Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Umi Fida » Membangun Cinta & Kesetiaan

Membangun Cinta & Kesetiaan

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Membangun Cinta & Kesetiaan

Rusnah Abdurrahman, Lc

Terma cinta selalu menjadi pembicaraan menarik dalam berbagai kesempatan. Bermacam penafsiran dan teori seputar definisi cinta pun lahir sejak manusia pertama hingga detik ini. Siapa saja tentu berhak mendefinisikan cinta sesuai dengan pemikiran dan perasaannya.

Romeo dalam legenda yang sangat akrab ditelinga kita, rela mengakhiri hidupnya ketika sang kekasih Juliet meninggal setelah jatuh sakit ketika cinta mereka dipisahkan karena perbedaan kasta. Berbeda dengan Qais, lelaki ini tidak sampai mengakhiri hidupnya dengan tragis, tapi ia kehilangan kendali akalnya hingga gila ketika cintanya harus kandas ditengah jalan bersama Laila. Masih banyak kisah-kisah tragis lain yang tercatat dalam sejarah manusia hanya karena satu kata; cinta!

Tapi sungguh naif jika cinta harus dimaknai serendah itu. Cinta itu sangat sakral dan agung. Dalam cinta ada makna kasih sayang, loyalitas, kesetiaan dan pengorbanan. Dan satu hal yang perlu dicatat, cinta yang hakiki selalu berpihak kepada nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan rasionalitas. Oleh karena itu cinta harus dibangun dalam frame yang sejalan dengan fitrah manusia sebagai hamba Allah yang menempatkan seluruh obsesi cinta hanya karena-Nya.

Bagi sebagian orang, istilah cinta karena Allah adalah satu hal yang sangat klise. Padahal inilah makna cinta yang seseungguhnya. Jika kita memahami dengan benar konsep manusia secara utuh, maka kita baru akan sadar akan keagungan cinta karena Allah ketimbang cinta picisan yang selalu berakhir tragis. Cinta karena Allah standarnya sudah sangat jelas. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits; bahwa cinta dan kasih sayang dalam koridor ketaatan kepada Allah itulah cinta sebenarnya, dan ketika cinta harus mengorbankan loyalitas kepada Allah maka berhati-hatilah karena kita akan terjebak kepada cinta picisan yang murahan.

Kata orang cinta itu banyak macamnya; cinta kepada diri sendiri, kepada orang tua, kepada istri atau suami, kepada anak dan sebagainya. Tapi menurut saya itu semua adalah objek cinta. Cinta itu hanya satu macam, yaitu ketika cinta itu selalu didasari karena Allah swt. Karena cinta seperti ini akan selalu menjamin kesetiaan atau katakanlah yang namanya loyalitas. Cinta jenis ini tidak akan pernah lapuk karena hujan atau lekang karena panas. Kesetiaan dan loyalitasnya pun lebih terjamin.

Berbicara seputar loyalitas dan kesetiaan dalam skala mikro di biduk KSMR kita tercinta, rasanya kita perlu kembali memaknai cinta dan kasih sayang ini agar tidak salah persepsi. Persepsi yang sama akan selalu melahirkan visi dan misi yang serupa pula. Tapi jangan lantas dimaknai bahwa dengan cara itu kita akan memberangus pluralisme yang merupakan sunah kehidupan. Pluralisme ibarat warna dalam kehidupan. Hidup tanpa warna tentu akan membuat kita bosan dan jenuh. Sebuah lukisan tidak akan indah tanpa kombinasi warna yang berbeda, tapi keserasian warna juga pada akahirnya membuat sebuah lukisan indah dipandang mata.

KSMR kita tercinta ibarat miniatur kehidupan kita di Riau nanti. Disini kita berkumpul dari berbagai daerah membentuk sebuah ikatan primordial yang namanya komunitas mahasiswa Riau. Disini juga kita belajar bersama dan saling membina ukhuwah. Banyak kisah yang akan kita ceritakan untuk generasi akan datang tentang pahit manisnya kebersamaan di KSMR. Hampir sepersepuluh fase umur, kita habiskan disini. Tentu sangat disayangkan jika fase yang cukup panjang itu tidak kita abadikan dalam sebuah memoar yang didalamnya bertuliskan segudang prestasi dalam makna yang lebih luas.

Kesuksesan di kampung halaman nanti selalu diukur dengan kesuksesan kita di bumi kinanah ini walaupun itu sangat nisbi. Sebab sebuah kesuksesan tidak terbatas kepada kesuksesan studi. Kesuksesan studi harus selalu diimbangi dengan kesuksesan sosial. Rasulullah menyatakan : Khairun nâs anfa’uhum linnâs (sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia lain). Dalam sebuah hadits Rasulullah juga menegaskan : Man lam yahtam biamril mukmin falaisa minhum (Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum mukmin maka ia tidak termasuk golongan mereka).

Sebagai sebuah ikatan emosional kedaerahan, KSMR adalah tempat berkumpulnya para intelektual muda calon pemimpin daerah masa depan. Mereka adalah kaum terpelajar yang sangat berbeda dengan masyarakat awam dari segala sisi, baik dari cara berfikir atau bersikap dan berprilaku. Oleh karena itu wadah KSMR sangat potensial untuk mengoptimalisasikan sumber daya ini agar bisa diformulasikan sebagai sebuah kekuatan reform atau ishlah. Namun ini bukan pekerjaan mudah. Perbedaan latar belakang kita yang berada di KSMR meruapakan sebuah catatan penting. Sebab membangun loyalitas dalam pluralisme perlu sebuah kedewasaan sikap dan fikiran.

Secara akademik, kita bisa dikatakan bersifat homogen. Walaupun demikian, universitas Al Azhar sebagai lembaga yang menyatukan kita, tidak menjamin akan menyatukan cara pandang dan pemikiran. Saya rasa itu sangat alami.Sebab perbedaan pandangan ulama dalam ilmu pengetahuan termasuk khazanah peradaban Islam yang telah diwariskan kepada kita. Jika kita cermati manhaj Al Azhar maka akan kita temukan kelebihan Al Azhar sebagai sebuah jâmi’ah yang mengakomodir berbagai pendapat dalam sebuah permasalahan. Seolah Al Azhar ingin mengajarkan kepada kita kedewasaan dalam berfikir.

Sebagaimana yang telah disinggung diatas, kesetiaan dan loyalitas akan lebih terjamin jika didasari dengan cinta dan ketulusan. Cinta dan ketulusan ini pun tidak akan pernah kokoh tanpa ribâth (ikatan) yang kuat. Paradigma ini akan berbeda dalam pandangan kaum materialis yang selalu menghubungkan antara loyalitas dan kepentingan apa yang bisa ia dapat.

Pada tataran kekeluargaan yang kita namakan KSMR, barangkali kita perlu lebih memperluas makna sehingga kita tidak terjebak dengan loyalitas buta kedaerahan sehingga mengorbankan hal-hal yang prinsip yang seharusnya jadi tolok ukur utama. Maksudnya adalah, kita semua tahu bahwa anggota KSMR itu sangat unik. Keunikan ini dilatar belakangi oleh pluralitas suku yang ada didalamnya.

Propinsi Riau dengan letak geografisnya yang sangat strategis menyebabkan daerah ini menjadi tempat alternatif kaum perantau untuk mengadu nasib. Hal ini sudah berlangsung cukup lama bahkan sejak dahulu kala. Percampuran ras dan suku tak dapat dielakkan karena proses asimiliasi dan perkawinan silang. Ras Jawa, Batak, Minang, China dan sebagainya akhirnya membaur menjadi komunitas baru yang punya keturunan sampai saat ini. Itulah potret kita hari ini. Jika salah seorang diantara kita ditanya apakah anda orang Riau asli atau bukan, tentu akan sangat sulit menjawabnya. Porsentase asli Riau pun tidak seberapa.

Mari kita kembali melihat kedalam tubuh KSMR kita di Kairo. Beberapa tahun belakangan ini sering terjadi kesalah pahaman yang dipicu oleh status keanggotaan seorang anggota. Yang sering terjadi adalah antara KSMR dan KMM. Karena memang teman-teman yang berlatar belakang suku minang dan kebetulan berdomisili di Riau sangat banyak. Kesalah pahaman sebetulnya tidak perlu terjadi jika masing-masing anggota bisa membawa diri secara proporsional dalam berinteraksi dan memahami bahwa pada dasarnya ikatan akidah adalah ikatan tertinggi dan kuat ketimbang ikatan primordial dan kesukuan.

Saat ini, Kairo seolah sudah terkotak-kotakkan oleh kekeluargaan-kekeluargaan, sehingga jika kita tidak pandai-pandai berimprovisasi dalam bergaul maka kita hanya akan bergaul dengan sesama teman yang berasal dari satu daerah. Idealnya, kita bisa membina hubungan yang kuat dengan sesama teman dari satu daerah dan sekaligus bergaul dengan teman-teman yang tidak sedaerah.

Jika kita ingin memformat pola hubungan antara kenggotaan ganda semisal antara KSMR dan KMM sebagaimana kita singgung diatas, sebenarnya sudah tercapai beberapa kesepakatan-kesepakatan dua belah pihak beberapa waktu yang lalu. Dalam nota kesepakatan itu, telah dihasilkan poin-poin yang cukup bijaksana bagi kedua belah pihak. Ini barangkali yang bisa diusahakan oleh pengurus. Faktor penentu utama sebenarnya adalah tergantung anggota yang bersangkutan.

Sungguh naif jika terjadi perpecahan hanya karena ribut permasalahan status keanggotaan. Padahal 14 abad yang lalu Islam berhasil mempersatukan antara Aus dan Khazraj yang telah bertikai selama ratusan tahun di Madinah. Akankah setelah kita yakin bahwa Islam sebagai sebuah risalah ‘âlamiah (universal) akan mudah pecah disebabkan permaslahan keanggotaan?

Memang cukup berat merasionalisasikan makna ukhuwah pada tataran realita. Karena tidak semua kita berpijak pada pemahaman yang sama tentang konsep tersebut. Oleh karena itu, saya termasuk yang sepakat jika dibuat aturan main yang jelas seputar keanggotaan ini. Hanya saja mungkin dalam pelaksanaannya tidak usah terlalu kaku. Dan sekaligus saya ingin menghimbau kepada seluruh teman-teman agar memberikan loyalitas kita secara proporsional kepada kekeluargaan kita tercinta ini.

Mari kita bangun KSMR kita dengan cinta dan kesetiaan, cinta dan kesetiaan dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai kita korbankan nilai-nilai prinsipil hanya karena solidaritas buta yang tidak berakar dan berpucuk. Loyalitas penuh hanya kita peruntukkan kepada Allah dan Rasul-Nya serta ketaatan akan aturan-aturan-Nya. Wallahu a’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: