Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini » Siap Memimpin dan Siap Dipimpin

Siap Memimpin dan Siap Dipimpin

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

                             Siap Memimpin dan Siap Dipimpin

   Joko Sumaryono, Lc

 

Disebuah tempat bernama Mu’tah yang terletak 80 km dari Amman ibu kota Yordania, terjadi peristiwa besar dalam sejarah Islam. Betapa tidak, tiga orang sahabat Rasulullah gugur dalam pertempuran tersebut yang bertepatan pada tahun 8H/629 M..Uniknya, peristiwa ini memberikan kita pelajaran berharga tentang makna kepemimpinan ‘qiyadah’ dalam Islam. Zaid bin Haritsah gugur, lalu panji Islam dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib. Pertempuran yang tidak seimbang, dengan jumlah kaum muslimin 3000 dan pasukan Byzantium sebanyak 300.000 (3:10) juga mengantarkan Ja’far kepada syahadah. Posisinya lalu digantikan oleh Abdullah bin Rawahah hingga ia juga syahid sebelum pertempuran usai.

            Namun, perjuangan tidak berarti harus berhenti disitu saja. Khalid bin Walid seorang sahabat Rasulullah yang sangat dikenal piawai dalam strategi perang ditunjuk sebagai ‘qaid’ walaupun baginya pertempuran ini adalah pertempuran pertama yang ia ikuti setelah memeluk Islam. Akhirnya Khalid mampu memukul mundur pasukan Romawi dengan taktik yang ia lakukan tanpa menambah jumlah sahabat yang gugur.

            Penggalan kisah perang Mu’tah, menggambarkan pentingnya regenerasi kepemimpinan hingga bisa menopang perjalanan dakwah kedepan. Tanpa adanya regenerasi maka akan terjadi krisis kepemimpinan, padahal estafet perjalanan dakwah harus terus dilanjutkan. Dalam konteks kekinian, akan lebih ideal jika kita membahasakan seluruh aktifitas kita baik pada tataran individu ataupun kolektif dalam satu bingkai kata ‘dakwah’. Dakwah bukan  dalam pengertiannya yang sempit sebagaimana yang sering kita pahami, tapi lebih luas dari itu adalah akumulusi dari segala bentuk usaha yang dilakukan untuk sebuah proses Islahul Ummah. Jika paradigma ini sudah sama-sama difahami, maka akan sangat mudah untuk membangun sebuah tim kerja yang solid sebagaimana yang kita saksikan dalam perang Mu’tah di atas.

Pergantian pucuk kepemimpinan dalam sebuah komunitas sekecil apapun adalah sunnatullah yang selalu dilalui manusia disepanjang sejarah. Hal ini berangkat dari kebutuhan manusia untuk selalu hidup berdampingan dengan jenisnya yang sering diistilahkan dengan Zoon Politicon (makhluk sosial). Kehidupan berkelompok bagi manusia yang hidup pada zaman pra-sejarah bahkan dibutuhkan sebagai usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka dari berbagai ancaman. Lalu apakah realitas kehidupan modern yang melingkupi manusia saat ini, mampu membuatnya melepaskan diri dari orang lain? Dalam beberapa hal manusia memang sudah mampu untuk tidak membutuhkan orang lain, namun itu tidak mutlak. Ada sisi lain yang menempatkan posisi seorang manusia pada titik lemah dan dia membutuhkan orang lain misalnya perasaan ingin dicintai dan mencintai.

Dalam kerangka hidup berkelompok ini, Islam memiliki konsep yang sangat relevan dengan kebutuhan dan fitrah manusia. Dalam konteks yang lebih ekstrim lagi, Islam mengatakan bahwa setiap individu muslim adalah seorang pemimpin. Makna pemimpin disini lebih spesifik pada tataran individual. Ketika individu-individu ini bertemu dalam sebuah ekosistem yang mana didalamnya terdapat rangkaian kehidupan, maka ia harus meleburkan ke-aku-annya untuk tunduk dan taat kepada seorang pemimpin dalam tataran kolektif yang tidak bertentangan tentunya dengan nilai-nilai syar’i.

Bagi seorang muslim dimanapun dia berada ia mampu menjadi perekat. Karena ia begitu sadar bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi individu lainnya. Karena karakter pribadi muslim adalah seorang pemimpin, maka ia siap untuk memimpin dan siap untuk dipimpin. Nah jika nilai ini sudah mampu kita aplikasikan maka sebuah komunitas atau katakanlah sebuah organisasi akan mampu berjalan dengan solid. Wallahu a’lam    

                          

Iklan

1 Komentar

  1. arif berkata:

    siap laksanakan pak!
    pak saya mengambil artikel bapak untuk tugas…
    trimakasih telah membantu..
    jzkm

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Teman tertawa bersama tak perlu kau risaukan karena selagi kau punya sesuatu maka kau akan dikelilingi oleh siapapun walaupun kau bukan apa-apa

Teman sejati adalah teman yang kau merasa nyaman bersamanya dalam suka ataupun duka, sahabat yang mengingatkanmu akan perjuangan dan misi hidup sesungguhnya dan orang-orang yang selalu menanyakan kabarmu tanpa punya kepentingan dengan dirimu

Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dalam naungan Cinta-Mu, pertemukan kami dalam ketaatan, satukan kami dalam perjuangan, dan teguhkan janji-janji kami untuk menyerahkan seluruh hidup kami untuk membela Agama-Mu

Ya Allah....kuatkanlah ribath ukhuwah ini, kekalkanlah cinta-cinta kami, tunjukilah jalan-jalan cinta tersebut dan penuhilah cinta kami dengan hidayah dan petunjuk-Mu..... Cairo, 13 Oktober 2017

Saat Cairo semakin dingin dan kerinduan dengan saudara seperjuangan terasa menggebu
%d blogger menyukai ini: