Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Umi Fida » Muslimah Pasca Ramadhan

Muslimah Pasca Ramadhan

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Muslimah Pasca Ramadhan

 Rusnah Abdurrahman Ar Riyawy

 

            Ramadhan 1426 H telah berlalu, tiada yang tahu diantara kita apakah Ramadhan 1427 H nanti akan bertemu dengan kita kembali ataukah kedatangannya kemarin adalah yang terakhir dalam hidup kita. Sungguh disetiap kepergiannya membuat setiap hati kita terasa sedih. Tapi apakah cukup kesedihan kita tersebut dapat membangkitkan semangat kita untuk selalu istiqomah  dalam hal positif  apapun yang pernah kita lakukan selama satu bulan penuh itu?

            Ramadhan adalah bulan yang hampir seluruh umat muslim mencintainya, kecintaan yang telah melahirkan banyak kebaikan di dalamnya. Diseluruh pelosok dunia Islam, setiap kedatangannya selalu disambut dengan berbagai ekspresi cinta. Namun sayang kebanyakan kita hanya mampu mencintainya sesaat saja. Ketika ianya menjelma cinta kita begitu menggebu, namun kecintaan itu hilang pada saat ia telah berlalu dari hadapan kita?

            Kecintaan kepada sesuatu, membuat kita termotivasi untuk selalu berbuat kebaikan terhadap objek cinta kita. Dan cinta yang diekspresikan karena Allah selalu berharap ganjaran dari Allah Swt, terlebih lagi ketika kita sangat mengharapkan keredhaan dari-Nya atas apa yang telah kita kerjakan. Hal inilah yang kita temukan pada bulan penuh berkah itu. akan tetapi apakah amalan-amalan kebaikan sesaat yang di sukai oleh Allah Swt?

            Akhwati fillah….setiap kita tentunya telah mengetahui bahwa hal yang sangat di sukai oleh Allah swt adalah amalan kebaikan yang kita lakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Ladang amal kebaikan bukan hanya pada saat Ramadhan menjelang, akan tetapi ladang kebaikan harus ada di setiap masa kehidupan kita sebagai muslimah yang diharapkan oleh setiap umat yang mendambakan ketentraman jiwa.

            Harapan ganjaran yang berlipat ganda pada bulan Ramadhan adalah salah satu motivasi kita untuk mengamalkan kebajikan, kebajikan inilah yang menumbuhkan rasa cinta kita kepada Ramadhan, namun yang perlu kita perhatikan adalah bahwa kebaikan yang hakiki akan tetap selalu berdampingan dengan rasa cinta, itulah cinta…!!

           Dalam putaran kehidupan didunia, kita sebagai manusia adalah makhluk yang banyak diberi kelebihan oleh sang Pencipta, yang paling menonjol diantaranya ialah akal dan pikiran, ini adalah anugerah diantara sekian banyak anugerah lainnya yang tidak bisa di bayar dengan apapun. Dengan akal dan fikiran manusia bisa mebangun dunia dan peradaban yang berbagai macam sebagai mana yang dapat kita nikmati dan rasakan dalam kehidupan kita.

           Begitu juga dengan keindahan dan ketentraman jiwa, semuanya bisa tercipta adalah dari akal dan pikiran yang telah dianugerahkan-Nya. Banyaknya anugerah yang di berikan pada kita, kenikmatan yang kita teguk, ketentraman yang kita rasakan, keindahan yang kita lihat, apakah pantas bagi kita untuk melupakan “Sang Pemberi” semua itu?… amat merugi bagi siapa saja yang melupakan “sang Pemberi” itu…!! dan sudah sepantasnya bagi kita seorang muslimah ‘harus’ terhindar dari hal demikian.

           Oleh karenanya momen Ramadhan yang di sajikan oleh Allah swt adalah salah satu ladang amal kebaikan yang pada hakikatnya dapat melatih kita untuk tetap menjadi seorang hamba Allah dan bukan hamba dunia seisinya. Maka harus ada kesinambungan nilai-nilai tersebut setelah Ramadhan berlalu yang tercermin dalam setiap tutur kata, sikap, dan perbuatan seorang muslimah.            Ada beberapa nilai ataupun amaliah Ramadhan yang seharusnya tetap kita jaga untuk kesinambungan amalan kita pasca Ramadhan diantaranya:

*      Muraqobatullah (Pengawasan Allah)

            Kita sebagai seorang muslimah khususnya harus senantiasa merasa dalam pengawasan Allah Swt, karena hal ini dapat membantu diri kita untuk tetap berpegang teguh di jalan Allah dan memotivasi kita agar selalu  berbuat hanya untuk-Nya, serta dapat membangkitkan ghirah kita dalam melakukan apapun demi mencapai keredhaan-Nya.

            Puasa telah mendidik kita untuk selalu dalam muraqabatullah. Jika kita perhatikan secara seksama, puasa menuntut kita untuk jujur dan mengikhlaskan semua amal karena Allah. Siapapun tidak akan pernah tahu apakah kita betul-betul berpuasa atau tidak, selaras apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam hadits qudsi bahwa as shoum li wa ana ajzi bih.

            Alangkah indahnya jika kita tetap mempertahankan hal tersebut pasca Ramadhan. Allah sangat menyukai amalan hambanya yang dilakukan atas dasar ikhlas. Disamping itu muraqabatullah adalah senjata bagi seorang mukmin untuk terhindar dari hal-hal tercela yang merugikan dirinya dan orang lain.

 

*      Amanah Terhadap Nikmat Allah swt

            Amanah merupakan salah satu ciri dan sifat seorang mukmin, disamping disyari’atkannya amanah kepada sesama makhluk, terlebih dahulu kita sebagai seorang muslimah harus menjaga amanah yang telah di berikan oleh Allah kepada kita, tentunya dengan semampu kita. Amanah merupakan refleksi dari rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

            Dan adapun aktualisasi dari kesyukuran terhadap segala yang diberikan Allah kepada kita baik itu berupa kelebihan harta, kepandaian, kekuasaan, maupun kecantikan, jikalau kita renungkan semua itu pada hakikatnya adalah hanya titipan Allah sementara yang sepatutnya kita pergunakan hanya untuk beribadah kepada Allah semata dan memberikan yang terbaik buat sesama.

 

*      Menyambung Silaturrahim

            Tidak akan berdiri sebuah bangunan kokoh menjulang tanpa ada kesatuan dari unsur bahan-bahan suatu bangunan itu. Begitulah perumpamaan diri kita, sebelumnya perlu kita sadari sedari dini bahwa sebagai seorang mukmin kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup ini, yaitu menegakkan kalimat ‘La Ilaha Illa-Allah’, hanya Allah satu-satunya tujuan kita.

            Akan tetapi sesuatu yang sangat berarti, yang selalu menjadi asa dan harapan kita untuk mendapatkannya, tentunya memerlukan pengorbanan dan disana akan banyak cobaan dan rintangan yang menghalang. Demikian juga halnya kita sebagai seorang muslimah, kita tidak akan bisa berdiri sendiri untuk memajukan diri dan agama ini tanpa adanya jalinan ukhuwah yang erat antara sesama kita.

            Perlu kita cermati bahwa eratnya jalinan persaudaraan tidak akan terbina tanpa kita mau menjaga nilai-nilai kehambaan dalam diri kita dan bermu’amalah sesuai dengan tuntunan agama kita, namun jika kita mampu menjaganya, ‘yakinlah’…insya Allah kita mampu membangun diri lebih maju untuk  kejayaan Islam di muka bumi ini dengan kalimat La Ilaha Illa-Allah. begitulah Ukhuwah Islamiyyah..

            Ramadhan adalah madrasah ukhuwah yang paling ideal. Rasulullah sebagai qudwah kita adalah seorang yang sangat pemurah terhadap sesama dan lebih sangat pemurah disaat-saat Ramadhan. Rasulullah ingin mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa memberikan yang terbaik kepada yang lain, sehingga dengan demikian rabithah ukhuwah dan silaturahim akan senantiasa terjaga.

 

*      Selalu Bersama Al Quran 

                  Jika kita renungkan kembali apa yang telah kita biasakan selama bulan suci Ramadhan, dengan semangat tinggi kita membaca ayat suci Al Quran, hal ini kita lakukan dengan ringan hati pada saat-saat itu, namun apa yang terjadi setelah Ramadhan berlalu? Ternyata berbagai kesibukan telah menyita waktu kita, keseharian kita sibuk dengan kuliah, organisasi, mengurus rumah tangga dan sebagainya sehingga tanpa kita sadari semua itu dapat merebut perhatian kita dari Al Quran.

            Seharusnya membaca Al Quran adalah menjadi sebuah kebutuhan yang utama bagi kita seorang muslimah Ad-da’iyah tanpa mengenyampingkan kewajiban-kewajiban yang lainnya. Karena dengannya kita bisa menumbuhkan motivasi dan semangat apalagi ketika kita dalam kondisi futur. Ketika Ramadhan kita bisa mengkhatamkan Al Quran bahkan lebih dari sekali, lantas kenapa kita sering berat hanya untuk sekedar membaca satu atau dua halaman Al Qur’an setelah kita menyelesaikan shalat?

            Ketangguhan seorang pejuang dijalan Allah tidak pernah lepas dari fenomena Al Quran, maka sebagai muslimah dan murabbiyah generasi Rabbani sudah sepantasnya kita hidupkan Al Quran dalam ruh kita.

    

*      Menahan Nafsu

            Nafsu merupakan fitrah yang tidak bisa dipisahkan dari hakikat manusia, manusia bukanlah malaikat yang tanpa nafsu, sebagai mana yang kita ketahui nafsu mengarah pada keburukan, dalam hal ini Allah swt berfirman: ”sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan” (QS.Yusuf:53).

            Akan tetapi, bagi kita seorang muslimah jika nafsu diarahkan sesuai tuntutan Al-Quran dan sunnah maka ketenangan jiwa yang hakiki akan selalu mendampingi kita. Jika kita melihat saat-saat Ramadhan, kita selalu bisa menahan diri dari pada hal-hal yang bersifat negatif, baik menjaga pandangan, menghindari ghibah, mencela, dan banyak lagi hal-hal lain yang bisa kita hindari dalam bulan Ramadhan, yang merupakan tuntunan nafsu. Ini menunjukan bahwa amal ibadah yang berorientasi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menggapai redha-Nya dapat membantu kita agar terjaga dari segala hal yang tidak sesuai dengan norma agama kita.

            Dan hal ini adalah pengaruh dari pada kesanggupan kita menahan nafsu. sungguh nafsu yang ada dijiwa kita akan mendapatkan kenikmatan yang maha luas andaikan ia selalu terjaga. ukhty…marilah kita melangkah bersama, membimbing nafsu kita dengan hati dan jiwa yang bersih, agar jiwa dan raga kita tetap tenang di jalan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari sifat Ittiba’ul Hawa yang nantinya akan merusak kehidupan kita.

            Masih banyak tersisa hikmah-hikmah Puasa yang harus tetap kita jaga kontinuitasnya pasca Ramadhan. Janganlah kita terjebak menjadi ‘abdan ramadhanian tapi kita harus selalu berusaha untuk menjadi ‘abdan rabbanian. Dan sebaik-baik seorang mukmin adalah amalannya hari ini lebih baik dari masa yang telah berlalu. Wallahu a’lam

 

       

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: