Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini » Mempertajam Visi Intelektual ICMI

Mempertajam Visi Intelektual ICMI

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Mempertajam Visi Intelektual ICMI

Joko Sumaryono, Lc

ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) sebagai sebuah organisasi ke-cendikia-an dengan pluralitas idealisme yang ada didalamnya, sangat diharapkan mampu melakukan gerakan pembaruan ke arah kemajuan yang didambakan sejak lama oleh umat. Dua karakteristik utama ICMI yang selalu menjiwai setiap gerakan para aktivisnya; yatu melejitkan potensi fikir dan zikir secara selaras dan seimbang adalah kunci utama kesuksesan yang dicita-citakan tersebut.

Menelaah lebih jauh apa yang telah disumbangkan oleh ICMI Orsat Kairo sebagai bentuk kontribusi positif terhadap proses tersebut rasanya tidak diragukan lagi. Sejak kehadirannya ditengah-tengah mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang ada di Kairo, telah ikut mewarnai dinamika lokal yang bersifat ke-Kairo-an bahkan sumbangan pemikiran dan konsepnya juga turut mewarnai blantika pemikiran dan pergerakan ditanah air baik secara kelembagaan ataupun individu ditanah air.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan modernitas yang selalu up to date sangat mempengaruhi paradigma umat di semua sisi kehidupan mereka. Realita ini menuntut ICMI berbuat lebih banyak dan tidak hanya berkonsentrasi pada tataran konsep dan keilmuan saja. Hal ini bukan berarti sebuah klaim bahwa ICMI tidak punya visi sosial. Hanya saja perlu peningkatan ke arah yang lebih riil dirasakan oleh umat.

Menurut saya, idealnya dua sayap pergerakan harus lebih disinergikan oleh ICMI, yaitu; Intellectual Force sekaligus diiringi dengan Social Force. Hanya saja, miliu yang berbeda antara tanah air dan Kairo menuntut ICMI harus pandai memilih skala prioritas. Sehingga kebijakan ICMI di sini tidak terjebak oleh kegiatan massif yang terkadang hanya menghamburkan dana cukup banyak tanpa ada nilai produktivitas yang berarti.

Maka, visi intelektual menurut hemat saya harus lebih dikedepankan dan lebih dipertajam. Sebab keberadaan ICMI Orsat Kairo di bumi Al Azhar yang menyimpan sekian banyak potensi ini dapat dijadikan modal dasar. Cuma permasalahannya sekarang adalah; minimnya kader ICMI yang masih aktif sehingga terkadang menjadi kendala dalam mengejawantahkan beberapa program ataupun kegiatan.

Minimnya kader tersebut disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah kepulangan sebagian aktifisnya ketanah air dan kesibukan sebagian yang lain menyelesaikan studi dan aktifitas berbeda serta dalam waktu yang sama belum ada format kaderisasi yang terencana dan terstruktur dalam tubuh ICMI sehingga rekruitmen dan kaderisasi selama ini cendrung alami dan disesuaikan kondisi.

Visi intelektual yang bisa dikembangkan ICMI kedepan sebenarnya sangat strategis, terutama sejak pergantian pengurus yang baru saja terbentuk. Hanya saja secara kuantitas memang masih terlalu ramping padahal ICMI masih memerlukan SDM yang mampu menjadi penggerak. Tapi saya sangat yakin dengan keikhlasan niat serta keseriusan dari pengurus baru ini akan memberikan kekuatan dan ruh baru terhadap dinamika ICMI ke depan.

Jika kita perhatikan dengan seksama, aktifitas kajian yang mengasah nalar dan potensi intelektualitas sudah sangat menjamur ditengah-tengah kita, bahkan budaya diskusi sudah mulai jadi budaya. Mulai dari kekeluargaan, afiliatif yang berbasis massa Islam di tanah air, almamater, angkatan kedatangan atau yang bersifat independen memfasilitasi semangat para intelektual muda Kairo untuk mengembangkan potensi mereka.

Semangat ini, oleh ICMI dengan MASIKA (Majelis Sinergi Kalam), CIMAS (Centre for Islamic and Middle East Studies), PAKEIS (Paket Kajian Ekonomi Islam) adalah peluang yang cukup strategis untuk menjadi wadah berkumpulnya para intelektual muda mengembangkan ide dan kreatifitas mereka. Beberapa langkah dan tahapan progresif harus segera disusun dan dibenahi untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan mutakhir dunia pemikiran dan kebutuhan umat akan sebuah konsep dan ide.

MASIKA tidak harus merubah dirinya menjadi sebuah kelompok kajian yang tidak jauh berbeda dengan kelompok kajian lain. Karena dampaknya, ia tidak akan mampu menampilkan karakteristik yang membedakannya dengan kelompok kajian lain. Akan tetapi bagaimana MASIKA muncul sebagai wadah netral yang intens dengan perkembangan pemikiran serta kemajuan ilmu pengetahuan mutakhir selanjutnya beberapa persoalan yang berkembang tersebut diakumulasi sebagai bahan diskusi yang akan dihadiri oleh para intelektual lintas pemikiran dan organisasi yang terdapat di Kairo. Metode seperti ini lebih efektif dan produktif untuk melahirkan konsep dan ide serta lebih menarik untuk diikuti. Walaupun demikian, tidak lantas MASIKA harus menanggalkan identitasnya sebagai underbow ICMI, sehingga keluar dari khittah ICMI yang muttafaq ‘alaih.

Sedangkan untuk CIMAS, barangkali formatnya sedikit berbeda dengan MASIKA ataupun PAKEIS. Konsentrasinya yang lebih spesifik terhadap kajian keislaman dan ketimur-tengahan menuntut keseriusan dan kajian intensif. Maka CIMAS lebih bersifat limited group. Saya sangat optimis bahwa CIMAS punya daya jual yang cukup signifikan ditanah air. Banyak harapan yang disandangkan ke pundak CIMAS untuk memberikan informasi dan hasil kajiannya diblantika pemikiran keislaman kontemporer.

Perkembangan terakhir PAKEIS mengisyaratkan sinyal yang sangat positif. Beberapa buku yang sudah dihasilkan adalah prestasi yang cukup membanggakan. Namun permasalahan kaderisasi juga persoalan yang sedang dihadapi oleh PAKEIS. Maka perlu format yang lebih terstruktur pasca setiap pelatihan dan seminar yang diadakan oleh PAKEIS untuk mengoptimalkan kajian-kajian selanjutnya.

Saya yakin dengan keikhlasan niat dan semangat bekerja kita akan dapat mempertajam kembali visi intelektual ICMI kedepan. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: