Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Tazkirah » Kemenangan Itu Bermula Dari Dua Gua Sempit

Kemenangan Itu Bermula Dari Dua Gua Sempit

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Joko Sumaryono, Lc.

Paradigma kemenangan sering kali kita definisikan secara sempit dan selalu kita ukur dengan tercapainya cita-cita dan tujuan akhir yang selalu dinanti dan diharapkan. Untuk mendefinisikan ‘menang’ secara subyektif, maka terminologinya akan selalu mengerucut bahwa kemenangan itu akan berbanding lurus dengan kemenangan kisi materil dalam hidup. Nilai kemenangan selalu disetarakan dengan sisi-sisi yang bersifat materil dan dapat dirasakan langsung. Seringkali kita merasa menang ketika kita mampu menyudutkan orang-orang yang tak sepaham dengan kita,  kita merasa menang ketika kita mampu membungkam musuh politik kita, kita merasa menang saat kita dapat semena-mena memuaskan syahwat kebinatangan kita diatas darah dan air mata manusia lainnya. Padahal kemenangan tidak selalu dapat diukur dengan standar demikian.

Persepsi ‘menang’ seperti ini sering dipahami dan diimani oleh manusia-manusia penyembah materi yang sepanjang hidupnya tidak punya tekad dan keberanian untuk mengatakan ‘tidak’ pada kebathilan dan bahkan cendrung memusuhi kebenaran yang terang benderang seperti terangnya sinar matahari. Bagi manusia jenis ini, saat obsesi-obsesi dunia mereka tidak tercapai dalam waktu yang telah direncanakan, dunia bagi merasa terasa sempit dan menyesakkan.

Semoga kita tidak terjebak dengan persepsi sempit akan makna ‘kemenangan’ sebagaimana yang diyakini oleh manusia-manusia yang dalam dirinya terjangkiti penyakit al-wahn (cinta dunia dan takut mati). Sebab, Kemenangan dalam perspektif keimanan tidak mutlak diukur dengan tercapainya sebuah tujuan dalam waktu yang diinginkan. Dalam sejarah kegemilangan Islam, kita menyaksikan bahwa terkadang kemenangan itu lahir setelah berabad-abad lamanya, setelah sekian generasi datang dan pergi silih berganti.

Hijrah menurut persepsi penulis adalah sebuah peristiwa besar dalam perjalanan sejarah Islam yang harus mampu kita cermati sebagai sebuah titik awal kebangkitan peradaban manusia akhir zaman. Kisi-kisi peristiwa hijrah yang sarat akan makna seharusnya menjadi pelajaran berharga yang harus dipahami oleh setiap individu muslim dalam memahami ruang lingkup makna ‘kemenangan’ yang sesungguhnya.

Sudahkan kita membaca secara detil peristiwa-peristiwa besar yang dialami oleh baginda Rasulullah SAW dan para sahabat RA dalam meniti langkah demi langkah proyek besar membangun peradaban manusia akhir zaman? Apa yang dialami oleh Rasulullah SAW selama 13 tahun di Mekah kiranya dapat kita jadikan sebagai bahan renungan terhadap persepsi ‘menang’. Karena dalam kenyataannya, begitu banyak peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah dan para sahabat selama di Mekah, yang jika dirasionalisasikan sebenarnya secara fisik dan materi Rasulullah dan para sahabat adalah mewakili kelompok yang dikalahkan, mereka ditekan dan disiksa sedemikian rupa, bahkan terusir demi menyelamatkan sebuah keyakinan yang pada akhirnya menjadi bahan bakar kemenangan yang sesungguhnya.

Suatu hari, ketika Rasulullah SAW menyampaikan dakwah di Thaif, beliau menghadapi cobaan yang luar biasa. Bukan sambutan hangat yang beliau dapat, tapi sebaliknya beliau dicaci dan dilempari batu sehingga beliau mengalami luka yang cukup parah. Tapi bagaimana sikap rasulullah saat itu? Ia hanya mengucapkan satu kata “Allahummahdi Qaumiy fainnahum laa ya’lamun” (Ya Allah tunjukilah kaumku, sesungguhnya mereka orang-orang yang tidak mengerti). Padahal pada saat itu Jibril telah menawarkan, jika Rasulullah berdoa kepada Allah untuk membalikkan gunung-gungung yang ada dan dilemparkan kepada kaum musyrikin Thaif maka malaikat Jibril akan melakukan hal tersebut. Sikap baginda Rasulullah SAW ini sangat sulit untuk kita rasionalisasikan apalagi kalau kita ukur dengan standar ‘menang’ orang-orang yang menuhankan materi. Kesabaran Rasulullah itu ternyata pada kemudian harinya menjadi amunisi utama kemenangan demi kemenangan yang baru terbukti dan dirasakan beberapa tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Banyak kisah sebenarnya yang dapat dijadikan pelajaran penting dalam memahami makna sukses dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW baik pada fase Mekah ataupun setelah beliau hijrah ke Madinah. Tapi mengapa peristiwa hijrah begitu besar pengaruhnya dalam proses perjalanan dakwah Rasulullah saw? Benarkah kesimpulan yang mengatakan bahwa hijrah merupakan momen “Fatihatun Nashr” kemenangan-kemenangan Islam pada fase berikutnya? Atau apakah prasyarat keberhasilan itu harus selalu dimulai dengan hijrah?

Memahami Makna Hijrah

Secara etimologi, hijrah berarti meninggalkan, atau berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain. Lalu Makna yang kedua ini sering dipakai dalam mendefinisikan hijrah secara terminologi. Tidak sulit untuk memberikan definisi terhadap peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah. Karena secara sederhana hijrah adalah perpindahan Rasulullah SAW dan para sahabat dari Mekah ke Madinah. Namun yang terpenting dari peristiwa ini adalah bagaimana kita mampu memahami nilai-nilai hijrah itu sendiri untuk diterapkan pada tataran kehidupan kekinian.

Tak dapat diragukan lagi, peristiwa hijrah merupakan titik awal perubahan besar yang akan terjadi sesudahnya. Hijrah telah melepaskan kaum muslimin dari cengkraman jeruji kejahiliyaan dan tekanan kaum musyrikin Mekah. Disamping itu hijrah juga meruapakan batas pemisah antara dua masa yang sangat berarti dalam perjalanan dakwah dan penerapan syariat Islam, yang kita kenal dengan fase Makkiyah dan fase Madaniyah. Sehingga dikenallah istilah surat Makiyah dan surat Madaniyah dalam Al quran.

Banyak ujian dan cobaan yang telah dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat sebelum diizinkan untuk berhijrah. Sumayyah ibunda ‘Ammar bin Yasir syahidah pertama dalam Islam saat ia terpaksa untuk mempertahankan keyakinan dan keimanannya. Lalu mengapa Mengapa Allah baru mengizinkan Rasulullah dan para sahabatnya untuk hijrah setelah 13 tahun fase dakwah di Mekah? Walaupun sebelumnya, telah terjadi peristiwa hijrah pertama ke bumi Habsyah. Bukankah Allah swt bisa membuat skenario berbeda untuk sekedar memberikan kemudahan dan kemenangan kepada Rasulullah saw dan para sahabat?

Diantara salah satu hikmah yang utama dari proses dakwah fase Mekah ini adalah proses selektifitas kader dakwah yang betul-betul dianggap matang untuk melanjutkan estafeta dakwah menuju fase-fase berikutnya. Karena jika Allah membukakan kemenangan secara mudah kepada kaum muslimin, maka kemenangan itu tidak akan terasa manis karena didapat dengan begitu mudah dan ketahanannya pun cendrung tidak berrtahan lama. Maka ketika pertama kali dakwah dimulai, seiring itu pula terjadi proses latihan dan penyaringan yang sangat selektif dan alami. Dan ternyata, mereka inilah yang pada akhirnya berhasil menjadi busur sekaligus anak panah perkembangan Islam menuju puncak kejayaannya.

Setelah kita memahami makna hijrah yang sesungguhnya, kita akhirnya memahami bahwa kita terkadang perlu berpindah baik secara fisik atau pemikiran kepada sesuatu yang ideal dalam pandangan Allah SWT agar kita dapat mewujudkan kemenangan yang sesungguhnya. Jika setiap individu kita mampu berhijrah dalam pengertian yang luas, berarti kita telah memulai langkah untuk menuju ‘kemenangan’. Tentu hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat tidak dimaknai secara literlek yang harus kita terapkan saat ini. Kenapa? Karena rasululah saw sendiri sudah menyatakan “La Hijrata ba’dal fath walakin Jihadun waniyyah” (sudah tidak ada hijrah setelah terbuka pintu kemenangan (Fath Makkah), Akan tetapi masih tersisa jihad dan niat untuk berhijrah. Sebagian ulama menafsirkan niat disini adalah sebagai sebuah perpindahan dari kehidupan yang jauh dari nilai-nilai ilahi menuju kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai rabbani.

Mengapa Hijrah Sebagai Pembuka Kemenangan?

Dari peristiwa hijrah kubro yang dilalui Nabi dan para sahabat, ada beberapa indikasi yang dijadikan faktor utama kemenangan dakwah. Faktor–faktor ini dapat kita lihat dari beberapa pelajaran dan ibrah yang kita ambil dari rentetan peristiwa hijrah itu sendiri. Diantaranya adalah:

1. Sabar Dalam Menghadapi Makar Musuh

Begitu banyak rekaman sejarah dalam Al-Quran maupun Sunnah yang menggambarkan permusuhan abadi kaum kufar dan musyrikin terhadap Islam dan kaum muslimin. Permusuhan ini biasanya disertai makar yang senantiasa mencoba untuk menggoyahkan keimanan dan menguburkan keyakinan dengan menggunakan segala daya dan upaya. Banyak cara yang mereka gunakan, baik dengan menawarkan harta dan kesenangan ataupun dengan siksaan demi siksaan. Nah, disinilah sabar merupakan tameng awal dan jawaban dari semua itu. Sebab, sabar dalam perspektif Islam tidak kenal batas. Sabar dapat diterapkan dalam ketaatan, menghindari maksiat, dan bersabar juga dipraktekan dalam menghadapi musibah dan cobaan.

Rasulullah SAW adalah orang pertama yang menerapkan sabar, bahkan ketika maut hampir menghampirinya ketika berdakwah dijalan Allah, ia hanya berkata “Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun”. Subhanallah! Rasululah tidak tergesa-gesa mengejar kemenangan, dan sikap ini juga yang terpatri dalam jiwa setiap sahabat. Kesabaran inilah yang telah melahirkan semangat jihad dan semakin menambah keyakinan mereka bahwa jalan yang mereka tempuh penuh dengan cahaya. Sikap sabar ini juga melahirkan pribadi yang istiqamah dan tidak mudah goyah. Maka sabar merupakan sebuah prasayarat mutlak dalam meniti tangga-tangga menuju kemenangan.

2. Al Akhzu bil Asbab 

Etos kerja dan semangat berkarya adalah ciri seorang muslim progresif dan konstruktif. Seluruh potensi harus terus dikerahkan dan disesuaikan dengan kondisi yang melingkupi. Rasulullah SAW adalah contoh tauladan sebagai seorang sosok yang tak mudah menyerah dengan hanya mengandalkan satu cara. Ia selalu berfikir dan berbuat dengan amal yang sangat variatif agar dakwah mudah diterima dan cepat berkembang. Segala kreatifitas dan inovasi dakwah beliau kerahkan. Gagal dengan satu cara beliau memanfaatkan metode lain. Sehingga beliau tidak pernah putus asa dan sikap ini adalah bagian dari konsep membangun motivasi yang sangat jitu.

Ketika dakwah beliau di kota Mekah dan perkampungan sekitarnya tidak begitu mendapatkan sambutan yang positif. Beliau melihat ada potensi lain yang bisa dilakukan, yaitu mendakwahi para Qabilah yang datang dari luar kota Mekah pada musim-musim haji. Pertemuan ini dilakukan Rasulullah SAW diluar kota Mekah bersama kaum Auz dan Khazraj tepatnya didaerah yang bernama al ‘aqabah dan dalam catatan sejarah dikenal dengan bai’atul aqabah al ula. Perwakilan kaum Auz dan Khazraj terdiri dari 12 orang yang telah menyatakan keislaman mereka. Kreatifitas dakwah Rasulullah SAW tidak terhenti sampai disitu saja, lalu ia mengutus Mus’ab bin ‘Umair yang dikenal sebagai duta Islam pertama untuk kembali ke Yatsrib bersama kaum Auz dan Khazraj dan mengajarkan Islam secara lebih mendalam kepada mereka.

Peristiwa ini, pada akhirnya merupakan cikal bakal peristiwa hijrah beberapa tahun setelahnya. Dan setelah terjadi kesepakatan antara kaum muslimin Mekah dan Yatsrib ketika itu bahwa pusat dakwah akan dipindahkan dari Mekah ke Madinah, maka mulailah para sahabat melakukan hijrah sampai pada akhirnya diikuti oleh Rasulullah ketika telah turun wahyu yang mengizinkan beliau untuk hijrah. Momen ini sangat punya peran penting terhadap pertumbuhan dakwah dan akumulasi koalisi kekuatan Islam pada masa berikutnya.

3. Sistem Yang Rapi Prasyarat Kemenangan

Rentetan peristiwa hijrah, yang mungkin sebagian besar kita bahkan sudah sangat hafal, mengisyaratkan bahwa sebuah pekerjaan besar harus menggunakan sistem serta manajemen yang tertata rapi. Adanya pembagian tugas serta perencanaan yang sistematis dan matang, dan masing-masing individu memahami posisinya sehingga tidak terjadi benturan tugas yang akhirnya berakibat kepada proses sebuah rencana itu sendiri. Kita harus mampu memposisikan the right man on the right place.

Rasulullah adalah sosok yang brilian dalam menyusun strategi dan manajemen. Dengan kecerdasannya, ia dibantu Abu Bakar dan sahabat lain telah berhasil menyukseskan perjalanan hijrah dengan selamat dan tanpa pertumpahan darah atau pun benturan fisik.

Namun ironis, tatanan sistem yang kokoh dan manajemen yang rapi telah hilang dari dunia Islam dan bahkan sudah diadopsi oleh Barat. Bahkan lebih dari itu, umat Islam seolah mengaminkan saja bahwa Islam tidak pernah kenal dengan konsep sistem dan manajemen yang rapi.

Kemenangan selamanya tidak akan bisa diraih hanya dengan mengandalkan semangat bekerja saja, akan tetapi harus dibarengi dengan membangun sistem dan manajemen yang komprehensif. Disamping itu perlu adanya kejelian melihat situasi dan kondisi. Jangan sampai kita kehilangan daya kreatifitas karena alasan lingkungan dan kondisi yang ada disekitar kita. Kelemahan fatal diri kita adalah ketika kita tidak lagi mengenal diri kita. Jika hal itu terjadi, maka secanggih apapun sistem dan manajemen yang dibangun maka akan berakhir sia-sia.

4. Membangun Stabilitas Sosial

Pertama kali yang dilakukan Rasulullah saw di Madinah atau tepatnya di Qubah adalah membangun Mesjid. Dalam perspektif Islam, mesjid tidak sebatas sebagai tempat ibadah vertikal antara hamba dan Rabb-Nya. Akan tetapi Mesjid juga bisa berfungsi sebagai tempat menata kehidupan sosial masyarakat. Karena Islam dengan tegas mengakui bahwa manusia terdiri dari dua sisi yang harus selalu seimbang, yaitu sisi materi dan sisi spritual.

Setelah sarana fisik berupa masjid telah dibangun, selanjutnya Rasulullah SAW berfikir perlu adanya pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia untuk menjalankan fungsi dalam sebuah sistem kehidupan yang baru. Kemudian Rasulullah SAW segera mengambil inisiatif untuk mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Sebab, persaudaraan ini akan mempercepat proses perubahan sosial ditengah komunitas masyarakat. Kaum Muhajirin yang lebih memiliki kemampuan dalam sistem perdagangan kembali menghidupkan pasar, dan bahkan dalam sejarah tercatat bahwa Rasulullah adalah orang pertama yang membangun pasar sebagai pusat ekonomi di Madinah. Kaum Anshar pun tetap dalam profesi mereka semula sebagai petani yang lebih spesifik mengurus pertanian.

Dalam proses selanjutnya, karena persaudaraan yang Rasul bina berdasarkan nilai keimanan dan keikhlasan, secara alami dan bertahap mulai tercipta Takaful Ijtima’iy (solidaritas sosial) diantara komunitas sosial yang sangat plural di kota Madinah. Bahkan nilai ukhuwah itu tercatat indah dalam berbagai kisah haru biru tatkala Saad bin Rabi’ menawarkan harta dan salah satu istrinya untuk diberikan kepada Abdurrahman bin Auf. Namun akhirnya Abdurrahman bin Auf lebih memilih untuk memulai kehidupan barunya sebagai pedagang dan menolak secara halus tawaran saudaranya, sampai akhirnya ia berhasil menjadi saudagar yang berhasil.

Stabilitas sosial yang mapan akan menjadi faktor pendukung terbukanya pintu-pintu kemenangan dan kejayaan. Hal itu terbukti ketika kaum muslimin memenangkan perang Ahzab. Peperangan dengan jumlah tidak seimbang ini mampu dimenangkan oleh kaum muslimin, tidak terlepas dari faktor telah terciptanya sebuah tatanan  sosial yang kuat yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW. Para sahabat begitu memahami nilai ukhuwah dan amal jama’iy (kerja kolektif) yang akhirnya mampu memukul mundur koalisi pasukan musuh. Pada perang Khandaq ini juga Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para sahabat yang beliau dapatkan dari Malaikat Jibril, bahwa setelah perang ini usai akan terjadi penaklukan besar-besaran di dataran Syam, Persia dan Yaman.

Kemenangan demi kemenangan yang telah diraih kaum muslimin pada akhirnya mengantarkan mereka berhasil menguasai dua pertiga luas bumi dibawah naungan Islam selama lebih kurang delapan abad. Kemenangan itu tidak terwujud dengan mudah, tapi butuh waktu yang panjang dan pengorbanan tak terkira. Rahasia kemenangan ini sangat sederhana; sebagaimana dalam firman Allah SWT “In tanshurullah yanshurukum wayutsabbit aqdamakum”.

Kemenangan Islam jika boleh penulis simpulkan, bermula dari ‘dua gua sempit’, yaitu gua Hira saat pertama kali Rasulullah SAW menerima wahyu dan titah sebagai seorang Rasul penyampai risalah, dan gua Tsur saat Rasulullah SAW sempat bersembunyi bersama Abu Bakar RA sebelum melanjutkan perjalanan hijrah mereka dari Mekah ke Madinah. Secara fisik, dua gua ini begitu sempit dan gelap, namun cikal bakal kemenangan dan tamadun yang dibidani oleh peradaban Islam justru dimulai dari dua gua yang sempit ini.

Dunia Islam kini tak secerah masa lalu saat keadilan dan kedamaian Islam dapat dirasakan oleh manusia-manusia di berbagai penjuru dunia. Pada hari ini, darah kaum muslimin begitu murah dihadapan musuh-musuhnya dan bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri. Umat Islam pada hari ini persis seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya bahwa mereka tak ubahnya seperti hidangan makanan yang diperebutkan di meja makan karena kelemahan dan keterpurukan dalam semua dimensi kehidupan menjadi ciri khas mereka pada hari ini.

Sudah seharusnya kita perlu merapihkan kembali hubungan kita dengan Allah SWT. Sudahkah kita menolong agama Allah? Sehingga kita layak untuk ditolong oleh-Nya?. Kita selalu bercita-cita meraih kemenangan, tapi sayang kita tak pernah mengerti persepsi menang yang sesungguhnya. Kita masih ragu untuk mempertahankan prinsip dan keyakinan yang benar ditengah hegemoni kebathilan yang dan keraguan yang menggoyahkan iman. Kita jangan pernah takut untuk dikucilkan manusia dan terpinggirkan, karena itu hanya sesaat dan yakinlah bahwa Allah SWT tidak pernah lalai terhadap hamba-hamba-Nya. Kita sangat yakin  Allah SWT tidak pernah ingkar janji…walaupun kita tahu bahwa kemenangan itu bisa jadi akan lahir berabad-abad yang akan datang dan setelah silih bergantinya generasi, namun paling tidak kita telah ‘menang’ dalam mempertahankan prinsip dan keyakinan.

Wallahu A’lam.

Iklan

1 Komentar

  1. jokosumaryono berkata:

    Reblogged this on Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani and commented:

    Kita selalu bercita-cita meraih kemenangan, tapi sayang kita tak pernah mengerti persepsi menang yang sesungguhnya. Kita masih ragu untuk mempertahankan prinsip dan keyakinan yang benar ditengah hegemoni kebathilan yang dan keraguan yang menggoyahkan iman. Kita jangan pernah takut untuk dikucilkan manusia dan terpinggirkan, karena itu hanya sesaat dan yakinlah bahwa Allah SWT tidak pernah lalai terhadap hamba-hamba-Nya. Kita sangat yakin Allah SWT tidak pernah ingkar janji…walaupun kita tahu bahwa kemenangan itu bisa jadi akan lahir berabad-abad yang akan datang dan setelah silih bergantinya generasi, namun paling tidak kita telah ‘menang’ dalam mempertahankan prinsip dan keyakinan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

FIDA & FATIH sebelum Sekolah Dasar, tak terasa kini sudah kelas 6 dan kelas 4, Ya Allah jadikan keturunan Kami anak2 yang soleh
%d blogger menyukai ini: