Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini » Menyoroti Lika-liku Ekonomi Masisir

Menyoroti Lika-liku Ekonomi Masisir

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Menyoroti Lika-liku Ekonomi Masisir

Joko Sumaryono,Lc.

 

           

Pendahuluan

Memperbincangkan seluk-beluk dan lika-liku kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) adalah perbincangan yang sangat menarik. Daya tarik perbincangan tersebut bersumber dari perjalanan kehidupan masisir yang semakin hari semakin dinamis, sehingga ada saja hal yang baru yang semula hanya isu ternyata pada akhirnya memang menjadi sebuah kenyataan yang menghebohkan. Itulah kehidupan masisir yang senantiasa bergerak menuju sebuah perubahan yang signifikan.

            Diantara sekian banyak fenomena masisir yang ingin penulis angkat dalam tulisan sederhana ini adalah menyoroti perjalanan dan lika-liku ekonomi masisir berdasarkan pengamatan kaca mata sederhana penulis. Suatu hal yang perlu digaris bawahi dalam pembicaraan ini adalah, kita mencoba melakukan pembacaan terhadap kondisi riil ekonomi teman-teman mahasiswa yang sedang belajar di bumi Kinanah ini. Pembacaan tersebut barangkali akan bermanfaat buat kita karena kita adalah bagian dari mereka dan tentu saja mereka juga adalah bagian dari kita.

            Secara kesat mata, penulis bisa merasakan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup signifikan kehidupan ekonomi masisir yang penulis amati sejak awal tahun 1999 sampai di awal 2007 ini. Barangkali pandangan subyektif ini juga tidak bisa sekaligus dijadikan sebagai sebuah kesimpulan yang integral. Walaupun demikian, seiring petumbuhan populasi masisir yang semakin tahun semakin meningkat ternyata juga menyisakan sekian banyak ‘PR’ yang belum terjawab dan butuh perhatian seksama dari seluruh elemen masyarakat Indonesia di Mesir.

 

Ketika Harus Memilih

            Secara aksiomatik, setiap masisir punya satu idealisme dan orientasi ketika pertama kali menginjakkan kaki mereka di bumi Kinanah ini. Idealisme dan orientasi itu terakumulasi dalam sebuah cita-cita ‘bagaimana saya bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebanyak-banyaknya dari negeri yang kaya dengan ilmu pengetahuan dan para ulama itu’. Itulah satu-satunya pilihan yang terekam dalam setiap otak kecil kita, sehingga sangat wajar jika pada saat itu semangat dan idealisme yang kita bawa mampu kita pertahankan dengan utuh.

            Namun ternyata, seiring perjalanan waktu idealisme dan orientasi itu bisa sedikit demi sedikit terkikis jika tidak dijaga dengan baik. Pengikisan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang beragam dan kompleks.  Salah satu faktor yang mungkin dapat kita amati adalah, kesenjangan antara kebutuhan yang harus dipenuhi untuk bisa mencapai target-target pencapaian yang diinginkan dengan keterbatasan finansial yang dimiliki. Faktor ini sebenarnya juga sangat nisbi, sebab ternyata cukup banyak orang yang sukses dalam kondisi yang sangat terbatas sekalipun. Bahkan peperangan yang dijalani oleh Rasulullah saw dengan para sahabat pun selalu berakhir dengan kemenangan walaupun dengan perbandingan jumlah yang tidak seimbang.

            Oleh karena itu, yang paling urgen dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya adalah bagaimana setiap individu bisa membangun sebuah motivasi dalam dirinya. Dan sebaik-baik motivasi adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah swt yang mampu melahirkan kekuatan supra natural sehingga bisa mengalahkan semua kekurangan dan keterbatasan yang ada. Oleh karena itu, ketika kita harus dihadapkan kepada sebuah pilihan yang sangat sulit dalam tataran dunia akademis  kita di bumi para anbiya’ ini, maka satu jawaban pasti yang harus kita ucapkan adalah ‘Saya harus bisa belajar dan menyelesaikan studi saya dalam kondisi apapun’. Inilah pilihan yang harus tetap menempati urutan awal dalam fikiran dan perasaan kita.

 

Menjaga Keseimbangan Dua Pilihan

            Diantara kendala yang paling sering dihadapi oleh sebagian besar masisir dalam menapaki hari-hari dibumi Kinanah ini adalah kendala finansial yang tidak seimbang dengan kebutuhan harian yang semakin hari semakin tinggi. Diantara kebutuhan harian yang mengalami kenaikan drastis misalnya adalah sewa rumah. Khusus untuk kawasan H-10 misalnya, harga sewa flat rata-rata mengalami kenaikan sekitar 50 sampai 75 % dari harga semula. Daerah Qatameah dan Tajammu’ yang sebelumnya menjadi solusi alternatif masisir akhir-akhir ini juga mengalami perubahan harga yang cukup signifikan. Dari kenaikan sewa flat saja sudah cukup membuat masisir harus berfikir keras untuk mencari solusi alternatif mengatasi persoalan tersebut.

            Disamping kenaikan sewa flat, harga kebutuhan pokok harian pun mengalami kenaikan. Padahal dulu, murahnya harga kebutuhan pokok di Mesir menjadi suatu kebanggaan masisir. Sebab, dibanding harga kebutuhan pokok di negara-negara Arab atau timur tengah lainnya ternyata Mesir adalah salah satu negara tujuan mahasiswa Indonesia yang menjanjikan biaya hidup murah. Sebenarnya, dibanding negara-negara Arab dan Timur Tengah lainnya Mesir tetap menduduki peringkat pertama biaya hidup yang murah. Tapi kenaikan harga sebagiain besar kebutuhan pokok tersebut juga membuat masisir harus memutar otak dalam mengatur keuangan.

            Pengaturan keuangan yang sulit sebenarnya terjadi karena biaya kebutuhan yang harus dikeluarkan dengan pemasukan tidak seimbang. Sebagai contoh, pemasukan si Fulan setiap bulannya hanya bersumber dari bea siswa al Azhar yang hanya berjumlah 165 LE. Padahal untuk membayar sewa flat dan uang makan saja sudah mencapai angka 140 atau 150 LE. Saldo perbulan berarti hanya tinggal 15 atau 25 LE saja. Padahal biaya tersebut masih harus menutupi kebutuhan transportasi dan kebutuhan harian lainnya. Dalam kondisi seperti ini, ia harus memikirkan solusi lain yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut. Maka diantara solusi tercepat yang biasa digunakan masisir adalah dengan meminjam uang kepada yang lain untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Dan budaya hutang piutang dikalangan masisir sebenarnya adalah hal yang biasa.

            Dalam kondisi demikian, hanya ada dua solusi yang bisa diambil oleh masisir untuk menyelesaikan dan merapikan kondisi keuangannya. Yang pertama adalah, mengirimkan ‘proposal’ kepada orang tua dengan menyampaikan rincian kebutuhan perbulan dengan harapan ‘proposal’ tersebut  bisa dipahami orang tua dan persoalan di Mesir pun bisa diselesaikan dengan cepat. Solusi yang pertama ini juga didukung dengan adanya beberapa jasa pelayanan transfer uang secara cepat dari Indonesia ke Mesir yang dicetuskan juga oleh beberapa orang masisir yang bisa membaca peluang bisnis dengan baik.

            Sedangkan solusi yang kedua adalah, menghasilkan uang sendiri. Bagaimana caranya? Dalam teori ekonomi dikenal dengan Four Quadrant Financial Freedom. Ada empat cara bagaimana orang bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Pertama, kita kenal dengan istilah employee. Orang jenis ini  adalah mereka yang bekerja sebagai karyawan atau pekerja bagi orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah pegawai negeri, militer, karyawan perusahaan, buruh dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang terikat dengan instansi atau perusahaan dan sejenisnya. Yang kedua adalah self employee. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan menggunakan keahlian yang mereka miliki. Yang bisa kita contohkan dalam kategori ini adalah dokter, penyanyi, artis dan sebagainya. Dalam banyak hal mereka lebih bersifat independen dan tidak tergantung dengan instansi atau pihak lain. Yang ketiga adalah bussines. Mereka adalah orang-orang yang memiliki usaha dengan sistem yang permanen, sehingga tanpa kehadiran mereka pun usaha dan bisnis tetap jalan dengan menjalani sistem yang sudah ditetapkan. Sedangkan yang keempat adalah Investor. Mereka adalah orang-orang yang memiliki passive income. Maksudnya adalah, penghasilan yang mereka dapatkan tidak tergantung apakah dia bekerja atau tidak namun penghasilan tetap datang karena modal usaha yang mereka tanamkam pada beberapa perusahaan misalnya.

            Dari empat cara mendapatkan uang diatas, maka kita bisa memetakan bahwa sebagian besar masisir bisa kita kategorikan dalam tataran sederhana kepada tiga kelompok, yaitu kelompok employee, business, dan investor. Sedangkan untuk self employee bisa dikatakan hampir tidak ada walaupun ada masisir yang mewakili kelompok ini, tapi barangkali sangat minim sekali. Sebab yang tergabung dalam kelompok ini adalah mereka yang menjual skill dan keahlian. Sedangkan untuk pengusaha, pekerja dan penanam saham sudah sangat meluas di kalangan masisir akhir-akhir ini.

            Ketika seorang masisir harus dihadapkan untuk menjalani dua pilihan ini (belajar dan menghasilkan uang), maka yang paling ideal adalah kemampuan untuk bisa menyeimbangkan dan memberikan porsi waktu secara proporsional. Menjaga keseimbangan tersebut sangat penting diperhatikan oleh setiap masisir yang menerjunkan dirinya ke dunia kerja ataupun bisnis disamping dunia akademis yang sedang digelutinya. Ia harus bisa menjadikan lulus kuliah tepat pada waktunya sebagai prioritas nomor satu. Sedangkan kerja atau bisnis yang ia jalani hanya dijadikan sebagai penopang dan pendukung studi saja. Sebab jika porsi kerja dan bisnis lebih besar ketimbang porsi studi maka dikhawatirkan studi yang ia geluti akan terbengkalai sehingga tidak bisa diselesaikan tepat waktu.

            Oleh karena itu, seorang masisir harus cerdas dalam memilih kerja dan usaha yang akan ia lakukan. Sebelum ia memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal itu, standar yang harus ia jadikan patokan adalah kerja dan  usaha yang tidak menggangu jam kuliah atau jadwal belajar. Atau minimal mencari kerjaan yang memilki shif kerja yang jelas. Dinegara-negara Eropa dan Amerika, mahasiswa Indonesia yang belajar disana pun tidak sedikit yang bekerja sambil kuliah. Mereka kebanyakan mengambil kerja part time sehingga tidak mengurangi jadwal belajar mereka di kampus atau pun dirumah. Dalam konteks ke-Mesir-an, gerak mahasiswa sebenarnya lebih sempit dibanding teman-teman yang belajar di Eropa dan Amerika. Ketika kita memasuki Mesir, visa di paspor kita sudah ditulis dengan kata-kata work is not permitted (tidak diizinkan bekerja). Maka kerja dan bisnis yang sering digeluti lebih bersifat interen sesama mahasiswa Indonesia atau negara-negara Asia Tenggara lainnya yang kebetulan sedang belajar di bumi Kinanah ini.

           

Geliat Perekonomian Masisir

            Menurut hemat penulis, ada tiga klasifikasi masisir dilihat dari sumber pemasukan ekonomi. Pertama, kelompok mahasiswa yang sudah mendapat jaminan ekonomi seratus persen dari tanah air baik yang beralas dari orang tua, lembaga dan yayasan bea siswa ataupun yang semisalnya. Tanpa harus bekerja dan berusaha untuk menghasilkan uang pun mereka sudah bisa mengatur kebutuhan keuangan tanpa kendala berarti. Bahkan banyak juga diantara kelompok ini yang masih mendapatkan bea siswa dari lembaga-lembaga bea siswa yang ada di Mesir.

            Kedua, kelompok mahasiswa yang hanya mengandalkan bea siswa dari lembaga-lembaga yang ada di Mesir, terlepas apakah bea siswa itu mencukupi atau tidak. Disamping itu, mereka tetap mendapatkan suntikan dana dari orang tua atau lembaga yang ada di Indonesia. Perbedaannya dengan kelompok pertama adalah, suntikan tesebut tidak bersifat rutin dan permanen atau lebih tepat bisa dikatakan lebih bersifat insidentil.

            Ketiga, Kelompok mahasiswa yang sama sekali tidak mendapatkan jaminan atau kiriman dari tanah air. Kebanyakan dari mereka sudah bertekad dari Indonesia untuk hidup mandiri. Diantara kelompok ini ada yang sudah mendapatkan bea siswa dari lembaga-lembaga bea siswa di Mesir, dan tidak sedikit juga dari mereka yang sama sekali belum mendapatkan bea siswa. Mereka harus survive untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

            Dari tiga tipologi masisir diatas, dapat kita tebak bahwa tipologi kedua dan ketiga lebih banyak mendominasi dunia kerja dan dunia bisnis di Mesir. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit juga dari tipologi pertama yang aktif mengikuti geliat usaha dan bisnis walaupun hanya bersifat sebagai investor atau musahim.

            Dinamika perekonomian yang sedang berkembang akhir-akhir ini bisa dikatakan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan. Barangkali hal ini juga sangat dipengaruhi oleh paradigma masisir tentang wirausaha dan entrepreneur. Penulis masih ingat ketika Aa Gym dengan konsep manajemen qalbu dan konsep entrepreneur yang ia tawarkan pada pelatihan dan seminar tahun 2003 yang lalu cukup membuka wacana masisir akan pentingnya membangun sebuah kekuatan ekonomi yang berbasis keislaman dan syari’ah.  Pasca Aa Gym, para tamu dari Indonesia yang sempat datang ke Mesir dan memiliki basis pengetahuan ekonomi dan wira usaha juga selalu dimanfaatkan masisir untuk menambah ilmu dan wawasan seputar dunia usaha dan sejenisnya

Mengintip Dapur Usaha Masisir

        Mahasiswa Indonesia di Mesir sepanjang sejarah dikenal sebagai sosok mahasiswa yang penuh kreatifitas. Kreatifitas itu bisa dibuktikan dengan prestasi yang diraih baik dalam dunia akademis ataupun berbagai event dan aktifitas diluar kampus. Kritis, cerdas, berani dan solider adalah diantara sifat-sifat yang identik dengan masisir. Barangkali disamping sistem al Azhar yang sangat ketat serta kondisi alam dan kultur masyarakat Mesir yang sedemikian rupa, membaur dalam kepribadian masisir yang pada akhirnya menumbuhkan sikap berani untuk survive dalam berbagai persoalan.

            Kreatifitas masisir dalam dunia usaha dan bisnis dapat kita buktikan dengan munculnya para ‘pengusaha’ dalam berbagai bidang. Dalam tulisan ini, penulis belum mampu mengumpulkan data yang valid seputar dunia usaha apa saja yang digeluti oleh masisir akhir-akhir ini. Dari data yang penulis olah, rata-rata dunia usaha yang digeluti oleh  mayoritas masisir adalah perdagangan dan jasa. Sebab rasanya belum ada masisir yang melakukan agro bisnis (pertanian) kecuali teman-teman masisir yang sempat menjual kangkung ataupun serai yang ada di bu’uts, atau memproduksi barang-barang tertentu (industri) dalam skala besar.  Tapi usaha-usaha yang bersifat home industry ternyata ikut juga meramaikan dunia usaha di Mesir.

            Perdagangan yang digeluti oleh masisir pun sangat beragam, mulai dari perdagangan yang sifatnya berskala kecil, menengah dan bahkan ada masisir yang sudah membuka perdagangan antara Indonesia dan Mesir dengan mengirimkan beberapa jenis barang di Mesir ke Indonesia atau sebaliknya mengirim barang dari Indonesia ke Mesir. Namun perdagangan jenis terakhir ini sering mengalami kendala terkhusus yang terkait dengan persoalan pajak dan bea cukai serta izin usaha.

            Diantara usaha kecil yang dapat kita lihat secara kesat mata dilingkungan masisir adalah usaha restauran, laundry, tiket dan travel, rental mobil, penjahitan pakaian, penjualan bahan-bahan makanan khas indonesia, snack dan katering, warnet dan interlokal, multi level marketing, jasa pangkas rambut, jasa transfer, dan sebagainya. Semua usaha itu ternyata mampu memberikan dinamika tersendiri dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dikalangan masisir. Bahkan ada diantara beberapa kandidat master dan doktor di al-Azhar ternyata tidak hanya piawai dalam membalik-balik kitab turats, mereka juga lihai untuk merubah junaih menjadi junaihat.

            Di penghujung tulisan ini penulis ingin mengingatkan kita kembali untuk bisa menggunakan fiqih prioritas dan fiqih muwazanah dalam bersikap dan beraktifitas. Kita jangan terjebak dengan pasir-pasir kecil yang seharusnya kita masukkan kedalam ember kita setelah batu-batu yang besar. Artinya, kita harus tetap memprioritaskan target-target utama kita sebelum mewujudkan target yang sifatnya sekunder. Disamping itu,walaupun kita terpaksa untuk berusaha menutupi kebutuhan harian disela-sela belajar kita, maka hal itu harus tetap di bingkai dengan landasan syar’i dan hukum setempat yang legal.

            Akhirnya, semoga seluruh cita dan asa seluruh masisir yang dibangun karena keikhlasan dan kesederhanaan senantiasa diberi kekuatan oleh Allah swt, sehingga pada akhirnya nanti, kepiawaian masisir dalam mengolah dan memaparkan turats berbanding lurus dengan kelihaian mereka dalam mengolah peluang hingga menghasilkan dinar yang menjadi salah satu modal seorang thalibul ‘ilmi. Wallahu a’lam    

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: