Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini » Menjadi Seorang Entrepreneur Sukses …Meretas Kebangkitan Ekonomi

Menjadi Seorang Entrepreneur Sukses …Meretas Kebangkitan Ekonomi

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Menjadi Seorang Entrepreneur Sukses

Meretas Kebangkitan Ekonomi

@ Joko Sumaryono, Lc.

PengantarLihat »

Allah Swt. Menciptakan manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna diantara sekian makhluk Allah yang terdapat dilangit dan dibumi. “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. al-Tin: 4). Perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk lain terletak pada akal, disamping perbedaan-perbedaan anatomi dan fisik tentunya. Dengan akal manusia bisa berfikir, dan karena akal pula Allah memberikan taklif dan tanggung jawab untuk menjadi khalifah di permukaan bumi.

Secara mendasar, manusia memiliki dua misi penting dalam hidupnya. Pertama, mengabdikan diri kepada Allah swt dengan menjalankan seluruh taklif ibadah. “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk mengabdi kepada-Ku” (QS. al-Zariyat: 56). Misi ini mengantarkan manusia untuk menjadikan seluruh orientasi hidupnya menuju Allah Swt . Kedua, Manusia diberikan Allah sebuah amanah besar untuk memakmurkan bumi dan menjadi khalifah disana. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,”Aku hendak menjadikan khalifah dibumi” (QS. al-Baqarah: 30). Misi kedua ini mengharuskan manusia untuk mengerahkan seluruh potensi akalnya membangun peradaban dan kemajuan disetiap lini kehidupan.

Dalam tulisan sederhana ini, penulis mencoba mengajak kita semua untuk melihat realitas yang ada disekitar kita, yaitu kemunduran dan keterbelakangan kita secara ekonomi dalam konteks percaturan ekonomi global. Dunia kompetisi dan persaingan yang begitu hebat telah melanda dunia saat ini. Kita tahu, bahwa stabilitas sebuah negara atau peradaban dapat diukur salah satunya dengan sejauh mana stabilitas ekonomi bisa eksis didalamnya.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, realitas perekonomian kita sungguh memprihatinkan. Mari kita coba merenungi fakta berikut ini. Dalam skala internasional, Indonesia adalah negara penghasil timah urutan pertama didunia, urutan ke-3 penghasil batu bara, urutan ke-4 penghasil tembaga, urutan ke-5 penghasil nikel, urutan ke-7 penghasil emas, penghasil 80 % minyak bumi di Asia Tenggara dan bahkan penghasil 35 % gas alam cair di dunia. Akan tetapi ironisnya hutang luar negeri Indonesia saat ini hampir 150 milyar $ atau sama dengan 1380 triliun. Sementara hutang dalam negeri kita saat ini sebesar 650 triliun. Maka total hutang bangsa kita sekitar 2.030 triliun.

Pada sisi lain, saat ini jumlah penganggur sudah mencapai 45,2 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.650.000 orang penganggur terdidik lulusan perguruan tinggi. Dari jumlah penganggur terbuka, 65,71% boleh dikatakan penganggur terdidik yang berpendidikan. Data Sakernas empat tahun terakhir (BPS 1997-2000) menunjukkan bahwa jumlah penganggur lulusan setiap jenjang pendidikan meningkat dari 4 juta orang pada tahun 1997 menjadi 6 juta pada tahun 2000. Jumlah penganggur lulusan sekolah menengah terus meningkat dari 2,1 juta orang pada tahun 1997 menjadi 2,5 juta orang pada tahun 2000. Peningkatan jumlah penganggur ini juga terjadi pada perguruan tinggi, tidak kurang dari 250 ribu penganggur lulusan sarjana setiap tahunnya, 120 ribu lulusan Diploma III, dan 60 ribu lulusan diploma I dan II. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana kita bisa keluar segera dari realitas tersebut, meretas kembali kebangkitan ekonomi kita. Maka diantara solusi yang bisa kita lakukan saat ini adalah, mengembangkan sikap dan semangat entrepreneur atau semangat wirausaha yang mandiri dan independen. Menjalani hidup dengan semangat usaha dan kerja keras yang luar biasa, menciptakan lapangan kerja sendiri dan menghilangkan paradigma berfikir untuk menjadi orang ’gajian’. Sebeb mental seperti ini seperti sebuah virus yang bisa mematikan kreatifitas dan kemandirian.

Mengenal Entrepreneur

Menurut Taufik Bahaudin. seorang konsultan manajemen dalam ruang lingkup Manajemen sumberdaya manusia dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, seorang wirausahawan adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang diidealkan. Perbedaan seorang wiraswastawan dengan seorang wirausahawan adalah, wirausahawan cenderung bermain dengan resiko dan tantangan. Artinya, wirausahawan lebih bermain dengan cara memanfaatkan peluang-peluang tersebut. Sedangkan wiraswastawan lebih cenderung kepada seseorang yang memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk membuka suatu usaha tertentu. Seorang wirausahawan bisa jadi merupakan wiraswastawan, namun wiraswastawan belum tentu wirausaha. Wirausahawan mungkin adalah seorang manajer yang mengelola suatu perusahaan yang bukan miliknya. Namun wiraswastawan adalah seseorang yang memiliki sebuah usaha sendiri.

David Moors dalam bukunya The Enterprising, mengungkapkan bahwa ciri-ciri wirausaha adalah mengenai personality dan pelaku wirausaha itu sendiri, disamping lingkungan yang mendukungnya, juga tugas-tugas yang diemban oleh seorang wirausaha dan karir yang bisa dicapainya. Lebih lanjut katanya, ‘The act of enterpreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experiences’. Personality atau kepribadian seorang wirausaha adalah sikap yang didapatkannya sejak masa kecil. Yaitu sikap merdeka, bebas dan percaya diri. Ketiga sikap ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan kedua orang tua dimana peran ibu yang begitu penuh dedikasi terhadap perkembangan anaknya sangat berpengaruh.

Dalam dunia moderen, kewirausahaan/enterpreneurship baru muncul di akhir tahun tujuh puluhan dan berkembang serta mulai diajarkan di kampus-kampus Amerika, Eropa, Jepang, Korea dan Australia. Perkembangannya sangat pesat sekali. Bahkan di Amerika perkembangan dinamis bakat kewirausahaan, Amerika Serikat mampu mewujudkan lebih dari 15 juta pekerjaan dalam tempo 7 tahun. Sementara di Indonesia, Sebagian besar dari kita belum memi­liki jiwa wiraswasta secara nyata. Jiwa ambtenaar masih me­warnai dan menghantui tingkah laku serta kebiasaan kita.

Mengapa demikian ? Banyak faktor yang menyebabkan­nya. Mulai dari lingkungan keluarga sampai pada kebiasaan kerja atau praktek-praktek yang terjadi di masyarakat memang kurang mendukung tumbuhnya jiwa wiraswasta di kalangan masyarakat kita.

Nilai-nilai yang diyakini masyarakat kita pada hakekatnya merupakan warisan sejarah kolonial. Struktur masyarakat me­mang kurang memberi peluang kepada pribumi bangsa kita untuk bisa menempa, mengembangkan atau memiliki jiwa wiraswasta yang baik. Struktur masyarakat pada masa kolonial sengaja diatur agar kita tidak bisa maju. Kesempatan untuk berkembang dibatasi. Pendidikan sangat dibatasi, hanya orang-orang tertentu saja yang memperoléh peluang untuk rnengenyam kemudahan pendidikan dengan baik.

Kegiatan dan lapangan kerja dibatasi pula. Paling tinggi kita bisa bekerja sebagai pegawai negeri di kantor-kantor pemerintahan, ini pun terbatas bagi orang-orang kaya dan keturunan bangsawan. Sebagian terbesar rakyat justru bekerja sebagai buruh dan petani kecil. Kegiatan di sektor ekonomi, perdagangan dan sektor bisnis lainnya diserahkan pada orang-orang Eropa dan golongan non pribumi. Sektor-sektor inilah yang sebenarnya mampu menempa kewiraswastaan kita. Tetapi justru kita kurang diberi kesempatan di bidang ini. Paling-paling satu dua saja.

Budaya Yang Salah

Masyarakat kita sering mencemooh dan memandang sebelah mata bila ada yang berprofesi sebagai wirausaha, terlebih bila ia berpendidikan tinggi, S2 apalagi S3. Yang sering terlontar adalah: ”Percuma sekolah tinggi dan jauh-juah kalau akhirnya hanya berprofesi sebagai pengusaha dan pedagang”.

Ini tidak terlalu mengherankan karena stigma berpikir masyarakat kita yang sudah sedemikian terpola: “Setelah lulus sekolah lalu cari kerja!”. Sangat jarang yang berpikir, setelah lulus kuliah bagaimana menciptakan pekerjaan. Sehingga sering manusia dalam katagori ini, dibilang orang gila, nggak waras, bodoh dan sederetan kecaman lain. Barulah setelah berhasil, semua orang akan mendekat. Bukankah semua usaha yang dilakukan para entrepreneur sukses pada awalnya dianggap gila hingga ia berhasil?

Masyarakat kita masih sangat nyaman menikmati hidup dengan rizki di jatah alias ”gajian” ketimbang mengolah otaknya untuk survive dengan merambah dunia usaha yang mandiri. Lebih menikmati menjadi birokrat, pejabat ketimbang menjadi seorang wirausahawan. Padahal,diperkirakan pada tahun 2020 nanti, kekuasaan dan dominasi akan bergeser secara perlahan dari birokrasi menjadi kewirausahawan. Maka boleh jadi nanti Bill Gates dipilih sebagai orang paling berkuasa di Inggris.

Bahkan diperkirakan selama 25 tahun kedepan, individu birokrat akan bersikap defensive, mencari cara untuk mempertahankan status keamanan yang sudah ada dari standar hidup mereka, sedangkan individu yang berjiwa wirausaha akan bersikap ofensif, mencari cara memperbesar kesempatan mereka, kemampuan mereka dan kualitas hidup mereka yang meningkat.

Bagaimana Melahirkan Sikap Wirausaha?

Beberapa pakar mengatakan, secara umum jiwa dan kepriba­dian seseorang itu paling tidak di pengaruhi oleh dua hal, yaitu bakat dan lingkungan. Mengingat besarnya proporsi kedua faktor yang cukup membingungkan yaitu 50%:50%, maka agaknya hal ini perlu dikaji lebih lanjut. Apalagi ketika dikaitkan dengan dimasukkannya pendidikan kewirausahaan di dalam kurikulum pendidikan.

John Kao Salah satu pengajar kreativitas dan kewirausahaan di Harvard Business School menganggap bahwa pendidikan kewirausahaan ini cukup penting. Karena pendidikan ternyata mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang sebesar 5O%. Dari institusi pendidikan juga telah banyak lahir konsep-konsep mengenai bagaimana menjadi wirausahawan yang baik. Disamping pendidikan, lingkungan dan budaya ternyata juga memiliki peran penting terhadap paradigma berfikir seseorang tentang dunia wirausaha. Sebagai contoh, etnis China dimanapun berada selalu memilih bisnis ketimbang menjadi birokrat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena budaya tersebut sudah in dalam paradigma mereka.

Motivasi dan Disiplin Diri

Walau demikian, tetap masih ada dilema mengenai faktor terbesar yang membentuk jiwa kewirausahaan. Apakah memang jiwa kewirausahaan itu bisa dibentuk dari lingkungan sekitar atau tergantung pada bakat yang ada pada diri seseorang tersebut.

Meskipun belum tentu bisa dibenarkan, tetapi ada sedikit pemikiran yang perlu disikapi. Dari sekian banyak buku-buku yang menulis dan membahas tentang wirausaha, ternyata para ahli tersebut merasa masih ada satu hal yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi wirausahawan yang sukses, yaitu motivasi dan disiplin diri. Motivasi dan disiplin diri mendapatkan proporsi yang besar untuk membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati, selain faktor bakat dan faktor lingkungan. Artinya, belum tentu seseorang yang memiliki bakat wirausaha dapat menjadi seorang wirausahawan sejati. Seseorang yang telah banyak mengikuti kursus-kursus, pelatihan-pelatihan maupun kuliah yang membahas mengenai cara mengelola suatu bisnis atau apapun, tetap memerlukan motivasi dan disiplin diri dalam menjalankan usahanya. Motivasi dan disiplin diri merupakan faktor penting, selain faktor bakat dan lingkungan, dalam membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati.

Pendidikan dan pengalaman memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan jiwa kewirausahaan. Dengan memiliki banyak pengalaman dan mengikuti banyak pelatihan maupun kursus yang sifatnya pendidikan, maka seseorang barulah lengkap dapat menuju jalur kesuksesan untuk menjadi seorang wirausahawan sejati. Bagaimanpun pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru yang terbaik” masih menjadi relevan dalam hal kewirausahaan. Karena buku-buku yang membahas kewirausahaan di dunia bisnis ternyata tidak terlepas dari pembahasan atas pengalaman beberapa praktisi yang berkecimpung di dalam dunia kewirausahaan.

Belajar teori wirausaha persis sama dengan belajar teori berenang. Sehebat apapun teori berenang seseorang jika ia belum terjun kedalam air, maka ia bukanlah perenang sejati dan belum dikatakan sebagai seorang perenang. Nah, seorang wirausahawan seperti itu juga. Teori yang sudah ia pelajari harus diaplikasikan dalam bentuk usaha nyata sebagai seorang wirausahawan. Jika sudah demikian maka ia telah berubah wujud menjadi wirausahawan sejati. Wallahu a’lam.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: