Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Refleksi » Ketika Cinta Harus Diekspresikan…!

Ketika Cinta Harus Diekspresikan…!

Arsip

Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Ketika Cinta Harus Diekspresikan…!

@ Joko Sumaryono

 

Suatu hari, seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Khubaib RA berada dalam tawanan kaum musyrikin Qurays. Abu Sofyan yang saat itu masih musyrik sempat menguji Khubaib dengan sebuah pertanyaan. “Wahai Khubaib, apakah engkau bersedia jika nabimu yang bernama Muhammad dipenggal lehernya untuk menggantikan posisimu dan engkau akan kami bebaskan untuk kembali kepada keluargamu?”. Dengan lantang dan berani Khubaib menjawab: “Demi Allah, aku tidak rela jika  Rasulullah SAW disakiti dan berada dalam posisiku seperti saat ini, sedang aku duduk bercengkerama bersama keluargaku”.

Sungguh menakjubkan! Ekspresi cinta yang diungkapkan Khubaib RA terhadap Rasulullah SAW telah menggetarkan relung perasaan Abu Sofyan pada hari itu. Kemudian dengan lirih Abu Sofyan berucap: “Sungguh aku belum pernah melihat diantara manusia seseorang mencintai sahabatnya seperti ekspresi cinta sahabat Muhammad kepada Muhammad”. Subhanallah.

Ekspresi cinta yang telah diungkapkan Khubaib bukanlah ekspresi cinta buta, atau taklid, atau karena fanatisme tak beralasan. Ekspresi yang lahir adalah buah dari cinta yang dibangun dengan keimanan dan keikhlasan yang sesungguhnya. Cinta yang telah dibangun dengan pondasi yang sangat kokoh dalam sekolah kehidupan yang ia jalani bersama Rasulullah saw. Baginya, yang berharga dalam hidup ini bukanlah kemewahan, pangkat dan jabatan, bahkan nyawanya sekalipun. Tapi hal yang lebih berharga bagi dirinya adalah keselamatan Rasulullah saw dan eksistensi risalah dakwah yang sedang ia perjuangkan.

Adakah yang lebih berharga bagi seseorang di dunia ini selain diri serta nyawanya? Dan apakah setiap orang mampu menyerahkan yang paling berharga yang ia miliki untuk orang lain? Jika pun ia terpaksa menyerahkannya, apakah ia mampu memberikannya dengan penuh keikhlasan dan kecintaan? Khubaib dan para sahabat-sahabat generasi awal telah menjawabnya dalam berbagai mauqif yang tercatat dalam sejarah emas perjalanan dakwah ini.      

Empat belas abad pun telah berlalu begitu cepat sejak Rasulullah mendakwahkan risalah Islam ini. Jatuh bangun peradaban Islam juga telah kita saksikan bersama dalam pentas sejarah yang terus bergulir. Namun ada satu pertanyaan yang terus mengusik alam bawah sadar kita, mengapa kwalitas keimanan dan militansi kita pada hari ini sangat jauh dibandingkan  generasi awal pioneer-pioneer dakwah ini? Bukankah jumlah kita pada hari ini jauh lebih banyak dibandingkan jumlah sahabat terdahulu? Bukankah fasilitas yang kita miliki pada hari ini jauh lebih baik dari apa yang dimiliki Rasulullah dan para sahabat? Tapi mengapa tetap saja kita tidak mampu untuk memimpin peradaban pada hari ini?

Saya teringat dengan sebuah ungkapan hikmah yang diucapkan oleh Imam Syafii dalam salah satu bait syairnya ia mengatakan al muhibbu liman yuhibbu muthi’un (orang yang mencintai seseorang akan selalu taat dan patuh kepada orang yang dicintainya). Bahkan Rasulullah juga dengan tegas mengatakan bahwa tidak sempurna iman seorang hamba sampai ia mampu mencintai Allah dan Rasul melebihi dari cintanya kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Umar bin Khattab ٌRA adalah salah seorang sahabat yang telah membuktikan hal itu. Inilah yang barangkali membedakan kita dengan generasi awal dakwah ini. Kwalitas cinta lah yang telah membedakan kita dengan mereka. Kwalitas tersebut juga pada akhirnya yang membedakan ekspresi cinta yang diungkapkan para sahabat dengan ekspresi cinta kita pada hari ini.

Adalah sebuah keniscayaan ketika Allah swt mengabadikan pujian-Nya kepada generasi ini di dalam al-Qur’an. Bahkan Rasulullah pun memberikan bintang penghargaan kepada mereka dengan gelar Khairul Qurun Qarni…(sebaik-baik masa adalah masaku, kemudian setelahnya dan setelahnya…!). Cinta yang dibarengi pengorbanan di jalan jihad, suka dan duka, adalah memori indah para sahabat bersama sang uswah. Ketulusan cinta dan pengorbanan inilah yang telah merubah wajah dunia hingga hari ini.

Lalu mengapa kita begitu penting untuk mengekspresikan cinta kita kepada baginda Nabi SAW? Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat-sahabatnya: “Tahukah kalian siapakah hamba Allah yang paling mulia?” sahabat kemudian menjawab: “Para Malaikat ya Rasulullah, dan para nabi, merekalah yang paling mulia”. Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Ya, mereka mulia tapiu ada yang lebih mulia”. Para sahabat terdiam lalu berkata: “Adakah kami yang mulia itu Ya Rasulullah?”. Rasulullah SAW kemudian berkata: “Tentulah kalian mulia, kalian dekat denganku, kalian membantu perjuanganku, tapi bukan kalian yang aku maksudkan..” Rasulullah SAW lalu menundukkan wajahnya…Baginda meneteskan airmata sehingga membasahi pipi dan janggutnya kemudian ia berkata: “Wahai sahabatku, mereka adalah manusia-manusia yang lahir jauh setelah wafatnya aku, mereka sangat mencintai Allah dan tahukah kalian mereka tak pernah melihatku, mereka tidak hidup dekat denganku seperti kalian, tapi mereka sangat rindu kepadaku dan saksikanlah wahai sahabatku bahwa aku sangat rindu kepada mereka…merekalah umatku”.

Namun amat sangat disayangkan, kerinduan baginda Rasul SAW kepada kita justru telah kita nodai sendiri pada hari ini. Mayoritas umatnya sudah banyak yang tidak kenal dengan baginda nabi SAW, kepribadiannya, sepak terjang perjuangannya, dan pengorbanan dakwah yang telah ia wariskan berpuluh-puluh generasi sampai hari ini.

Pada hari ini, kita merasa cukup mencintai baginda Nabi dengan mengadakan peringatan hari kelahirannya dengan berbagai acara resmi bahkan sampai upacara kenegaraan. Atau sebagian besar kita justru bangga sudah sempat mengabadikan foto dimakam beliau, atau sebagian kita ukiran nama Beliau sebagai hiasan dan pajangan yang dibuat diatas batu pualam berhiaskan manikam dan sebagainya. Sungguh, kita telah salah dalam mengekspresikan cinta kita.

Mayoritas kita pada hari ini tak mampu mengekspresikan cinta yang sesungguhnya. Semua cinta yang diungkapkan terlalu formalitas bahkan terkesan penuh basa basi. kita sudah tidak lagi tahu hakikat cinta yang seharusnya diekspresikan dengan penuh keikhlasan dan ketundukan. Bahkan loyalitas pun bisa mengalahkan loyalitas penuh kepadanya karena alasan kedudukan atau profesi. Bahkan ketika keagungan namanya dicabik-cabik oleh pers Barat, karikaturnya di tampilkan dengan tendensi hinaan, risalahnya ditafsirkan secara rasialis oleh orang-orang yang hatinya berpenyakit masih banyak diantara kita masih bersikap acuh seolah-olah semua itu adalah hal biasa dan tidak merasa tersinggung.

Namun demikian, juga sangat tidak bijak saat Rasulullah SAW dihina lalu kita membalasnya dengan tindakan balas dendam dan kekerasan, karena hal itu tidak serta merta akan membuat persoalan berhenti sampai disitu saja. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bahwa kejahatan yang dibalas dengan kebaikan adalah sarana terbaik untuk mengajarkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama cinta kasih yang visi misinya adalah memberi rahmat kepada alam dan seisinya.

Kemenangan dan kejayaan peradaban kaum muslimin sepanjang sejarah selalu berbanding lurus dengan komitmen iman dan amal yang berkesinambungan.  Komitmen iman dan amal tersebut tidak bisa dipisahkan dengan pemahaman dan pengenalan yang komprehensif sejarah hidup dan perjuangan dakwah Rasulullah saw. Pembelajaran sejarah perlu ditingkatkan lebih dari hanya sekedar menghafal urutan peristiwa saja. Akan tetapi, lebih dari itu adalah pembelajaran nilai dan pelajaran sejarah dari setiap peristiwa tersebut untuk dianalisa dan dikembangkan menjadi sebuah tesis dan kesimpulan.

Disamping itu, membangun kesadaran kolektif untuk menghidupkan sunnah dalam pengertian yang lebih komprehensif, lebih luas dan tidak skeptis juga merupakan salah satu unsur terpenting wujud ekspresi cinta yang sesungguhnya. Kesadaran tersebut harus dibentuk dan dikembangkan dari komponen terkecil tatanan masyarakat sosial, dalam hal ini adalah peran institusi keluarga atau rumah tangga. Orientasi yang dibangun dalam rumah tangga adalah menciptakan generasi yang faham dan mengerti tentang hakikat cinta dan perjuangan Rasulullah SAW.

Institusi sekolah pun, tak kalah penting memegang peranan untuk mendidik dan membangun makna cinta ini. Sistem pendidikan yang selama ini telah kita lalui perlu ditinjau kembali kelayakannya. Karena kenyataanya, out put yang dihasilkan tidak memiliki kompetensi yang mumpuni secara akademik dan moral. Sangat perlu dikembangkan sebuah metode baru membangun karakter generasi muda saat ini dengan karakter iman dan semangat jihad sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah kepada generasi muda para sahabat dizamannya.

Ketika cinta harus diekspresikan, ketika loyalitas harus memilih, dan ketika kesadaran bangkit untuk berbenah diri, maka tidak ada kata lain selain menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh tauladan terbaik, mengikuti sunnahnya, berkorban untuk membelanya serta yang terpenting lagi adalah meneruskan estafeta dakwahnya dalam suka maupun duka.

Wallahu a’lam

Muhammad

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: