Joko Sumaryono Abu Fida Rabbani

Beranda » Opini » Derita Yang Tak Kunjung Usai

Derita Yang Tak Kunjung Usai

Arsip

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Derita Yang Tak Kunjung Usai

Joko Sumaryono, Lc

Sabtu, 1 Oktober 2005 Kembali jadi saksi sejarah mengenaskan perjalanan kehidupan anak manusia ditanah air. Betapa tidak!derita demi derita ternyata tak pernah kunjung usai menghampirinya. Ketika air mata anak bangsa belum kering dan selimut duka masih menyimpan seribu cerita pasca tsunami yang melanda Aceh, gempa di Nias, tanah longsor di Padang, sampai naasnya pesawat Mandala Airline di Medan beberapa waktu yang lalu dan sederetan tragedi kemanusiaan lainnya, kembali anak bangsa harus menerima pil pahit kehidupan dengan dinaikkannya harga BBM lebih 100 % dari harga semula.

Bagi masyarakat BBM bukanlah segalanya, namun segalanya bisa bermasalah jika kenaikan tersebut pada waktu yang tidak tepat. Persoalan kenaikan harga BBM memang sangat dilematis, sulit membenarkan antara kebijaksanaan pemerintah disatu sisi dan pemberontakan masyarakat disisi lain. Sehingga gejolak pun tak dapat dihindarkan. Aksi demontrasi mahasiswa dan LSM digelar diseluruh nusantara. Para sopir angkot juga tidak ketinggalan melaksanakan aksi mogok mengkritisi kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM sementara belum dikeluarkan surat keputusan kenaikan tarif angkutan umum dan sekian aksi lainnya yang diberitakan media cetak dan elektronik.

Berbagai aksi protes ternyata tidak mampu mengubah keputusan pemerintah. Mau tidak mau rakyat kembali harus mengurut dada menerima kenyataan pahit itu. Keresahan tak dapat disembunyikan pada setiap wajah kaum lemah. Kenaikan harga BBM pasti diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya, sementara penghasilan tidak seimbang dengan kebutuhan yang harus dikeluarkan. Tekanan psikologis sangat dikhawatirkan banyak menimpa mereka yang tidak kuat iman berinteraksi dengan problematika tersebut. Maka Cukup bijak sikap yang diambil oleh salah satu stasiun televisi yang menampilkan Aa Gym dalam tausiyah berbentuk iklan untuk memberikan bait-bait nasehat yang intinya agar masyarakat terus kuat berjuang melawan berbagai kenyataan pahit kehidupan, diantaranya sikap sabar menghadapi akibat yang ditimbulkan oleh kenaikan BBM.

Himpitan penderitaan rakyat kecil ternyata tak hanya berhenti disitu, setelah harga BBM dinaikkan muncul persoalan baru yang tak kalah menyakitkan. Di media-media diberitakan terjadinya kelangkaan BBM dimana-mana. Padahal, menurut keterangan yang disampaikan oleh presiden SBY bahwa distribusi BBM sudah diatur secara proporsional keseluruh nusantara sehingga mustahil terjadi kelangkaan BBM sebagaimana yang diberitakan oleh media.

Walau demikian, fakta tetap menjadi saksi yang mengungkap kebenaran. Di Brebes Jawa Tengah masyarakat terpaksa mengumpulkan kayu nisan kuburan untuk dijadikan bahan bakar karena kelangkaan BBM disana, para nelayan di sepanjang pantai Jawa terpaksa libur berlayar karena kelangkaan solar sebagai bahan bakar utama kapal motor mereka, para sopir truk lintas Sumatra-Jawa terpaksa harus tidur di pom bensin selama dua hari karena antrian solar, rakyat kecil yang miskin dan lemah harus antrian dari subuh hanya untuk dua liter minyak tanah, dan masih banyak lagi cerita nyata yang menggambarkan kegetiran kaum lemah pasca kenaikan BBM.

Kelangkaan tersebut ternyata disebabkan oleh ulah sebagian orang atau kelompok yang ingin meraup keuntungan diatas penderitaan kaum papa. Satu demi satu kasus penyelundupan BBM keluar negri serta penimbunan BBM terungkap ke permukaan, presiden SBY pun mengintruksikan agar pelakunya dihukum seberat-beratnya. Ironisnya lagi ternyata penyelundupan dan penimbunan itu melibatkan langsung oknum-oknum Pertamina. Untuk itu, sangat tidak adil jika pemerintah tidak menindak tegas mereka yang sudah kenyang dengan berbagai fasilitas dan kemewahan tapi tetap merasa belum cukup lalu melakukan korupsi yang merugikan rakyat.

Penyelundupan dan penimbunan BBM melalui pipa minyak dilaut dalam jutaan liter terungkap sudah, negara mengalami kerugian milyaran rupiah serta beberapa pelaku utamanya telah ditangkap dan diumumkan dibeberapa stasiun televisi. Kita akui mereka cukup profesional sehingga mereka bisa meraup keuntungan lebih besar. Kejahatan BBM ternyata tidak cukup disitu. Banyak kasus yang terungkap bahwa penimbunan dilakukan secara manual. Mereka adalah penyelundup dan penimbun kelas teri. Dengan menggunakan galon ukuran 5 liter atau 10 liter mereka hunting ke pom-pom bensin untuk membeli BBM lalu menimbunnya dan membeli lagi begitu seterusnya. Setelah hal itu diketahui pihak berwajib, mereka masih tidak kehilangan akal. Tank minyak sepeda motor atau mobil mereka gunakan, setelah diisi penuh di pom bensin sesampai dirumah disedot lagi hingga kosong dan kembali lagi ke pom bensin untuk diisi hingga penuh dan begitu seterusnya.

Kondisi ekonomi ditanah air yang semakin memburuk diberbagai sektor, membuat masyarakat terkadang tidak mengindahkan lagi norma agama dan sosial yang berlaku. Hanya saja yang selalu menjadi pertanyaan dibenak saya setelah melihat realita yang terjadi, kejahatan-kejahatan seperti itu justru dilakukan oleh mereka-mereka yang sudah berkecukupan. Artinya, jika pun mereka tidak melakukan hal itu mereka tidak akan terancam kelaparan. Tentu kita masih ingat dengan sikap Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu yang tidak menghukum pencuri yang mencuri karena terancam kelaparan ketika terjadi paceklik.

Seiring dengan kebijakan pemerintah menaikan harga BBM, pemerintah juga mencairkan dana kompensasi BBM buat penduduk miskin melalui penyaluran dana STL (subsidi yunai langsung). Namun maksud baik sering tidak selalu berakhir happy ending. Hal itulah yang terjadi pada penyaluran dana kompensasi pengurangan subsidi BBM. Muncul ekses di sejumlah tempat. Sistem pengambilan dana subsidi tunai langsung (STL) bagi warga miskin yang tidak boleh diwakilkan meminta korban. Di Banyuwangi, Jatim, sejumlah nenek pingsan karena tidak tahan berdiri lama dalam antrean panjang sesama pengambil STL.

Beberapa waktu yang lalu, di Pontianak juga jatuh korban. Seorang lelaki tua pengambil STL yang pernah terkena stroke semaput. Akibatnya, Rp 300 ribu STL-nya tak sempat dinikmati untuk meringankan beban ekonominya karena kenaikan harga BBM, tetapi akhirnya hanya habis untuk berobat. Di Demak, Jawa tengah, seorang kakek berusia 70 tahun bahkan meninggal saat antrian STL. Lagi-lagi, itu disebabkan korban yang menderita asma tersebut tidak tahan dalam antren panjang.

Penyaluran STL ini memang cenderung dilematis. Artinya tidak ada pilihan yang bijak. Semuanya diatur serba cepat dan ringkas. Jika pengurusannya diserahkan ke pihak lain untuk mengurusnya, akan rawan disunat sana-sini, sebab bangsa kita sudah kehilangan kepribadian yang baik. Di Surabaya misalnya sudah ada yang tertangkap basah. Ada beberapa calo yang meminta imbalan Rp5 ribu-Rp10 ribu untuk mencairkan STL di Kantor Pos Besar Kebonrojo, Surabaya. Sungguh sangat naif!

Jika diserahkan ke instansi pemerintah paling rendah, seperti kelurahan, tidak akan jauh berbeda. Artinya, kemungkinan rawan disunat aparat kelurahan yang tidak bertanggung jawab alias dikorupsi sangat besar. Lalu, bagaimana solusi yang tepat? Barangkali pemerintah bisa lebih bijak memberikan sedikit keluwesan dalam pencairan dana tersebut. STL itu bisa saja disyaratkan tidak boleh diwakilkan kepada orang lain, tetapi semuanya tergantung situasi dan kondisi si penerima STL.

Jika si penerima memang dikenal kurang sehat dan secara fisik telah sangat berumur atau lansia (lanjut usia), sah-sah saja jika diwakilkan kepada pihak lain. Tetapi, pihak yang boleh mewakili tersebut harus kerabat yang benar-benar dipercaya serta dikenal jujur. Setidaknya, saat antre, para penerima STL yang sudah renta diperlakukan secara khusus oleh petugas penyalur STL, dan tidak diperlakukan sama dengan mereka yang masih muda dan sehat.

Kalau pencairan dana STL tersebut di kantor pos, maka harus disediakan tempat duduk di ruangan khusus. Lalu, petugas memanggilnya dan yang bersangkutan cukup mengacungkan tangan. Setelah itu, petugas mendatangi tempat duduk masing-masing. Dan, jika datanya sudah cocok, dana langsung diberikan. Solusi demikian sebenarnya bukan hal yang sulit. Hanya saja, kita memang sering meremehkan hal-hal kecil. Misalnya, membiarkan antrean yang tidak tertib dan berdesak-desakan yang rawan meminta korban orang-orang yang secara fisik sudah lemah. Yakni, orang yang pernah sakit parah atau orang tua yang daya tahannya sudah sangat lemah.

Masih ada waktu untuk memperbaiki sistem penyaluran STL. Selain masalah yang muncul sebenarnya masalah kecil, masih ada penyaluran STL tahap berikutnya. Karena itu, pemerintah harus menjamin bahwa penyaluran STL tahap berikutnya akan lebih baik. Menjadi lebih tertib dan kemungkinan jatuhnya korban yang tidak perlu di pihak penerima STL akan relatif kecil.

Selain itu pemerintah juga tak sepi dari kritik dengan program STL nya ini. Memang kita serba susah. Dibantu dikritik tidak dibantu apalagi. Probelm penyaluran STL ini pada akhirnya selain memakan korban juga menampakkan wajah asli kebanyakan bangsa kita yakni ahli ‘sunat-menyunat’.

Sejak dari hulu, banyak celah terjadinya gejolak dari penyaluran dana kompensasi ini. Kesemrawutan juga terjadi. Verifikasi oleh BPS Pusat dilakukan sejak 15 September-25 September. Pencetakan KKB dilakukan pada 16-29 September yang dibagikan 1-5 Oktober untuk 15 kota. Tidak salah, pihak BPS di daerah berkilah waktu pelaksanaan yang mepet menjadi biang keladi kesemrawutan.

Belum lagi metode pendataan yang melibatkan ketua RT. Sebelum survei, BPS meminta rekomendasi ketua RT tentang warga yang diduga miskin, baru kemudian pencacah BPS melakukan survei. Kelemahan metode ini ada pada subjektivitas ketua RT -dalam like and dislike dengan warganya. Belum lagi -karena mepetnya waktu-, banyak petugas pencacah tidak me-cross check door to door ke rumah-rumah warga.

Secara politis, langkah pemerintah memberikan subsidi atas kompensasi kenaikan BBM hingga lebih 100 persen dianggap sebagai langkah basa-basi agar masyarakat tidak bergejolak dan turun ke jalan. Meski begitu, dari media kita ketahui, ternyata banyak rakyat memilih harga BBM tidak dinaikkan daripada memperoleh Rp 300 ribu yang dalam sekejap saja sudah habis untuk membayar utang atau menambah anggaran makan sehari-hari.Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Twitter

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Twitt Saya

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Dunia anak adalah dunia tanpa sekat
%d blogger menyukai ini: