Oleh: jokosumaryono | Mei 30, 2009

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa

Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa
Joko Sumaryono, Lc.

Kilas Balik Sejarah
Pentas sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tak pernah sepi dari teriakan dan kobaran semangat kaum muda anak bangsa ini. Dari Sabang sampai Merauke genderang perlawanan terhadap imperialisme ditabuhkan. Seolah tak peduli dengan tetesan darah dan air mata yang harus mengalir, yang penting nusantara tercinta harus segera dihantar ke gerbang kebebasan dan kemerdekaan. Perjuangan berat dan melelahkan itu pun akhirnya melabuhkan kemenangan. Tepat pada hari Jumát 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. “Merdeka” itulah satu kata yang penuh getar terucap dari lisan yang diiringi kepalan tangan penuh semangat menggelora.
Gerbang kemerdekaan dan kebebasan yang telah terbuka di depan mata, ternyata bukan perjuangan singkat. Daftar pejuang dan pahlawan nasional yang kita baca dalam literatur sejarah, adalah salah satu bukti perjalanan panjang tersebut. Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Fatahillah, serta sederetan nama lainnya telah mengukir sejarah Indonesia dengan tinta emas. Mereka telah membaktikan kiprah mereka untuk membangun republik ini. Begitu pula dengan peran yang telah disumbangkan oleh kelompok cendikiawan dan kaum terpelajar diawal abad ke-20 yang nanti pada akhirnya menjadi cikal bakal perjuangan nasional.
Tanggal 20 Mei 1908, bisa dicatat sebagai pondasi awal pergerakan mahasiswa Indonesia dalam struktur dan mekanisme organisasi modern. Sejumlah pelajar dan mahasiswa yang sedang belajar di STOVIA saat itu, merasa perlu membangun sikap kritis terhadap kondisi bangsa Indonesia yang masih terbelenggu rantai penjajahan. Keresahan mereka untuk membangkitkan kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, mendorong mereka untuk mendirikan Boedi Oetomo. Pergerakan yang mereka munculkan berkembang pesat, bahkan hanya dalam satu tahun tepatnya di akhir tahun 1909 Boedi Oetomo telah memiliki 40 cabang dengan jumlah 10.000 anggota.
Pergerakan mahasiswa Indonesia pada dekade itu ternyata tidak hanya berkembang didalam negeri saja. Di Belanda, Mohammad Hatta yang pada saat itu sedang belajar di Handelshogeschool Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeninging pada tahun 1922 dan pada akhirnya berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1925. Hatta bersama kawan-kawannya saat itu sangat intens melakukan berbagai diskusi.
Selain Boedi Oetomo dan Indische Vereeninging yang dipelopori kelompok mahasiswa dan kaum terpelajar, pergerakan bangsa ini pun juga diwarnai dengan munculnya Indische Partij yang menekankan prioritas perjuangan mereka untuk melontarkan propaganda kemerdekaan. Diwaktu yang bersamaan Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama serta Indische Sociaal Democratische Vereeninging yang berhaluan marxisme juga ikut bergelut dalam medan pergerakan dan perjuangan meraih kemerdekaan.
Lahirnya Boedi Oetomo, Indische Vereeninging, dan gerakan terorganisir lainnya pada saat itu, adalah satu episode penting permulaan sejarah Indonesia yang ditandai dengan tampilnya generasi pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai garda terdepan. Estafet perjuangan terus bergulir seperti bola salju yang terus menggelinding, semakin lama semakin membesar. Kesadaran akan persatuan dan kesatuan bangsa untuk bangkit meraih kemerdekaan terus terpatri. Perbedaan suku, bangsa dan bahasa akhirnya melebur setelah sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan.
Prototipe Pergerakan Mahasiswa
Dalam perjalanannya, romantisme pergerakan mahasiswa tidak bisa lepas dari dua segmentasi dasar perjuangan. Seyogyanya dua sisi ini menyatu dalam diri seorang mahasiswa sehingga tercipta tokoh pergerakan yang cerdas dalam tataran konsep dan idealisme, sekaligus cakap mengarahkan arus pergerakan ditengah-tengah perubahan kehidupan sosial yang bergerak sangat cepat.
Pertama, mahasiswa sebagai kelompok elit masyarakat berbasis intelektual dan wawasan yang mumpuni, terus bergerak menggali berbagai potensi kecendikiaan. Intelektual muda dengan latar belakang sains yang berbeda adalah ciri utama mereka. Segala sesuatunya harus dukur dengan standarisasi rasional. Diskusi dan tukar fikiran adalah aktivitas harian yang selalu hangat dalam setiap obrolan. Mereka terus bergerak dalam poros pergerakan intelektual dan dunia akademis yang terus berkembang. Oleh karenanya prestasi akademis harus terus dipacu. Berbagai spesialisasi bidang ilmu harus melahirkan para doktor dan tenanga ahli yang tahan uji.
Kedua, Sosok mahasiswa adalah individu yang tidak terpisahkan dari komunitas sosial kemasyarakatan. Dinamika sosial pun sudah tentu harus menjadi dinamika mereka. Sangat naif jika seorang mahasiswa tidak pernah memberikan kontribusi positif buat masyarakat disekitarnya. Apalagi jika tidak pernah berinteraksi serta tidak peduli. Seorang mahasiswa dalam tataran ideal harus menjadi aktor utama perubahan dan pergerakan sosial. Inderanya selalu peka dengan perubahan sekitar, ia selalu terpanggil untuk memberikan solusi. Bahkan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan pun mereka tidak gentar untuk meneteskan peluh dan darah mereka demi membebaskan republik ini dari belenggu penindasan dan penjajahan.
Saya kira siapapun tidak berbeda pendapat tentang dua dimensi dasar karakter pergerakan dan perjuangan mahasiswa diatas. Namun kita akan mulai berbeda pendapat ketika dihadapkan pada realita pluralisme ideologi dan kepentingan yang diusung sebuah pergerakan apapun. Begitu juga dengan pergerakan mahasiswa sepanjang sejarah bangsa ini juga tidak bisa dilepaskan dari pergolakan dan pertarungan ideologi yang diusungnya. Terkadang kepentingan pada saat-saat tertentu atau kondisi yang mengharuskan, membuat gerakan mahasiswa tidak bisa dilakukan dalam satu pola saja.
Sejarah mencatat, rentang waktu antara tahun 1920 – 1945 gerakan mahasiswa hanya terkonsentrasi pada diskusi-diskusi seputar diskursus kebangsaan seperti yang dilakukan oleh Soetomo yang mendirikan Indonesische Studie-club pada tanggal 29 Oktober 1924. Atau apa yang dicetuskan Soekarno dan beberapa rekannya di Sekolah Tinggi Teknik Bandung yang berhaluan nasionalis ketika mendirikan Algemeene Studie-club pada tanggal 11 Juli 1925.
Mari kita coba bandingkan tatkala pergerakan mahasiswa memasuki era 45-an. Sikap penjajah Belanda yang liberal akhirnya melatar belakangi perubahan kebijakan pergerakan dari kelompok studi dan kajian menjadi kekuatan politik dalam bentuk partai dengan tujuan untuk memperoleh basis massa yang lebih luas. Penjajah Belanda cukup memberikan kebebasan bergerak yang cukup pada saat itu. Situasi akhirnya berbeda ketika Jepang berkuasa. Pergerakan mahasiswa yang sudah mengarah kepada pergerakan politik di berangus oleh Jepang. Kegiatan dan aksi yang berbau politik dilarang. Seluruh organisasi pelajar dan mahasiswa dibubarkan sehingga sempat terjadi insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang berujung ketika beberapa mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.
Praktis, akibat situasi yang tidak kondusif untuk melakukan pergerakan massif dan terbuka akhirnya mayoritas pergerakan mahasiswa kembali terfokus kepada kelompok studi dan kajian strategis dengan mengambil tempat asrama-asrama mahasiswa sebagai pusat kegatan. Tercatat dalam sejarah, ada tiga asrama mahasiswa yang terkenal berperan besar melahirkan sejumlah tokoh nasional era 45-an. Tiga asrama itu adalah asrama Menteng Raya, asrama Cikini dan asrama Kebon Sirih. Barangkali nama Chairul Saleh dan Sukarni yang terkenal dalam sejarah dengan peristwa Rengasdengklok, adalah mereka yang mewakili era gerakan bawah tanah pada saat itu.
Pasca kemerdekaan spirit pergerakan mahasiswa mulai berubah haluan. Banyak aksi mahasiswa berlindung dibawah payung partai-partai politik. Persoalannya bukan berarti gerakan mahasiswa tidak boleh berafiliasi kepada ideologi atau partai tertentu. Yang menjadi masalah adalah, ketika fanatisme kelompok diangkat diatas kepentingan nasional bangsa ini. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) lebih dekat dengan PNI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan partai NU, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dekat dengan PSI atau Himpunan Mahasiswa Islam yang saat itu dekat dengan Masyumi.
Gerakan Mahasiswa dan NKK/BKK
Kontribusi gerakan mahasiswa terhadap pembangunan bangsa pasca kemerdekaan sampai tahun 1978 sangat nyata. Bahkan orde baru yang baru saja runtuh, kelahirannya di bidani oleh gerakan mahasiswa yang dikenal dengan sebutan angkatan ’66. Para aktivis mahasiswa era ini akhirnya menjadi tokoh nasional dan pemegang kebijakan pemerintahan. Beberapa nama seperti Akbar Tanjung, Cosmas Batubara dan Sofyan Wanandi adalah tokoh nasional yang mewakili angkatan 66.
Namun realitas berbeda ketika memasuki era 70-an. Orde baru yang berkuasa saat itu mulai mendapatkan kritikan dan protes mahasiswa. Konfrontasi fisik pun tak terelakkan. Orde baru yang didukung militer berusaha menjadi tameng orde baru. Mahasiswa menilai Golkar sudah mulai melakukan kecurangan. Bahkan beberapa kebijakan pemerintah sudah dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil. Privatisasi dilakukan disana sini. Imbasnya lahir gerakan ‘Mahasiswa Menggugat’ yang dipelopori Arif Budiman serta Wilopo yang membentuk Komite Anti Korupsi.
Sampai tahun 1974 berbagai peristiwa terjadi. Akibat kekecewaan terhadap pemerintah, lahirlah Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dipelopori oleh Arif Budiman dan Adnan Buyung Nasution dan puncak kekecewaan tersebut terjadi pada peristiwa Malari pada tanggal 15 Januari 1974. Mahasiswa pada saat itu harus berhadapan dengan kekuatan militer yang ditunggangi pemerintah yang berkuasa. Akhirnya nyaris pasca peristiwa tersebut blantika pergerakan mahasiswa sepi.
Akhirnya gerakan massif mahasiswa terjadi lagi pasca pemilu 1977, sampai pemerintah membentuk tim dialog pemerintah yang akan berkampanye di perguruan-perguruan tinggi. Saat itu kampus-kampus diduduki oleh militer. Puncaknya adalah dikeluarkannya SK No.0156/U/1978 tentang NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Penerapannya dilakukan secara paksa oleh pemerintah. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim.
Akibatnya, peran dan gerakan mahasiswa dalam skala intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan komunikasi politik menjadi lumpuh. Mahasiswa semakin apatis sementara rezim penguasa semakin kuat. Akhirnya pergerakan mahasiswa banyak menyusup kedalam gerakan-gerakan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat yang dianggap tidak tersentuh kekuatan refresif penguasa.
Harapan kembali muncul ketika NKK/BKK dihapuskan oleh Mendikbud Fuad Hasan diawal 90-an. Sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) yang menyatakan bahwa hanya Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang diakui sebagai organisasi intra kampus. SMPT membawahi SMF (Senat Mahasiswa Fakultas) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Pro kontra tidak sedikit terjadi karena konsep ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep NKK/BKK sebelumnya.
Ternyata gerakan perjuangan mahasiswa pasca kemerdekaan justru selalu berhadapan dengan rezim penguasa. Status quo yang begitu kuat sangat sulit diruntuhkan karena penguasa di back up oleh militer yang seharusnya netral. Ketika kita balik lembar sejarah bangsa ini, ternyata pergerakan mahasiswa kembali mencapai puncaknya ketika rezim orde baru berhasl diruntuhkan pada tanggal 22 Mei 1998 yang dikenal dengan gerakan reformasi.
Reformasi dan Reformulasi Gerakan Mahasiswa Menurut Perspektif ‘Saya’
Saya sebenarnya tidak ingin memberi penilaian terhadap kontribusi pergerakan mahasiswa Indonesia sepanjang sejarahnya. Namun dari realita yang ada, saya terpaksa harus mengatakan bahwa pergerakan mahasiswa selalu bergerak dari pondasi yang keropos. Isu yang selalu bisa menyatukan adalah ketika mereka harus berhadapan dengan common enemy (musuh bersama). Seperti yang dilakukan gerakan mahasiswa pra kemerdekaan melawan penjajah dan tatkala mereka harus secara bersama meruntuhkan tembok orde baru yang korup.
Sayangnya, idealisme murni pergerakan mereka sangat mudah tercemari pasca aksi bersama. Terlebih ketika harus berhadapan dengan kedudukan dan janji-janji materil yang menggiurkan. Menurut saya, hal ini adalah salah satu bentuk kemunafikan pergerakan. Akibatnya, proses pembangunan peradaban akan semakin lambat menuju puncaknya. Kita perlu menemukan solusi serius kearah itu dan merupakan suatu hal yang tidak mustahil untuk dilakukan.
Ketika kita berbicara tentang reformasi pergerakan maka sebanarnya kita sedang membicarakan karakteristk dasar seorang aktivis pergerakan sejati. Dan ketika kita ingin membincangkan reformulasi gerakan maka sejujurnya kita sedang membicarakan cita-cita luhur seorang aktivis pergerakan sejati. Agar pergerakan mahasiswa selalu positif dan terarah, maka menurut saya perlu dibangun terlebih dahulu karakter dan keperibadiannya. Nilai-nilai kebaikan universal harus terbentuk terlebih dahulu. Kejujuran, kerja keras, solidaritas, kematangan emosional, kematangan spiritual, dan sebagainya harus terbina dengan baik. Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah sebuah pergerakan semu yang dihiasi dengan kepentingan-kepentingan sesaat.
Oleh karenanya, saya lebih cenderung untuk menerapkan teori pembinaan pribadi menurut perspektif Islam sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabat-sahabatnya dijalan dakwah. Hal ini dapat kita buktikan dengan keberhasilan Rasulullah saw melakukan perubahan-perubahan besar sejarah manusia yang masih kita rasakan pengaruhnya hingga hari ini. Kurun waktu yang relatif singkat dalam akumulasi masa 23 tahun ternyata begitu kokoh dan mengakar sebagai pondasi peradaban Islam hingga hari ini.
Pembinaan tiga dimensi diri yang meliputi fisik, spritualitas dan intelektualitas secara terencana dan terevaluasi adalah solusi kongkrit untuk melahirkan aktivis pergerakan mahasiswa yang maju dan modern. Ketimpangan salah satu sisi diatas justru akan melahirkan sosok aktivis mahasiswa yang berkepribadian hipokrit. Disamping itu, formulasi pergerakan pun harus jelas. Formulasi meliputi tahapan-tahapan kerja, tujuan dan target baik tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Gerakan pun harus diarahkan kepada pencapaian target membangun masyarakat madani yang beretika, berilmu dan maju. Menurut saya, jika hal itu belum mampu kita formulasikan maka gerakan apapun sifatnya akan selalu berumur pendek. Wallahu a’lam.
Baca Lanjutannya…

Oleh: jokosumaryono | Mei 30, 2009

Cerita Terjemahan Dari 50 Seri Kisah Teladan

( 1 ) Kisah Sang Pembawa Sampah

Ketika hari masih sangat pagi sekali, terlihat seekor singa telah berjalan dengan begitu gagahnya keluar untuk mencari makanan yang akan ia suguhkan buat anggota keluarganya yang lain.
Ketika hewan-hewan yang lain mellihatnya, semuanya lari terbirit-birit karena ketakutan bahkan ada yang bersembunyi dibalik pohon-pohon.
Dengan menggigil karena takut seekor kera berkata: “Sungguh kuat sekali singa ini, aku sangat takut sekali kepadanya!”.
Seekor rusa betina yang lain berkata: “Ketika aku melihatnya, aku pun merasa sangat takut. Dia bisa saja menerkamku dan melumatku dalam waktu secepat kilat”.
Kemudian seekor Zebra menimpali: “apalagi kami, zebra adalah makanan kesukaan yang sangat disenangi oleh singa. Sudah sangat banyak sekali anggota keluargaku dan kaumku yang sudah masuk kedalam perut singa ini”. Kemudian zebra itu menghentikan kata-katanya dan menangis. Ia teringat dengan seekor zebra yang juga temannya telah dimangsa oleh singa ini.
Seekor jerapah lalu berkata: “singa ini selalu pulang kerumahnya membawa binatang buruan yang sangat banyak yang kemudian mereka makan sekeluarga bersama istri dan anak-anaknya. Mereka terlihat bahagia dengan itu semua”.
Setelah semuanya selesai berbicara, berkata seekor musang: “singa ini memang benar-benar kuat saudaraku dan kalian semua pasti takut kepadanya”.
“Ya, aku tahu semua kita takut untuk dijadikan makanan lezat singa ini”.
“Tetapi aku bisa menyuruhnya membawakan sampah yang ada dirumahku”.
Mendengar perkataan sang musang, hewan-hewan yang lain tertawa terbahak-bahak. Kera kemudian berkata: “bukannya maksudmu engkaulah yang akan bertugas untuk mengangkut dan membuang sampahnya sebagai upah agar ia tidak memangsamu?”.
Kemudian dengan suara lantang dan menggema sehingga terdengar oleh seluruh hewan dihutan tersebut ia berucap: “Tidak, saya akan membuatnya mau membawakan sampah dirumah saya. Dan akan kuperlihatkan kepada kalian semua singa ini akan berjalan dibelakangku sambil membawa sampah-sampah yang ada didalam rumahku. Tapi beri aku waktu untuk mewujudkan itu semua”.
Hewan-hewan yang lain menjawab: “tentu saja sangat tidak merugkan kami hanya sekedar menunggu waktu. Oke, perlihatkanlah nanti apa yang akan engkau lakukan wahai musang”.
Ditengah jalan yang biasa dilewati oleh sang singa sehabis berburu seharian menuju kerumahnya membawa hasil buruannya, musang tadi menyapanya dengan suara yang sangat rendah: “Tuan singa yang sangat kuat, setiap hari aku memperhatikanmu berangkat pagi-pagi sekali untuk berburu mangsa dan pulang dalam kondisi yang sangat capek ditengah teriknya matahari memikul hewan buruanmu”.
Singa memandang kearah musang dengan penuh kemarahan yang terlihat dikedua matanya. Kemudian ia berkata: “Lalu apa urusan kamu?”.
Sebelum singa tersebut bertambah maraj, lalu musang berkata: “aku termasuk salah seorang yang sangat mengagumimu wahai singa”.
Seketika kemarahan singa mulai reda kembali lalu berkata: “terimakasih musang. Yang penting apa yang kamu inginkan sekarang wahai musang, aku lelah sekali dan ingin cepat pulang untuk istirahat”.
“Aku tidak menginginkan apa-apa. Hanya saja aku ingin melakukan sesuatu sebagai ungkapan pujian untukmu wahai singa”.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”.
“Begini, aku hanya ingin engkau istirahat dan santai-santai saja dirumah. Tunggu saja dirumahmu, akan ada yang mengantarkan makanan setiap hari yang dapat mencukupi buatmu sekeluarga. Engkau pun dapat menghemat tenaga dan kekuatanmu. Raja seperti dirimu sudah seharusnya memiliki pembantu yang mengurusi semua kebutuhanmu dan tidak merepotkan dirinya sendiri berburu untuk mencari makanan pergi sejak pagi hari, berlari kesana kemari ditengah hutan”.
Ternyata kata-kata yang diungkapkan sang musang telah merasuki fikiran singa, lalu ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Lalu kapan engkau mulai mengantarkan makanan yang lezat itu kepadaku wahai musang?”.
“Mulai besok pagi akan datang makanan untukmu wahai tuanku”.
Kemudian singa pulang kerumahnya dengan fikiran tak menentu, lalu ia melemparkan begitu saja binatang buruannya tanpa melihat istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Ia membiarkan mereka makan, sementara ia duduk ditempat lain sambil berfikir.
Istrinya kemudian datang dan bertanya kepadanya: “apa denganmu? Tidak biasanya sikapmu seperti ini”.
“gak ada apa-apa kok, aku hanya merasa lelah dan bosan berburu terus. Sebenarnya tidak pantas bagi singa sekuat aku untuk capek-capek mencari hewan buruan untuk dimakan seperti sekarang ini”.
“Lantas kita nanti mau makan apa?”.
“Mulai besok, ada seekor musang yang akan datang mengantarkan makanan dan aku akan santai saja dirumah. Musang itu sangat menghormati aku”.
“Akan tetapi kenapa musang itu mau melakukan semua itu agar kamu tidak capek-capek dan hanya istirahat saja dirumah?”.
“Itulah yang namanya takjub. Engkau sendiri tidak tahu kedudukan suamimu ini”.
“hmm…aku tidak yakin”.
Akhirnya keesokan harinya musang mulai mengantarkan makanan berupa daging yang sangat segar yang ia curi dari rumah tetangganya si macan hampir selama satu minggu.
Singa tersebut akhirnya pergi istirahat dan bangun sudah terlambat. Ketika ia membuka pintu, setumpukan daging sudah berada disana. Dengan penuh semangat daging itu diambilnya dan ia makan bersama seluruh anggota keluarganya.
Ketika sang musang merasa singa itu sudah mulai dirasuki rasa malas untuk keluar rumah mencari buruan dan sangat tergantung dengan bawaan daging yang dibawanya setiap hari secara perlahan-lahan ia mulai memperlambat waktu mengantar daging tersebut kerumah sang singa. Hingga akhirnya, ia baru mengantarkan daging-daging tersebut setelah waktu zuhur.
Istri singa kemudian berkata kepadanya: “musang sekarang sudah mulai datang terlambat untuk mengantarkan daging-daging makanan kita. Sementara anak-anak kita sudah merasakan lapar”.
“Bisa jadi musang itu berhalangan. Diamlah! Sepertinya engkau tidak suka melihatku istirahat dirumah!”.
“Akan tetapi siapa yang akan datang membawakan daging-daging tersebut sekarang?”.
“Tidak penting bagiku, yang penting daging-daging lezat itu pasti akan datang”.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya musang muncul dengan terseok-seok memikul daging. Singa bertanya kepadanya mengapa ia terlambat. Ia dan anak-anaknya sudah sangat lapar sejak tadi pagi. Kemudian musang itu berteriak dihadapan sang singa: “setiap urusan apapun pasti ada kendalanya. Sekarang ambil daging ini, makanlah dan diam!”.
Singa tersebut akhirnya menundukkan kepalanya dan mengambil daging tersebut dan masuk kedalam rumah sambil duduk ia makan bersama seluruh anggota keluarganya. Lalu singa itu berkataL: “Demi Allah, musang itu sudah rela capek untuk sekedar menyediakan makanan buat keluarga kita”.
Istrinya memandang dengan perasaan terharu karena kesedihan yang meliputi hati sang suami.
Nah, pada hari yang sudah direncanakan, akhirnya musang mengumumkan kepada seluruh penduduk hutan bahwa saatnya ia akan memperlihatkan kepada mereka bahwa ia bisa memerintahkan singa yang terkenal garang itu untuk berjalan dibelakangnya sambil memikul sampah-sampah yang terdapat didalam rumahnya.
Musang pada hari itu sengaja datang terlambat mengantarkan daging ke rumah sang singa sehingga rasa lapar sudah begitu menghantui fikiran singa. Musang datang sambil membawa satu plastik yang berisi sampah. Ketika ia bertemu dengan singa, ia melempar plastik sampah tersebut sambil berkata: “Singa…ikuti aku sekarang supaya engkau dapatkan daging buat makananmu!”.
Akhirnya singa tersebut mengambil plastik yang berisi sampah, memikulnya dan berjalan dibelakang musang. Seluruh penduduk hutan menyaksikan itu semua dan hampir mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seekor singa yang kelihatan kusut sambil menbawa plastik sampah berjalan dibelakang seekor musang yang berjalan tegap sambil mendongakkan kepalanya.
Musang pun sengaja mengajak sang singa berjalan ditengah jalan yang diliputi terik matahari yang sangat panas yang jauh dari pepohonan sehingga seluruh hewan bisa melihatnya dengan jelas.
Ditengah perjalanan, singa melihat bayangannya yang besar berjalan dibalakang seekor musang. Hatinya terasa sangat sedih. Sekarang dia baru sadar, bahwa kemalasannya selama ini telah merendahkan dirinya ketika ia hanya mengharapkan makanan yang selalu diantar oleh sang musang.
Sesampainya dirumah, singa itu duduk sambil berfikir panjang. Lalu kemudian ia bangkit dan berkata kepada istrinya: “besok pagi-pagi aku akan berangkat berburu lagi untuk mencari makanan buat kita sebagaimana yang telah aku lakukan sebelumnya”.
Paginya, singa berjalan dengan pasti untuk pergi berburu. Ketika hewan-hewan yang lain melihatnya, mereka lari bersembunyi dibalik pohon-pohon karena takut. Musang pun akhirnya ikut bersembunyi karena takut.
Kera berkata kepada musang: “Aneh…sekali wahai musang, kemarin engkau berhasil membuat singa itu patuh berjalan dibelakangmu sambil membawa sampah, tapi sekarang justru engkau pun bersembunyi karena takut”.
Musang menjawab: “Kemarin akulah yang memberinya makan, akan tetapi pada hari ini dia sudah mulai kembali beraksi sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas:
1. Musang mengajarkan kepada kita bahwa kamu tidak akan bisa menundukkan orang lain hanya dengan menggunakan otot dan kekuatan saja. Dengan akal dan fikiran memungkinkanmu untuk mengalahkan musuh-musuhmu.
2. Dalam cerita tersebut kita bisa belajar bagaimana cara mengatasi persoalan yang sedang dihadapi. Misalnya bagaimana mengatasi temanmu yang sering usil, atau bagaimana cara membeli mainan baru yang kamu sukai, atau bagamana cara menambah waktu bermainmu tanpa harus mengganggu jam pelajaranmu.

(Diterjemahkan dari buku “50 Qishah Tahkiha Li Thiflik” karya Dr. Abdullah Muhhamad Abdul Mu’thi)

Oleh: jokosumaryono | Mei 30, 2009

Kelinci Yang Cerdas

( 2 ) Kelinci Yang Cerdas

Suatu hari seekor kelinci berdiri ditepi pantai disebuah selat kecil melihat-lihat ikan yang berenang dan bermain didalamnya. Ia melihat ikan-ikan tersebut berenang dengan mudah. Kehidupan ikan-ikan tersebut sangat menarik perhatiannya. Kemudian diwaktu yang sama, ia layangkan pandangannya keatas dan ia melihat burung-burung beterbangan leluasa dari pohon ke pohon. Ia terbang begitu bebas mengepakkan sayapnya diangkasa sambil beranjak dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Pemandangan itu membuatnya takjub dan kagum.
Kelinci tadi berkata: “…sangat berbahagia sekali burung-burung dan ikan itu. Kelinci tadi semakin mendekatkan dirinya ketepi laut, kemudian dia memanggil ikan yang ada didalamnya: “Batapa bahagianya hidup kalian wahai ikan-ikan yang cantik…kalian bermain dan bergelut didalam sana…”.
Salah satu ikan lalu berkata: “Engkaupun kan seperti itu wwahai kelinci, engkau juga bebas bermain dan melompat kesana kemari.
“Akan tetapi melompat didalam air pasti lebih mudah”
“Kamu juga kan seperti itu wahai kelinci…engkau dengan leluasa bergerak dan masuk diantara pohon dan tanaman hijau serta bunga-bunga yang indah, sementara kami hanya bisa bermain didalam air”.
“aku juga ingin berenang seperti kalian didalam air”.
“Kamu kan bisa bermain dipinggir pantai yang airnya dangkal. Kalau kamu mau main di air yang dalam itu berbahaya dan membuatmu bisa tenggelam”.
“Lalu kenapa engkau tidak bisa tenggelam?”.
“Allah sudah mentakdirkanku untuk hidup didalam air”.
“Akan tetapi aku ingin sekali menyelam didalam air seperti kalian”. Ia kemudian semakin masuk kedalam air.
Ikan-ikan yang berada di dalam air berteriak semua: “kembali wahai kelinci…jangan masuk ke air yang dalam ini”.
Akan tetapi kelinci itu tidak menggubris larangan ikan-ikan tersebut dan terus masuk kedalam air. Ia mulai bermain dan terlihat sangat gembira. Tapi, ia tidak sadar bahwa air sudah mulai memasuki hidungnya dan mulai kesusahan untuk bernafas. Barulah ia mulai berrteriak: “Tolong…! Tolong…! Saya tenggelam”.
Ikan-ikan yang berada didalam air saling menyahut dan bekerjasama untuk membantu sang kelinci keluar dari air menuju tepian pantai.
Ikan-ikan itu kemudian berkata: “akan tetapi kami tidak bisa menolongnya sampai kedaratan. Nanti kami akan panggil teman kami sikucing”.
Kucing dengan cepat datang dan memberikan pertolongan yang dibutuhkan lalu membawa kelinci tersebut pulang ke rumahnya.
Setelah beberapa saat, kelinci tadi mulai sadar dan kembali normal lalu ia berkata: “terima kasih wahai saudara-saudaraku, kalian telah menyelamatkan hidupku. Tadi hampir saja aku mati”.
Kemudian sang kucng bertanya kepada kelinci: “apakah engkau akan mencoba kembali lagi kedalam air wahai kelinci?”.
“Tidak, akan tetapi aku berencana untuk belajar terbang”.
“Bagaimanapun engkau tidak akan bisa terbang wahai kelinci”.
“Aku akan membuat sayap buatan yang membantu aku terbang. Kan sudah tidak ada ancaman lagi untuk tenggelam didalam air”.
“Akan tetapi bahayanya adalah engkau bisa jatuh nanti”.
“Hmm..aku akan tetap berusaha”.
“Engkau ternyata tidak mau mendengarkan nasehat wahai kelinci. Lakukanlah sesuka hatimu!”.
Kemudian sang kelinci mengumpulkan bulu-bulu ayam sahabatnya. Kemudian bulu-bulu tersebut ia ikatkan dikedua belah tangannya lalu pergi menuju kesebuah pohon. Setelah sampai diatas pohon lalu ia memanggil merpati-merpati yang sedang terbang
“Hai sahabatku merpati… sekarang aku bisa terbang seperti kalian…”.
“Wahai kelinci…untuk terbang tidak cukup hanya dengan dua sayap saja akan tetapi..”
Sang kelinci dengan marah memotong nasehat merpati-merpati tersebut sambil berkata: “jangan coba halangi aku untuk bisa menikmati terbang seperti kalian wahai merpati…”.
“Terserah engkau kelinci, silahkan aja panjat pohon itu…!”.
Kelinci itu pun akhirnya memanjat pohon dengan susah payah kemudian ia berdiri disamping merpati yang sedang bertengger. Kemudian ia berkata:
“Indah sekali ya pemandangan alam jika dilihat dari atas. Mungkin akan lebih indah lagi kelihatannya jika aku terbang diangkasa”.
Merpati pun akhirnya pergi terbang meninggalkan pohon tersebut. Sang kelinci pun mulai menggerakkan kedua sayap buatannya dengan cepat. Merpati tadi semakin tinggi terbang diangkasa. Akan tetapi naas, kelinci tadi jatuh kebawah seperti batu yang terlempar. Teriakannya terdengar menggema: “Ah…tulangku patah…!”.
Kucing kemudian datang membantu dan membawanya kembali kerumah seperti tadi. Setelah lebih kurang dua bulan berobat, kelinci tadi sudah menunjukkan ciri-ciri sehat seperti sedia kala.
Ketika masih sakit, kucing datang berkunjung kerumahnya dan mengucapkan ucapan semoga lekas sembuh. Kelinci kemudian berkata kepadanya:
“Terima kasih sahabatku kucing. Engkau telah berbuat banyak untukku. Bahkan engkau telah menyelamatkan hidupku sebanyak dua kali”.
“Yang penting engkau sudah sembuh. Untuk kedua kalinya engkau hampir mati wahai kelinci”.
“Sebenarnya dulu itu saya sangat ingin sekali bisa menikmati bagaimana rasanya menyelam dan terbang seperti ikan dan burung”.
“Wahai kelinci, jangan sekali-kali engkau memandang nikmat dan kelebihan yang dimiliki orang lain. Coba fikirkan, ikan-ikan itu sama sekali tidak bisa hidup kecuali didalam air. Jika ia memaksakan dirinya hidup selain di air maka ia akan langsung mati. Demikian juga dengan burung, mereka tidak bisa membuat rumahnya diatas tanah, sebah tanah bukanlah tempat yang sesuai dengan fitrah mereka. Nikmatilah dunia luas yang ada disekelilingmu ini. Nikmatilah perkebunan, taman bunga serta gunung-gunung yang terbentang. Wahai kelinci yang cerdas engkau harus bisa mensyukuri dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu sehingga engkau akan meraih kebahagiaan yang tak terkira”.
Hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas:
1. Wahai anak-anaku…belajarlah dari kelinci yang cerdas diatas untuk tidak selalu melihat kelebihan yang dimiliki orang lain sehingga dengan demikian badan dan fikiranmu akan sehat.
2. Agar engkau semakin merasakan nikmat Allah kepadamu, mari kita hitung bersama-sama nikmat yang telah kita miliki yang tidak dimiliki oleh selain kita seperti burungburung, hewan darat dan serangga. Juga yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya seperti tetangga kita, sahabat dan sebagainya.

(Diterjemahkan dari buku : “50 Qishah Tahkiha Li Thiflik” Karya Dr. Abdullah Muhammad Abdul Muthi)

Oleh: jokosumaryono | Mei 27, 2009

Cinta..Sini Kita Belajar Bersama

Ujian semester 2 dimusim panas ini cukup menjadi sebuah tantangan bagi siapa saja mahasiswa/i Indonesia di Cairo. Terutama suhu di kota Cairo yang tidak bersahabat disiang hari membuat siapa saja yang keluar rumah antara jam 11 siang sampai jam 5 sore akan mengernyitkan dahi. Alhamdulillah rumah kami yang posisinya dilantai dasar sangat membantu membuat cuaca didalamnya cukup sejuk ditengah terik matahari diluar sana.
Bidadariku terlihat sibuk membolak balik sebuah ringkasan pelajaran yang ia pegang sejak kemarin siang ia menyelesaikan salah satu materi ujiannya. sesekali ia buka buku aslinya untuk mencocokkan antara ringkasan dan karangan profesornya. Sesekali ia telusuri kamus untuk mencari kosa kata yang tak dipahami.
Aku salut dengan kegigihannya saat ini yang menurutku jauh lebih meningkat dari waktu-waktu sebelumnya.Terkadang Dengan susah payah sambil menggendong si bungsu kami Fatih, ia terus membaca dan membolak balik lembaran resume itu dengan harapan malam itu ia bisa menyelesaikan hafalannya.
Lalu aku menghampirinya dan berucap: “…Sayang ada yang gak tak bisa dipahami? sini abi terangkan” Ia tersenyum haru dan menandakan bahwa memang ada beberapa poin penting yang belum maksimal ia pahami dan sejak tadi berharap aku bisa membantu memahamkan baris demi baris materi pelajaran yang akan diujiakan tiga hari lagi itu.
Menapaki perjuangan apapun memang berat! air mata, darah bahkan jiwa sekalipun akan dikorbankan demi terwujudnya asa. Tak peduli pandangan manusia, karena bagi mereka yang didalam dadanya bergemuruh semangat juang hanya satu tujuan; ALLAH!
Terkadang banyak yang tidak sabar ketika diuji dalam perjuangan ini. Terkadang banyak godaan diseberang sana yang melambai. Terkadang rasa pesimis menyelubungi jiwa…Tapi tidak bagi mukmin yang yakin bahwa kehidupan dunia adalah ladang amal untuk dipetik diakhirat. Baginya, pesimis adalah sikap pecundang yang hatinya lemah. Dan dia selalu sadar bahwa setiap kata dan laku yang ia wujudkan adalah ibadah!

Oleh: jokosumaryono | Februari 17, 2009

Antara Fida’ dan Fatih

Dua insan mungil itu berebut untuk mendapatkan pandangan mata sang ayah yang baru saja pulang dari perjalanan dakwah. Fida si sulung dengan celotehannya yang masih tak dipahami seolah ingin meluapkan berbagai cerita dan pengalaman yang ia alami selama kepergian sang ayah. Tak ketinggalan sang adik; Fatih juga tengah bersusah payah memutar kedua tangannya ke atas dan ke bawah sambil tersenyum lebar yang membuat siapa saja pasti gemas melihatnya.

Sang Ayah yang sangat lelah sebenarnya langsung menggendong kedua manusia mungil itu kedalam pelukannya. Kecupan bergantian pun mendarata ke pipi sang abang dan adeknya yang belum mampu duduk itu. Sambil tersenyum sang ibu pun datang dari dapur dengan secangkir teh hangat kesukaan sang suami jika baru pulang dari luar.fida-terbang

Tulisan Sebelumnya »

Kategori