0156/U/1978 tentang NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Penerapannya dilakukan secara paksa oleh pemerintah. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim.

Akibatnya, peran dan gerakan mahasiswa dalam skala intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan komunikasi politik menjadi lumpuh. Mahasiswa semakin apatis sementara rezim penguasa semakin kuat. Akhirnya pergerakan mahasiswa banyak menyusup kedalam gerakan-gerakan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat yang dianggap tidak tersentuh kekuatan refresif penguasa.

Harapan kembali muncul ketika NKK/BKK dihapuskan oleh Mendikbud Fuad Hasan diawal 90-an. Sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) yang menyatakan bahwa hanya Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang diakui sebagai organisasi intra kampus. SMPT membawahi SMF (Senat Mahasiswa Fakultas) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Pro kontra tidak sedikit terjadi karena konsep ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep NKK/BKK sebelumnya.

Ternyata gerakan perjuangan mahasiswa pasca kemerdekaan justru selalu berhadapan dengan rezim penguasa. Status quo yang begitu kuat sangat sulit diruntuhkan karena penguasa di back up oleh militer yang seharusnya netral. Ketika kita balik lembar sejarah bangsa ini, ternyata pergerakan mahasiswa kembali mencapai puncaknya ketika rezim orde baru berhasl diruntuhkan pada tanggal 22 Mei 1998 yang dikenal dengan gerakan reformasi.

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa Menurut Perspektif ‘Saya’
Saya sebenarnya tidak ingin memberi penilaian terhadap kontribusi pergerakan mahasiswa Indonesia sepanjang sejarahnya. Namun dari realita yang ada, saya terpaksa harus mengatakan bahwa pergerakan mahasiswa selalu bergerak dari pondasi yang keropos. Isu yang selalu bisa menyatukan adalah ketika mereka harus berhadapan dengan common enemy (musuh bersama). Seperti yang dilakukan gerakan mahasiswa pra kemerdekaan melawan penjajah dan tatkala mereka harus secara bersama meruntuhkan tembok orde baru yang korup.

Sayangnya, idealisme murni pergerakan mereka sangat mudah tercemari pasca aksi bersama. Terlebih ketika harus berhadapan dengan kedudukan dan janji-janji materil yang menggiurkan. Menurut saya, hal ini adalah salah satu bentuk kemunafikan pergerakan. Akibatnya, proses pembangunan peradaban akan semakin lambat menuju puncaknya. Kita perlu menemukan solusi serius kearah itu dan merupakan suatu hal yang tidak mustahil untuk dilakukan.
Ketika kita berbicara tentang reformasi pergerakan maka sebanarnya kita sedang membicarakan karakteristk dasar seorang aktivis pergerakan sejati. Dan ketika kita ingin membincangkan reformulasi gerakan maka sejujurnya kita sedang membicarakan cita-cita luhur seorang aktivis pergerakan sejati. Agar pergerakan mahasiswa selalu positif dan terarah, maka menurut saya perlu dibangun terlebih dahulu karakter dan keperibadiannya. Nilai-nilai kebaikan universal harus terbentuk terlebih dahulu. Kejujuran, kerja keras, solidaritas, kematangan emosional, kematangan spiritual, dan sebagainya harus terbina dengan baik. Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah sebuah pergerakan semu yang dihiasi dengan kepentingan-kepentingan sesaat.

Oleh karenanya, saya lebih cenderung untuk menerapkan teori pembinaan pribadi menurut perspektif Islam sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabat-sahabatnya. Hal ini dapat kita buktikan dengan keberhasilan Rasulullah saw melakukan perubahan-perubahan besar sejarah manusia yang masih kita rasakan pengaruhnya hingga hari ini. Kurun waktu yang relatif singkat dalam akumulasi masa 23 tahun ternyata begitu kokoh dan mengakar sebagai pondasi peradaban Islam hingga hari ini.

Pembinaan tiga dimensi diri yang meliputi fisik, spritualitas dan intelektualitas secara terencana dan terevaluasi adalah solusi kongkrit untuk melahirkan aktivis pergerakan mahasiswa yang maju dan modern. Ketimpangan salah satu sisi diatas justru akan melahirkan sosok aktivis mahasiswa yang berkepribadian hipokrit. Disamping itu, formulasi pergerakan pun harus jelas. Formulasi meliputi tahapan-tahapan kerja, tujuan dan target baik tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Gerakan pun harus diarahkan kepada pencapaian target membangun masyarakat madani yang beretika, berilmu dan maju. Menurut saya, jika hal itu belum mampu kita formulasikan maka gerakan apapun sifatnya akan selalu berumur pendek. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: